close

Mondo Gascaro – Rajakelana

Mondo

Review overview

WARN!NG Level 9.7

Summary

9.7 Score

 

Label: Ivy League

Year: 2016

Watchful shot: “A Deacon’s Summer”, “Rainy Days on the Sidewalk”, “Oblivion, Oblivion!”

Dalam bincang-bincang dengan website kesayangan Anda ini, ia pernah berujar bahwa album perdananya memang tertunda cukup lama. Di samping faktor kesibukan mengurus side-project lain yang lebih kencang peredarannya (kolaborasi bersama Danilla Riyadi di sejumlah gig serta partisipasinya lewat original soundtrack Tiga Dara karya Usmar Ismail adalah dua contoh terkini), juga karena ia ingin menikmati setiap proses yang ada. Mengambil tiap nafas pelajaran dari langkah-langkah yang menjadi dasar tindakan; agar mampu menciptakan karya bernas. Keputusannya berbuah manis: sebuah album menyenangkan bertajuk Rajakelana yang rilis di pengujung tahun 2016. Menghapus penantian panjang yang dipupuk dari sanubari.

Banjir pujian meramaikan keberadaan Rajakelana. Media-media, entah online maupun cetak memasangnya di urutan teratas album lokal terbaik. Jika Sinestesia berperan membuka gemerlap waktu, maka Rajakelana menutupnya dengan kekhidmatan. Tak butuh waktu lama bagi pendengar untuk langsung meresapi lagu-lagunya. Tapi memang benar. Rajakelana bukan sekedar album biasa yang menggenapi keluarnya rilisan terdahulu. Hadirnya menitipkan titik klimaks yang memuaskan sekaligus suatu upaya pengusiran kebosanan terhadap folk yang begitu saja atau rock yang kian berjalan di tempat.

Sepuluh tembang menyatu padu dibalik kesempurnaan tata konsep yang dirancang Mondo Gascaro. Singkirkan sejenak asumsi-asumsi yang menyeret keberlangsungan karirnya selepas keluar dari SORE. Sekarang, waktu miliknya tersedia penuh tatkala bumbu-bumbu diracik sesuai kapabilitas dan isi otak kreatifnya tanpa perlu merasa terkekang sekat kompromi. Ia mempunyai kebebasan mutlak. Sebebas pergerakannya singgah dari satu kota ke kota lainnya demi memperoleh atmosfer intim dan pendamping musik yang sepaham.

Kemampuan Mondo dalam meramu komposisi memang tak perlu diragukan lagi. Rajakelana merupakan medium tepat untuk menyandingkan pop berbalut retro dengan desiran surf yang manis, atau kocokan jangle yang liar serta sedikit sentuhan minimalis Brazillian jazz hingga Japaneese pop. Kecermatannya tinggi. Ia berhasil meneteskan senyawa-senyawa itu tanpa harus kekurangan sudut proporsional. Sebagai contoh, dengarkan saja “Sanubari” yang mengalami agresi tempo seakan mengajak bergoyang waltz di tengah lagu. Atau “In The Clouds, Out of The Ocean” yang sarat instrumental ala ketukan Getz dan Jobim di The Girl From Ipanema.

Jika Anda menyebut Rajakelana adalah album cita romansa, pendapat Anda tidak salah. Mondo nampaknya paham dan mengerti bagaimana transformasi hidupnya turut mengubah gaya bermusiknya yang cenderung bersayap melankolia. Layaknya disirami keriaan dari apa yang menjadi esensi rasa di sekeliling. Semenjak di SORE pun lagu-lagu ciptaannya tak jauh dari pemaknaan frasa mengasihi yang dibuktikan secara besar-besaran di rilisan Ports of Lima.

Kekuatan album ini selain terletak lewat konsep yang sempurna, juga termaktub melalui transfer energi seorang Mondo yang tersampaikan menyeluruh kepada hadirin sekalian. Ia seolah sedang bercerita, mendongeng lepas, lalu membiarkan indera menyimpulkan sesuai kehendaknya. Jikalau gambaran betapa romantisnya menghabiskan senja di pengujung pantai yang dipaparkan oleh tembang “Dan Bila…”, berjalan menyusuri rimbunnya pepohonan kebun raya dengan “Naked”, sampai meracau sepuasnya lantas menatap penuh harap di bawah rintik hujan bersama “Butiran Angin” terdengar fana; Mondo justru membuatnya menjadi nyata.

Apabila deretan track di atas tak cukup, tiga balada berikut niscaya menambah lengkap daftar hidangan musim panas berikutnya; “A Deacon’s Summer”, “Rainy Days on the Sidewalk”, “Oblivion, Oblivion!”. Disusun berdasarkan intuisi Brian Wilson maupun Javier Di Granti, nomor-nomor tersebut merupakan akses utama bagi kerinduan untuk sepucuk es krim di tangan dan derap langkah yang tak ingin melewatkan momen sedikitpun. Kemudian di babak epilog, “Lamun Ombak” yang ia nyanyikan bersama Aprilia Sari dari White Shoes and The Couples Company menutup ekspedisi secara paripurna. Irama bossas yang dibalut lembutnya vokal Sari mengingatkan kharisma Ermy Kulit yang sedang dipandu kejeniusan Eros Djarot.

Rasanya perlu usaha keras untuk melenyapkan euforia Rajakelana. Kalau ditahbiskan monumental adalah suatu ekspresi yang berlebihan, maka eksepsional bisa menjadi pemahaman yang tepat. Tak usah berpikir dua kali untuk sekedar berucap positif atau menempelkan angka sembilan pada kolom resensi yang mungkin Anda rangkai. Tingkat kualitasnya teruji tanpa tedeng aling-aling yang memaksa diri memutarnya berkali-kali di playlist ciptaan sendiri.

Saya dapat meyakini bahwa proses tak pernah mengkhianati. Sempat berpikir perjalanan Mondo Gascaro akan berakhir cuma-cuma selepas lahirnya “Saturday Light” beberapa tahun silam. Tak ada kabar sejauh mana albumnya dikerjakan, semakin menebalkan anggapan aksinya mati di usia muda. Rupanya, pikiran itu salah besar. Belasan bulan ia melangsungkan petualangan. Baik spiritual atau kontekstual yang berkenaan dengan pandangannya. Menambal lubang memori, meraih tautan ironi, bahkan membuang tumpukan jerami angan ia lakukan dengan seksama yang menghasilkan sisi sentimentil bertuah imaji dalam cangkang Rajakelana. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.