close

Montase Orba-Babinsa-Berencana: Sebuah Pertunjukan

Melancholic Bitch
Melancholic Bitch

 

Lama tak menghadiri konser musik, tak tahu-menahu tentang pergerakan album baru, bahkan membenci ingar-bingar pengkultusan legenda adalah alternatif untuk menikmati sundal-sundal Melancholic Bitch. Menyematkan status groupies yang kaffah akan mengakibatkan tak netral dalam menilai penampilan Melbi malam itu. Maka peristiwa peluncuran album NKKBS Bagian Pertama, Sabtu (9/9), PKKH UGM, lebih baik sekali seumur hidup—dan memang seperti itu adanya.

Melbi resmi melepas status hiatus, setelah terakhir naik panggung 2013 lalu. Toh, terlanjur menyandang status cult membuat empat tahun menghantu tetap dirayakan dalam semangat purwarupa, sama seperti siklus tahunan “ganyang PKI” saat September mau berakhir. Di panggung, sebuah patung berdiri tegap ditutup terpal biru. Disangga scaffolding di kanan-kiri. Sebuah permainan semiotika bebas tafsir yang cukup menarik terkait kebijakan-kebijakan Orde Baru. Saya lebih memilih opsi bahwa patung itu perwujudan rezim yang terus mengawasi dari manapun—menghantui om-om dan tante-tante. Sedang jejeran scaffolding yang juga berfungsi menggantung lampu pertunjukan, saya artikan sebagai sinonim dari pembangunanisme a la Soeharto. Di belakangnya tersiar video yang mengadopsi gerakan-gerakan senam, karya Akiq AW. Bahwa album ini bercerita tentang politik Orde Baru yang bekerja linear dan sistematis, hingga ke lini paling pribadi. Hingga percumbuan dan kondom.

Peluncuran album ini justru jadi ajang mengulang pelajaran PMP, P4, PPKn, PKn, atau apalah itu. Guru-gurunya tentu personel Melancholic Bitch sendiri; Ugoran Prasad, Yennu Ariendra, dan Yossy Herman Susilo. Ditambah kolaborator yang turut membantu dalam album ini; Danish Wisnu Nugraha (drum), Nadya Hatta (keyboard), Richardus Ardita (bass), Uya Cipriano (gitar), dan Gisella Swaragita dan Arsita Iswardhani (backing vocal).

Nadya Hatta memulai jam masuk sekolah dengan intro “Departemental Deities and Other Verses” dari album Anamnesis (2005 dan Re- 2013). Disusul rekan-rekan lain. Yang paling terakhir masuk adalah Ugoran Prasad dengan membawa ember berwarna merah, montase simbol lain yang sedang dipertontonkan pada publik.

Petikan gitar dan tuts syahdu memulai nomor “Normal, Moral”. “Hantu-hantu masa kecil, bangkit dari tidurnya yang panjang..,” rapal Ugo mengantarkan penonton pada awal lagu. Penonton tentu terdiam menyimak presentasi itu. Di sisi lain, ada yang memanggil kembali ingatan-ingatan masa kecilnya, lalu mengolasekannya dengan lirik. Di sisi yang lain lagi, beberapa penonton langsung nyetel dengan irama lagu sembari mengangguk-anggukkan kepala dan meloncat kecil saat beat lagu mulai naik. Berturut-turut, lagu-lagu yang dimainkan sesuai dengan nomor yang tertera pada kover belakang album fisik.

Pada “666,6”, loncatan penonton mulai meriak seirama dengan riff-riff gitar yang kencang, walau tak banyak. Sebuah nomor yang bercerita tentang potret tersedianya pedoman-pedoman agama, namun tak membuat masyarakat memaknainya dengan dalam. Selanjutnya, nomor “Bioskop, Pisau Lipat”, sudah dirilis beberapa waktu sebelum peluncuran album lewat kanal YouTube. Lagu yang bercerita tentang pengalaman Ugo menonton film Pengkhianatan G30S/PKI. Keseluruhan struktur album NKKBS Bagian Pertama ditutup dengan “Lagu Untuk Resepsi Pernikahan”, sebagai lagu nomor sebelas. “Resepsi Pernikahan” memiliki nada yang molek seperti halnya kebahagiaan resepsi pernikahan. Namun, lirik yang disampaikan justru membuat pertanyaan-pertanyaan ulang seputar pernikahan; “kering dan kemarau”. Tak dipungkiri, lagu pamungkas ini adalah hadiah dari Melbi kepada pasangan-pasangan yang mau membentuk institusi baru bernama pernikahan. Dan bukan tidak mungkin, “Lagu Untuk Resepsi Pernikahan” bakal di putar di tenda-tenda resepsi yang menutup jalan hingga gedung mewah.

Jeda beberapa menit setelah memainkan NKKBS Bagian Pertama, mereka langsung tancap gas lagi. Beberapa nomor dari album-album lawas digeber di atas panggung. “Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa”, “Tentang Cinta”, dan “The Street” adalah nomor yang dimainkan dari album Anamnesis. Sedangkan single “7 Hari Menuju Semesta”, “Mars Penyembah Berhala” dan“Akhirnya Masup Tipi” mewakili Balada Joni dan Susi (2009). Terkesan sudah begitu akrab dengan lagu-lagu lawas ini, tak butuh waktu lama bagi penonton untuk saling bertubrukan, meloncat, sing along, dan crowd surfing menabrak diam.

Waktu jelas tak berhenti. Waktu pula yang membuat perpisahan empat tahun menambah daftar tunggunya. “Nasihat yang Baik” jadi penutup, diantarkan dengan kalimat-kalimat bijak yang dilontarkan Ugo; “habis ini pulang, cuci kaki, cuci tangan, terus tidur”. Pada dasarnya, penonton yang hadir bukanlah penonton yang ‘baik secara moral’. Mereka tak mau beranjak pulang seperti nasihat Ugo, bahkan meminta lagi sebagai paripurnanya penantian. Melbi jelas harus mengalah, maka “Menara” benar-benar jadi nomor pungkas sebagai negosiasi final. “Menara” bukanlah nomor yang masuk dalam set list. Hal ini membuat Danish, kesulitan menemukan pola gebukan drum. Improvisasinya justru teruji pada gimmick insidental ini.

NKKBS Bagian Pertama jelas memiliki warna yang berbeda dari album-album sebelumnya. Ia tak memiliki struktur yang baku pada lirik dan lagunya. Justru montase-montase ini yang bisa dibaca secara kritis terhadap ornamen Orde Baru. Maka NKKBS Bagian Pertama adalah arsip, adalah dokumen, KB, Babinsa berencana, moralitas kewarganegaraan, swasembada pos ronda, adalah protes tak mati-mati! [WARN!NG/Yesa Utomo]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response