close

Mondo Gascaro: Terlahir Kembali dalam Balut Roman Pribadi

IMG_7749
Mondo Gascaro
Mondo Gascaro

Ia kembali menapakkan kaki; dari lubuk hati dan kejujurannya untuk mencintai musik di waktu sekarang dan mendatang

Sabtu itu cuaca cukup cerah; gelembung awan menggumpal pekat menutup sinar mentari yang bersembunyi di baliknya. Jalanan di bilangan Kemang tidak terlalu ramai. Kemacetan hanya terlihat di beberapa titik sedangkan yang lain nampak lancar terkendali. Membuat akhir pekan terasa menyenangkan untuk sekedar berjalan menikmati sudut pedestrian.

Bertempat di sebuah pelataran artspace bernama Dia.Lo.Gue, saya bersiap melakukan sesi interviu bersama seorang komposer, solois dan mantan keyboardist Sore; Mondo Gascaro. Siapa yang tak kenal dengannya? Bagi penikmat musik sidestream pasti mengetahui sepak terjangnya yang sudah malang-melintang sejak lama. Eksistensinya terbentuk atas kualitas dan kepintarannya meramu bumbu dan racikan pop retro yang sendu akan kisah roman metropolitan. Tak terhitung berapa karya yang berhasil dibuatnya, entah saat bersama Sore ataupun seorang diri.

Beberapa bulan lalu, single terbarunya resmi keluar ke khalayak ramai. Adalah “A Deacon’s Summer” yang memecah kesunyian selepas kemunculannya pada “Saturday Light”. Ketukan yang ritmis, harmoni yang melagu serta lantunan vokal yang merdu merupakan ciri khas tersendiri yang tak bisa dipisahkan.

Dan kali ini WARN!NG berkesempatan bertukar pandangan dengannya. Mengenakan kemeja bermotif floral dan sebatang rokok di tangannya, ia bertutur tentang banyak hal. Mulai dari proses pengerjaan album terkini, inspirasi terbesarnya sampai kecintaannya untuk Jakarta yang membentuk integritas bermusiknya.

Sebagai pembuka sesi bincang-bincang ini, sudah sejauh mana pengerjaan album terbaru Mondo Gascaro?

Alhamdulilah ini sudah masuk ke tahap mastering. Semua materi udah gue kasih ke sana. Tinggal nanti apakah ada kekurangan atau enggak dalam tahapan sebelumnya. Semoga sih enggak ada ya.

Dalam menciptakan beragam komposisi lagu, apakah Mondo Gascaro tipikal musisi yang membiarkan semuanya mengalir atau menentukan konsep dan pola tertentu dalam menggali ide sebelum dituangkan ke bentuk lagu?

Kalau dari gue sendiri bisa jadi dua-duanya; tergantung situasi. Selain itu juga tergantung bagaimana project yang sedang dikerjakan. Kebetulan ini karena album pertama pengennya mengalir aja. Menjalankan proses pembuatan dan menikmati tahapan demi tahapan kehidupan yang gue lakukan sebagai inspirasi utama. Kalau menggunakan metode konsep mungkin belum sekarang. Tapi gue juga enggak menutup kemungkinan akan hal itu. Sekarang gue lagi pengen menggali pemahaman serta penguasaan based on tradition song writing. Meski ada nomor di album gue nanti yang formatnya full instrumental.

Lalu, mengapa album perdana ini membutuhkan waktu cukup lama—sekitar dua tahun—setelah kemunculan single “Saturday Light”?

Alasannya cukup sederhana. Gue adalah tipikal musisi yang santai; tidak terburu oleh waktu ataupun tenggat penyelesaian. Gue sangat senang sekali kalau harus diminta untuk berproduksi. Bener-bener menikmati. Karena bagi gue sendiri prose situ memang yang paling menyenangkan. Awalnya “Saturday Light” sama “Komorebi” itu ingin gue jadikan prolog album nanti. Tapi setelah itu gue dan tim berpikir kalau waktunya akan terlalu lama. Akhirnya dilepas dalam bentuk vinyl; jadi sesuatu yang spesial. Di sisi lain selepas tahun 2013 gue memang ada dan cukup banyak kesibukan. Bahkan sempat vakum juga pada waktu itu. Terus tahun ini diputuskan untuk memulai lagi mengerjakan album.

Siapa saja yang membantu proses pengerjaan album ini?

Banyak sekali yang berperan dalam pengerjaan album ini. Sangat berwarna. Ada Dimas Pradipta (Drum), Lafa Wibowo (gitar), Bayu Wibowo (bass), dan Belanegara Abimanyu (perkusi). Mereka ini yang hampir tetap nemenin proses gue dari awal sampai sekarang. Gue merasa beruntung dengan kehadiran mereka. Selain jadi session player, mereka juga berperan sebagai music director di proyek masing-masing. Jadi merasa terbantu karena wawasan terhadap musik sangat luas secara keseluruhan. Kemudian gue juga mengajak musisi tamu dari luar seperti Jay Afrisando, pemain saksofon tenor kontemporer dari Yogyakarta.

