close

Monohero: Syiar Perjalanan Psikedelik Spiritual

IMG_0715

Perkara bagaimana cara sebuah band dinikmati, diam-diam saya selalu mengelompokkan mereka ke dalam dua golongan: yang cukup didengarkan, dan yang harus ditonton pertunjukkannya secara langsung. Monohero, tanpa ragu, masuk ke golongan kedua. Trio asal Malang ini menyajikan kelindan apik antara aransemen electro-psychedelic, vokal yang lengking-meruang, dan visual trippy yang semakin menihilkan gravitasi. Band ini membawa kita “tinggi”. Namun alih-alih band, rasanya konsep performing art lebih tepat untuk disematkan ke Monohero.

Monohero terbentuk tahun 2016 lalu di kota Malang. Adalah MF Wafy (composer) yang pertama menyodorkan aransemennya pada Arie W. Omen (vokal) untuk direspon. Dari titik ini terciptalah lagu pertama mereka “Escalating Wanderlust”, sebuah perjalanan mengawang-awang ke langit ketujuh. Lagu ini kemudian direspon oleh Alfian Roesman dengan video mapping sebagai visual. Proses ini yang seterusnya dijadikan template mereka untuk berkaya di Monohero, saling merespon. “Monohero itu memang garis besarnya di kesenian, jadi nggak ada yang salah atau benar, yang penting pas. Jadi prosesnya saling merespon, aku bikin musik, Omen mengisi vokal, lalu direspon Fian pakai visual,” cerita Wafy saat ditemui WARN!NG. Secara musik, Monohero mengaku mengusung psychedelic-ambient. Dengan audio semacam ini, mereka menyoal perkara-perkara subtil. “Monohero bukan tentang kegelisahan cinta, tapi kegelisahan kehidupan. Tentang hidup, pikiran, partikel-partikel di luar tubuh,” ujar Omen menjelaskan garis besar konten di karya mereka.

Sampai saat ini, Monohero telah menelurkan satu EP berjudul Shimmy & Shimmer yang berisi 2 nomor: “Escalating Wanderlust” dan “Avaveti”. Baru-baru ini, bebarengan dengan penampilan mereka di ARTJOG 2017, mereka merilis single terbaru mereka, “Resah”. Mereka juga telah menggelar dua rangkaian tur tahun lalu. “Kami pernah tampil di tengah-tengah kampung gitu di Semarang, aneh banget rasanya ditonton bapak-ibu sama anak-anak kecil,” ujar Wafy terkekeh saat menceritakan tur Futoura mereka yang diadakan akhir 2016 lalu.

Monohero | dok. monohero

Berada di kerumunan gelap menyaksikan Monohero, anda akan tenggelam dalam lingkar-lingkar mandala yang berpendar. Sebuah Ojo De Dios –simbol Eye’s of God di suku Huichol di Meksiko— selalu mereka tempatkan di sebagai pusat panggung. Di sekelilingnya, mereka bertiga membagi tugas secara seimbang bak elemen pembentuk energi. Membuat kolaborasi yang menumbuhkan sugesti trans ke penontonnya —ketika mengalami ini, saya menyebutnya momen spiritual. Wafy akan duduk di balik sequencernya, menyusun berbagai not elektronik yang dibumbuhi sampling beragam rupa, dari suara-suara organik sampai deru bising jalanan. Lalu ditabrakkan dengan broken chords dari guitalelenya, ia menghasilkan fantasi ulang alik antara yang sunyi dan riuh, yang organik dan sintetis, yang fana dan baka.

Sementara Omen akan berdiri menjajari microphone, berseru-seru menengadahkan kepala sambil sesekali memainkan tangannya. Di beberapa lagu, ia mengulang-ulang kata “Allahuakbar..”, “Laillahi…” atau “Maria..”, seperti seorang hamba dan puja-pujinya untuk sang Pencipta. Alih-alih mengeluarkan lirik berupa kata-kata, ia justru bernyanyi bak seorang pembaca Al-Qur’an yang fasih lagi jernih. Jika kata-kata menyampaikan makna, maka cara bernyanyi Omen di Monohero ini lebih seperti menyampaikan maksud. “Aku nggak pernah milih, emang pas denger aransemennya Wafy keluarnya seperti itu,” ujarnya. “Kalau di ‘Escalating Wanderlust’ itu aku merasa seperti anak kecil. Sifat yang nggak akan aku ubah, aku nggak mau melepaskan jiwa kanak-kanakku. Aku selalu penasaran dengan siklus dunia ini, alurnya kayak apa. Di lagu itu aku diceritai maknanya tentang 7 lapis langit, ya keluarnya ‘Allahuakbar’, itu bukan adzan atau apa. Cuma untuk menyebut kebesaran Tuhan aja. Biarpun emang dunia ini diatur oleh orang-orang tertentu, tapi mereka kan juga ciptaan Tuhan. Nggak bermaksud lagu islam atau apa, memang keluarnya seperti itu,” pungkas Omen.

Kolaborasi audio ini kemudian dibungkus oleh tembakan live video mapping oleh Alfian. Mengandalkan sebuah software visual jockey, ia mengatur imej-imej berpendar melingkar-lingkar. Visual yang pastinya tak terlalu asing bagi kalian para pecandu ‘ketinggian’. Yang menarik, jika kedua kolaboratornya tadi tampil dalam susunan lagu tertentu, Alfian bisa bebas mengutak-utik visual sesuai mood-nya. Yang berarti, tiap penampilan Monohero ia tak akan mengeluarkan pertunjukan visual yang sama. “Makin gelap panggungnya, makin maksimal penampilan kami,” ujarnya.

“Mungkin kebanyakan orang mengartikan Monohero sebagai pahlawan tunggal. Tapi kita lebih spesifik lagi di ‘mono’ itu personal, kesendirian, ‘hero’ bukan pahlawan, tapi orang yang melakukan kebaikan. Jadi kalau kita punya keinginan untuk bantu orang, itu Monohero,” tutur Wafy ditanyai tentang makna nama mereka. “Wong itu dulu nama flashdisk baru saya, jadi ketemu nama dulu, baru bikin band,” lanjutnya terkekeh. Trio yang kerap memakai kostum Dashiki di panggung ini menyarankan waktu terbaik untuk menikmati mereka adalah saat sedang banyak masalah.

Sebagai sebuah keseluruhan, konsep yang dibangun Monohero dalam karyanya sudah cukup komplit. Namun mereka masih menunda rencana album pertama dengan alasan masih mencari bentuk maksimal dari tiap lagu mereka. Saat ini, syiar psikedelik mereka adalah salah satu keluaran paling segar dari kancah musik di Jawa Timur. Bawa kepala anda yang penuh itu untuk menikmati sajian menghipnotis dari mereka, bersiap lupa dan meninggi. “Monohero itu tentang indra, bagaimana memaksimalkan seluruh indra kita,” tutup Alfian. [WARN!NG/Titah AW]

More about Monohero –> Bandcamp

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response