close

[Album Review] Motorhead – Aftershock

Aftershock

Aftershock

Aftershock – Motorhead

Label: UDR GmbH

Watchful shot : Heartbreaker – Coup De Grace – Silence When You Speak To Me

 [yasr_overall_rating size=”small”]

Ada yang lebih berbahaya ketika berkendara saat berkecepatan tinggi daripada memotret speedometer, yakni mendengarkan Aftershock. Motorhead tergolong band yang ogah membuat kejutan pada album-albumnya, begitupun album ke-21 mereka. Aftershock tetap berada pada bagaimana stimulasi adrenalin Anda mendapat provokasi oleh Motorhead dan “Ace Of Spades” misalnya, yang penuh dengan huru-hara, kebutan, dan atribut kurang ajar. Ataupun jika Anda ternyata tetap terkejut, maka itu pasti justru tentang kenapa mereka masih bisa tak membuat kejutan dengan tetap sekencang ini. Terutama jika mengingat pembatalan tur pertengahan tahun karena Lemmy (vokal) mengidap komplikasi jantung dan hematoma (sejenis pecahnya pembuluh darah). Namun jangan terlalu memikirkan jantung Lemmy, karena justru jantung Anda yang bisa luluh lantak terlebih dahulu jika tak siap digasak track pertama, “Heartbreaker”.  Itulah akselerasi maksimal tiga menit pertama sebelum “Coup De Grace” membuatnya tak lagi terkejar.

Hanya ada dua track yang memberikan kesempatan bernapas. Yang pertama ialah “Lost Woman Blues”, yang meski bukan pertama kalinya Motorhead mengedarkan blues, namun tetap mencuri atensi. Yang kedua adalah “Dust And Glass”, satu-satunya lagu yang mungkin tak langsung membuat kita sadar ketika pertama kali mendengarnya bahwa ini ialah Motorhead. Sisanya? Lesatan uptempo dari riff-riff tipikal nan kickass, seperti “Knife”, “End Of Time”, atau “Going To Mexico”. Di tengah perjalanan Aftershock, Motorhead diduga memberikan tumpangan bagi Chuck Berry demi menjualbelikan rocknroll kembali pada “Do You Believe?”

Hak paten Lemmy untuk angkuh bergema pada groove-driven “Silence When You Speak To Me”. Model Warpig (signature logo Motorhead) di cover Aftershock pun terlihat menua seperti usai mengelilingi dunia berulang kali (okay, 40 tahun) namun belum menampakan niatan berhenti. Mereka masih berpacu kencang dengan kepongahan rocknroll tanpa sudi mampir sejenak pada teritori musikal lain. Jantung? Hematoma? Tuhan pun masih menghormati Lemmy.[WARN!NG / Soni Triantoro]

 

 

Tags : motorhead
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response