Mondo Gascaro
Mondo Gascaro

Jadi bisa dibilang musisi-musisi di atas merupakan pilihan Mondo sendiri?

Iya, benar sekali. Mereka adalah pilihan gue. Seperti halnya ada salah satu lagu di album nanti yang bakal dinyanyikan sama Sari Satje (White Shoes and The Couples Company). Dari awal gue udah ingin Sari membawakan lagu itu. Gue berpikir bahwa itu lagu memang pasnya cuma dinyanyiin sama Sari. Gue kontak dia dan bersyukur sekali Sari mengiyakan tawaran itu. Sama di “A Deacon’s Summer” yang jadi pengisi vokal latar itu Bonita. Karena gue mau teman-teman musisi yang ada di sini bisa membantu gue menyampaikan visi ataupun misi yang gue bawa ke dalam album baru kelak.

Saya sudah mendengarkan “A Deacon’s Summer” beberapa waktu lalu. Semacam mendengarkan The Beach Boys dengan altar Kalifornia berlatarkan soft rock sensual. Juga menggambarkan kebebasan Mondo dalam bermusik; pop catchy serta video klip yang merefleksikan makna personalitas.

Sebenarnya “A Deacon’s Summer” itu pelesetan dari lagu Steely Dan yang berjudul “Deacon’s Blues”. Di lagu itu Steely bercerita bagaimana seorang kutu buku, nerd, yang ingin punya nama keren. Penggalan liriknya turut menjelaskan makna filosofis lagu tersebut. Bunyinya seperti ini: They call Alabama the Crimson Tide//Call me Deacon Blues. Jadi Alabama itu nama football team yang selalu menang di tiap pertandingan. Nah, dari situ ada sebuah keinginan untuk menjadi keren. Sedangkan gue pengen juga bisa seperti Alabama ini. Lalu berbicara soal esensi di video klip, memang gue menginterpretasikan keinginan untuk bebas dan menikmati hidup. Bisa dilihat ketika gue jalan keliling kota sambil menghidupkan batang rokok dan melihat ramainya orang lalu lalang di jalan.

Mondo Gascaro dikenal juga sebagai komposer di beberapa film seperti Berbagi Suami, Modus Anomali, Perempuan Punya Cerita dan Arisan! 2. Apakah ada proyek scoring film lagi yang sedang dikerjakan?

Ada, kemarin diberi tawaran untuk mengerjakan scoring di film action comedy. Tapi untuk penayangannya masih belum tahu kapan. Selain itu gue juga ikut menyumbang satu lagu aransemen ulang dari filmnya Usmar Ismali yang kebetulan sedang direstorasi dengan format baru, Tiga Dara. Di proyek tersebut gue kolaborasi sama Danilla. Rencana besok tanggal 11 (Agustus) akan ada konsernya di Taman Ismail Marzuki.

Dalam film Pintu Terlarang arahan Joko Anwar, Mondo juga mengisi beberapa track. Saya terkesan dengan adegan sewaktu seorang Gambir yang diperankan Fachri Albar membantai ibu, istri dan kawannya pada sebuah jamuan makan malam. Di situ musik yang disusun Mondo begitu menghidupkan suasana kontradiktif tapi elegan.

Mengerjakan scoring film pada dasarnya merupakan bagian dari kolaborasi, kombinasi dan perpaduan dengan visi yang ingin disampaikan sutradara. Saling memberi masukan berupa ide, menimbulkan kecocokan lalu segera saja dikerjakan. Memang tidak bisa dielakkan ketika Gambir membantai seluruh peserta makan malam itu gue kasih backsong Christmas Eve. Sehingga bikin suasana kontras di family dinner saat merayakan Natal; berlumuran darah tapi lagunya happy, cheerfull.

Mondo Gascaro
Mondo Gascaro

Siapa inspirasi terbesar Mondo Gascaro dalam bermusik? Mendengarkan lagu-lagu Mondo saya melihat warna pop era 70’, ketukan samba ala Jobim sampai Javier di Granti.

Siapa ya? (berpikir sejenak) Sejujurnya banyak sih. Sulit menentukan juga karena banyak inspirasi masuk ketika gue ngerjain musik. Basically, gue terpengaruh The Beatles; secara filosofis maupun emosional. Ketika punya attitude, bebasin semua. Selain The Beatles, gue memang interest sama musik-musik Brazil ataupun Samba. Carlos Jobim, Joao Gilberto, Caetano Veloso. Terus ada juga komposer semacam Astor Piazolla. Juga lagu-lagu pop radio friendly tahun 70’ cukup memberi influence, karena gue besar dengan lagu-lagu itu.

