close

[Movie Review] Monsieur Lazhar

download
monsieur_lazhar_9_1

“Everyone thinks we’re traumatized. It’s the adults who are.”  – Alice (Monsieur Lazhar)

Film berbahasa Prancis asal Kanada ini rilis perdana pada akhir 2011, namun mulai rilis secara global pada bulan April 2012. Disutradai oleh Philippe Falardeau, film ini merupakan official submission dari Kanada yang masuk nominasi 5 besar untuk kategori Best Foreign Language di gala 84th Academy Awards. Sayangnya, film ini kalah bersaing dengan film asal Iran, A Separation.

Meskipun gagal meraih penghargaan Oscar, pondasi cerita dalam film ini sangat kuat. Mengambil tema pendidikan dan anak-anak yang dikombinasikan dengan isu-isu imigrasi dan kakunya sistem pendidikan di negara Kanada. Film ini sangat berbeda dengan film pendidikan pada umumnya. Penonton sama sekali tidak diajak untuk menyimak bagaimana perjuangan para guru untuk mengatasi kenakalan anak-anak yang tidak peduli akan masa depannya atau masalah-masalah ekonomi. Kali ini yang harus dihadapi adalah beban psikologis yang diderita oleh murid-murid di kelas, dan ternyata oleh guru tersebut sendiri.

Film ini berawal dari seorang murid SD yang menemukan gurunya mati gantung diri di dalam kelas. Hal tersebut sontak menghebohkan seluruh sekolah. Tidak semudah itu mendapatkan guru pengganti dan memulihkan trauma para murid yang belum cukup dewasa menyikapi hal semacam itu.

Di tengah masalah tersebut, muncul seorang pria bernama Bachir Lazhar (Mohammed Fellag), menyatakan siap menjadi guru pengganti. Pria ini merupakan imigran asal Aljazair yang mengaku pernah mengajar sekolah dasar di negaranya. Kedatangan guru baru ini otomatis memaksa adaptasi dari murid-murid kelas, terlebih setelah insiden bunuh diri tersebut. Awalnya, Mr. Lazhar memang terlihat kaku saat di depan kelas karena memang dia sebenarnya bukan seorang guru. Namun, perlahan Mr. Lazhar dapat menjadi figur kuat yang dapat mendorong anak-anak tersebut melewati duka dan trauma mereka. Tetapi tidak ada satupun yang tahu dari pihak sekolah latar belakang dia sebenarnya. Disini penonton diperlihatkan mengenai perjuangan Lazhar mendapatkan suaka di Kanada dan alasannya meninggalkan Aljazair.

Disinilah letak kekuatan film ini. Film ini mengalir mengikuti bagaimana cara anak-anak tersebut menyikapi kematian tragis gurunya. Juga, terlebih menyoroti mengenai bagaimana pihak sekolah bersikap overprotective terhadap anak-anak yang sebenarnya jika dibimbing dengan benar, punya cara masing-masing untuk melupakan trauma mereka. Sekolah malah menyalahkan Mr. Lazhar karena dituduh memperparah keadaan. Film ini mengkritik mengenai stereotip warga negara Kanada terhadap imigran yang berusaha mencari suaka di negaranya tersebut.

posterweb

Sedikit banyak film ini juga mengkritik mengenai batasan-batasan antara guru dan murid di sekolah publik di Kanada. Diceritakan bahwa alasan guru yang bunuh diri dalam kelasnya adalah karena dianggap melakukan tindakan tidak senonoh terhadap muridnya. Tindakan yang dianggap tidak senonoh ini adalah sebuah pelukan. Pelukan tersebut dia berikan kepada salah satu siswa laki-lakinya yang didapati sedang menangis di kelas. Sebagai seorang guru, dan seorang ibu, maka secara otomatis dia memeluk anak itu. Tindakan yang mungkin tidak begitu masalah, atau bahkan mengharukan, justru membawanya kepada tuduhan pelecehan seksual. Menurut UU di Canada, seorang guru tidak diperbolehkan kontak fisik dengan siswanya. Dan itu termasuk memukul, mencubit, mengeplak, mencium, dan tentu saja memeluk.

Film ini dapat dikategorikan sebagai film drama berat. Untuk yang tidak terbiasa menonton film non Hollywood, film ini akan dirasa menyesakkan. Menitikberatkan pada kondisi psikologis yang secara keluasan kisah, menurut saya film memiliki poin yang tinggi. Film ini ternyata dapat menyampaikan pesannya secara sempurna, meski dengan cara pedih dan menyentuh. [Warning/Edwina Primananda]

Tags : movie
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response