close

Movie of The Year 2015 (II)

polos movie

Back: Movie of The Year 2015 (10-6)

5. Amy (Asif Kapadia)

amy
amy

Siapa yang masih mempertanyakan talenta Amy Winehouse dalam bermusik? Hal itu sudah tidak perlu dibantah, sama seperti citra nakal dan berantakan yang tersemat kepadanya di mata publik. Tapi lewat Amy, kita melihat kisah hidup pribadi yang rapuh dan harus banyak berurusan dengan masalah-masalah di luar kendalinya. Amy Winehouse selalu punya musik sebagai pegangan hidupnya. Musik dan lirik itu pula yang menyusun Amy dengan simpel namun efektif dalam menyentuh perasaan. Sumber video pribadi yang komprehensif juga semakin memperkuat intimasi dalam dokumenter garapan Asif Kapadia satu ini.

 

4. Crimson Peak (Guillermo del Toro)

crimson peak
crimson peak

Dua tahun lalu, Guillermo del Toro berhasil meyakinkan banyak orang untuk bercita-cita menjadi pilot Jaeger. Tahun ini, ia kembali dengan karya terbaiknya. Fitur gothic romance satu ini memang banyak memberi tribut pada film-film horror klasik. Namun, Crimson Peak lebih dari sekedar homage, apa lagi jiplakan. Justru sebaliknya, film ini membawa identitasnya sendiri dengan nilai estetika tanpa parallel. Sejalan dengan Devil’s Backbone dan Pan’s Labyrinth, Guillermo del Toro tidak memberi batasan dalam bentuk atau maksud apapun pada fantasinya. Meski cepat mangkir dari layar-layar bioskop, Crimson Peak dengan cepat mendapatkan status klasik dan tak akan termakan zaman.

 

3. Sicario (Denis Villeneuve)

sicario
sicario

Label action heroine semakin melekat pada Emily Blunt lewat penampilan terbarunya di Sicario. Adu perannya bersama Benicio del Toro menjadi satu dari sekian banyak hal yang memikat dari film ini. Denis Villeneuve mengantar penonton ke perbatasa Amerika Serikat-Meksiko yang kejam dan penuh ketegangan. Karya terbarunya bukan ditujukan pada penonton dengan jantung lemah. Semua elemen, mulai dari scoring Johann Johannsson hingga sinematografi Roger Deakins melebur natural, menggambarkan landscape Juarez yang tandus tanpa harapan. Tak banyak perbedaan pula di sisi lain perbatasan yang menganggap remeh masalah aturan dan moral. Hampir mustahil untuk menonton Sicario sambil menyender santai tanpa pikiran yang tercabik habis.

2. Ex Machina (Alex Garland)

ex machina
ex machina

Layaknya misteri luar angkasa empat atau lima dekade silam, kecerdasan buatan nampaknya menjadi ancaman besar bagi umat manusia di abad 21. Ex Machina dengan memukau menelusuri tema ini tanpa terkesan sok tahu. Naskah dan sinematografi Ex Machina yang cuma berbatas sehelai rambut dari kesempurnaan membingkai substansi yang tidak bisa dianggap remeh. Kepastian kalau lambat laun kita harus menghadapi isu ini menyisipkan kengerian tersendiri dalam Ex Machina. Sudah menjadi takdir umat manusia untuk berakhir tragis, mungkin lewat kecerdasan buatan yang mereka bangun sendiri. Jadi, sebelum umat manusia diperbudak koloni robot, tak ada salahnya kita meramal nasib lewat directorial debut Alex Garland ini.

1. Room (Lenny Abrahamson)

room
room

Performa Brie Larson dan Jacob Tremblay dalam Room menjadi penyelamat bagi emosi penonton yang remuk lantaran ceritanya yang miris. Karakter Ma dan Jack terasa begitu dekat dan nyata ketika dimainkan keduanya. Usaha mereka membebaskan diri menyulitkan penonton untuk mengatur nafas di awal film. Emma Donoghue paham benar dengan novelnya dan membuat basis yang solid. Sisa narasi mengalir lancar lewat penampilan simpatis dari Brie Larson dan Jacon Tremblay.

Room tak hanya membuat kita menangis terharu lantaran cinta ibu kepada anaknya yang selalu ada seburuk apapun kondisinya. Memang, hal itu mendorong film dengan segala intrik dan plotnya. Tapi lebih dalam lagi, Lenny Abrahamson sebagai sutradara memberikan gambaran atas kompleksitas manusia dan mempertanyakan kebutuhan paling mendasar untuk hidup. Lewat Room, ia menyampaikan hal itu dengan polos dan sederhana lewat pengalaman yang tak terkira.

Go Check:

Indonesian Movie of The Year 2015

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response