Saya mendapati preferensi personal lewat lagu-lagu Mondo seperti “Saturday Light”, kental dengan nuansa romantik yang terjadi di antara dua insan. Membayangkan kedua orang itu berjalan di sekitar permadani urban sembari mengobrol dan mendengarkan musik bersama melalui walkman Sony klasik. Atau “Komorebi” yang cukup kentara pesan kasih terhadap keluarga. Juga “Deacon’s Summer” yang melantunkan tembang pencarian diri sesungguhnya.

Serius personal? (tertawa) Alhamdulilah, tapi basically gue adalah tipikal orang yang bukan banyak omong. Gue lebih suka mengekspresikan sesuatu dengan musik dan kata-kata. Gue punya musik seperti ini, kata-kata kaya gini. Sama halnya di “A Deacon’s Summer” itu ada lirik yang berbunyi: Look ahead this crazy little world of mine//Is breaking away. Jadi gue ingin menyampaikan first impression kepada pendengar.

Di antara lagu Mondo, saya menyukai “Saturday Light”. Semacam himne untuk menjalin kasih secara intim. Dari mana mendapatkan ide lagu tersebut?

Memang benar kalau gue menciptakan lagu tersebut buat sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Itu lagu berasal waktu gue sama Sarah (istri Mondo sekaligus pengelola Ivy League –red) lagi jalan di pantai, berada di atas tebing sambil dengerin Jobim juga.

Seberapa besar pengaruh Jakarta terhadap karya-karya Mondo?

Harusnya sih cukup besar. Biar bagaimanapun, meski kampret, kota ini jadi sumber inspirasi secara musical. Di tengah keramaian yang sangat urban juga penuh gejolak, gue merasa mencari ketenangan di sini. Ibarat kata, Jakarta ini New York-nya Indonesia; chaos tapi menyenangkan.

Termasuk saat Mondo menciptakan “Oh, Jakarta” untuk original soundtrack Arisan! 2. Semacam mampu menghadirkan keindahan Jakarta dalam balutan swing-bossas yang aduhai.

Gue besar di Cikini, masuk wilayah Menteng. Menteng itu salah satu kota lama, kota tua. Sangat menginspirasi gue dalam menciptakan lagu itu. Sama seperti album pertama SORE, Centralismo, perspektif Jakarta jadi tema utama di album tersebut. Gue merasa senang bisa ngulik romantisme yang gak terjamah. Sekarang di mana lagi mau cari taman yang di sampingnya ada pedestrian kalau engga di daerah Menteng. Selain Menteng, udah kacau (tertawa).

Mondo Gascaro juga mempunyai label yang dijalankan bersama sang istri bernama Ivy League. Memproduksi album Payung Teduh serta Ayushita. Apakah ada musisi lainnya yang sedang diproduseri?

Rencananya ada, namun masih dalam tahap wacana. Untuk sekarang fokus di album sendiri dulu.

Ayushita yang sebelumnya dicap sebagai penyanyi biasa saja, mendapati panen pujian selepas merilis album di bawah Ivy League. Terlebih saat balada “Sehabis Hujan” muncul di pasaran. Publik pun dibuat kaget dengan metamorfosis Ayushita membawakan warna musik seperti itu. Tidak sedikit yang berujar bahwa tangan dingin Mondo berperan besar di sini.

Awalnya, proses pembuatan album Ayushita dipimpin sama Ricky Virgiana (White Shoes and The Couples Company). Dia ngerjain hampir semua lagu, sekitar 6 sampai 7. Setelah itu, gue diminta Ricky untuk bikini lagu buat Ayushita. Selama proses penggarapan, gue juga bantu aransemen. Lalu diangkat jadi co-producer. Setelah kelar, tinggal menunggu proses mastering. Peran gue memang dari awal kaya gitu.

Akhir-akhir ini Mondo cukup sering berkolaborasi bersama Danilla. Bisa diceritakan awal mulanya seperti apa?

Kebetulan gue kenal Danilla di tahun 2014. Pertama lihat waktu dia main sama Lafa. Akhirnya saling kenal, terus tukar pikiran. Ternyata dengerin Jobim juga, selera sama nih. Seiring waktu kita sering ketemu karena kala itu proses pengerjaan album Danilla juga dibantu sama Lafa. Sampai pada titik dimana kami memutuskan untuk buat kolaborasi. Bawain musik Samba dan bossanova. Kemudian sempat jalan masing-masing sebelum ada tawaran masuk buat main secara kolaborasi. Yaudah jalanin aja at least untuk manggung. Tapi kok keterusan. Ini album gue gimana gak kelar-kelar jadinya (tertawa).

Bagaimana musik yang memuaskan menurut seorang Mondo Gascaro? Apakah sukses secara finansial juga termasuk dalam deksripsi musik memuaskan?

Itu hal berbeda meski saling berkaitan. Istilahnya beda konteks. Bikin musik pada dasarnya harus memuaskan diri sendiri dulu. Musiknya harus begini, kita kejar terus sampai dapet. Ketika udah dapet secara emosional, menurut gue itu udah bentuk pencapaian. Memang dalam bermusik itu harus jujur. Alangkah baiknya turutin kata hati masing-masing. Apabila udah terpengaruh penilaian orang lain, wah kacau. Ujung-ujungnya musik itu gak pure, alami. Penting bagi gue adalah yaudah fokus aja. Kalau memang terdengar aneh, ya take lagi. Memang harus perfeksionis. Suatu karya apabila udah masuk tahap mastering, udah engga bisa diulangin lagi. Maksimalkan keinginan untuk mengeksplor konsep yang dibawa. Musisi harus punya semacam vision. Jangan main aman. Harus punya tanggung jawab untuk kasih musik yang menjadikan itu pencapaian. Sedangkan masalah sales ataupun orang suka menurut gue relatif ya. Tapi pasti banyak yang suka kok.

Mondo Gascaro
Mondo Gascaro

Mendengar cerita dari Mbak Sarah, Mondo Gascaro ini lebih suka menghabiskan waktu di studio daripada bermain di panggung ya?

Mungkin gue ngerasa nyaman aja ketika lagi di studio. Banyak hal yang bisa gue kerjain. Merealisasikan ide-ide secara penuh, personal. Ketika udah memasuki panggung kan beda lagi tujuannya. Apa yang kita latih, kita sampaikan waktu di panggung. Sedangkan di studio, gue bisa menikmati proses aransemen, rekaman sampai mengurus detail pengerjaan lainnya. Nature sebuah musik pop modern sebenarnya berada di studio. Gue ambil contoh The Beatles. Setelah mereka memutuskan untuk berhenti tur, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di studio. Beda sama jazz yang naturenya di panggung.

Apakah merasakan posisi dilematis, lebih ke ketidakpuasan dalam mendengar hasil produksi selama proses pengerjaan album perdana?

Hal itu pasti ada. Normal. Ketika coba sekali langsung gak dapet, yaudah jangan dipaksain. Semua bergantung pada mood, stamina dan timing. Dari jaman dulu memang kaya gitu. Gue cerita dikit semasa Centralismo-nya SORE. Singkat kata, proses udah fix 70 persen. Tinggal take beberapa string sama revisi bagian vokal. Tiba-tiba dari pihak Aksara kasih tau kalau hard disk rekaman mengalami crash. Hasilnya? Data hilang semua. Terus bilang sama anak-anak. Yaudah take lagi aja. Sesimpel itu. Ternyata ada berkah dari musibah. Jadinya bisa benerin tempo, harmoni dan sebagainya.

Mempunyai keinginan untuk mengadakan konser tunggal?

Insya Allah pengen ya. Udah ada bayangan juga. Karena bagi gue konser tunggal itu membawakan materi sesuai yang diinginkan. Produksi dari kita, eksekusi dari kita. Bisa bebas. Beda ketika diundang jadi bintang tamu.

Apakah Mondo menyukai datang ke sebuah festival musik?

Sejujurnya kurang begitu suka. Festival musik buat gue jadi gak fokus dalam menikmati musik. Karena ketika datang udah banyak pilihan yang tersaji. Gue justru senang dengan tajuk konser, bisa fokus dan mengambil kesan dari situ. Sama gue juga lebih tertarik datang ke bar sambil menikmati jazz.

Selepas keluar dari SORE, apakah Mondo Gascaro masih merasa membawa nama besar SORE?

Pada dasarnya gue suka berkarya dengan siapa pun. Terlebih ketika gue bisa bebas menyampaikan ide. Sama SORE pun gue juga merasa bebas. Tapi ketika udah engga sama SORE gue lebih bisa menikmati. Kalau ada orang bilang Mondo mirip SORE, itu hak mereka buat bicara. Bebas kembali ke pendapat masing-masing. Seperti halnya ketika Paul McCartney cabut dari The Beatles, ada orang bilang “Wah masih The Beatles banget..”, ya wajar orang The Beatles yang bikin Paul juga.

Mendengarkan #sarapanmusik apa?

Berhubung lagi proses penyelesaian album, gue jarang dengerin musisi lain. Kebanyakan justru dengerin materi rekaman sendiri. Ketika nanti banyak dengerin musisi lain gue takut distract. Nanti kalau udah kelar ini album, boleh lah dengerin musisi lain.

Wawancara oleh: Muhammad Faisal

Foto: Gilang Perdana Putra (kontributor)

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response