close

Movie of The Year 2015

polos movie
movie of the year 2015
Artwork: Hariyo Pamungkas

Geng Avengers kembali berbuat onar. Sementara Ethan Hunt dan James Bond membawa kita kabur ke Itali, Maroko, dan Austria untuk mengikuti misi mereka masing-masing. Di penghujung tahun, The Force Awakens masih mengulur antrian panjang di banyak bioskop, layaknya posko darurat dipenuhi korban bencana alam. Tahun 2015 tentu tidak akan mudah dilupakan di dunia film.

Mulai dari kesederhanaan dokumenter hingga rumitnya fantasi sci-fi, deretan judul di bawah menegaskan kekuatan sinema yang tidak sepele. Semuanya membawa semangat yang begitu manusiawi. Biar kata itu datang dari manusia atau bukan, masih hidup atau sudah mati. Semangat ini mendorong individu mencari kebebasan, pembenaran, atau sekedar tempat kecil untuk mengada di tengah dunia yang semakin aneh.

10. Star Wars: The Force Awakens (J. J. Abrams)

the force awakens
the force awakens

Episode ketujuh Star Wars tak perlu banyak-banyak mendapatkan sambutan. Kalaupun film ini cuma berisi reuni Han Solo, Leia, dan Luke di tahlilan Darth Vader, orang-orang tetap akan menontonnya berkali-kali. Star Wars memang bukan sekedar franchise film biasa, melainkan gaya hidup, dan bahkan kepercayaan bagi sebagian orang. The Force Awakens mungkin pada akhirnya tidak memenuhi semua keinginan kita. Tapi, film inilah yang kita butuhkan untuk mengobati rindu akan buah imajinasi George Lucas. Dengan keahlian J. J. Abrams, The Force Awakens menjadi pemanasan bagi generasi baru untuk mengalami kebahagiaan yang cuma bisa dirasakan ketika menonton Star Wars.

 

9. The End of the Tour (James Ponsoldt)

the end of the tour
the end of the tour

Apa persamaan antara All the President’s Men, Almost Famous,dan Shattered Glass? Ketiga film itu berfokus pada seorang wartawan. Salah satu di antaranya bahkan bekerja untuk Rollingstone, seperti David Lipsky dalam The End of the Tour. Tapi ada yang lebih menarik dalam film James Ponsoldt ini. Hubungan yang aneh antara David Lipsky dan David Foster Wallace, pengarang Infinite Jest yang menjadi subjek reportase, terus menerus berubah. Terkadang seperti teman setara, di lain waktu seperti murid dan mentor, bahkan dua orang yang saling membenci. The End of the Tour bisa diringkas dengan celetukan antara kedua karakternya, siapa yang mewawancarai siapa?

 

8. Kurt Cobain: Montage of Heck (Brett Morgen)

montage of heck
montage of heck

Tidak ada kebaruan dari kehidupan Kurt Cobain yang ditampilkan dalam dokumenter ini. Tapi kembali lagi, setiap jengkal hidupnya sudah membekas erat di ingatan jutaan penggemarnya. Apa yang Montage of Heck tawarkan justru reanimasi kehidupan Kurt Cobain layaknya diceritakan oleh Kurt Cobain sendiri. Tema yang diangkat awalnya terasa usang, namun Montage of Heck hadir sebagai pengingat akan sosok yang abadi lewat karyanya, meski tak hidup lama. Sama seperti Nirvana, Montage of Heck mengusung satu hal lama dan mengemasnya dalam perspektif baru.

 

7. Mad Max: Fury Road (George Miller)

mad max: fury road
mad max: fury road

Dua dokumenter musisi hebat boleh saja tercantum dalam daftar ini. Namun percayalah, Mad Max: Fury Road merupakan film paling bising di tahun 2015. Aksi otentik Fury Road dengan senonoh mengucilkan film-film blockbuster lain dan membuatnya terlihat, sesuai perkataan para Warboys, medioker. Tidak perlu menjadikan Fury Road sebagai pemantik diskusi banal tentang feminisme. Hal itu kurang pantas jika disandingkan dalam film ini. Jangan pula berharap gambar-gambar cantik yang disusun rapih untuk mendampingi narasi yang menyeret emosi. Fury Road adalah semurninya film aksi, dikemas dalam dua jam kejar-kejaran mobil tanpa ampun. Heran kalau mengingat semua kegilaan ini datang dari sutradara Happy Feet.

6. The Assassin (Hou Hsiao-Hsien)

the assasins
the assasins

Jangan segera membangun banyak ekspektasi dari judul dan poster filmnya yang sangar. Narasinya memang banyak terinspirasi dari Nie Yinniang, kisah legendaris dari China yang menjadi kitab besar wuxia. Tapi jangan harap sajian kolosal dari para pendekar kung-fu yang terbang kesana kemari melancarkan jurusnya. The Assassin adalah puisi sinematik bertempo pelan. Memadukan esensi genre dengan gaya khas Hou Hsiao-Hsien. Mendengar namanya saja, sudah tergambar kesan indah yang tidak pernah hilang sepanjang film. Memang butuh kesabaran dalam menontonnya. Tapi kesabaran itu dijamin lunas setelah menyaksikan bagaimana The Assassin yang begitu sunyi mampu mendistilasi semangat wuxia dalam keanggunan.

 Next: Movie of The Year 2015 (5-1)

Go Check:

Indonesian Movie of The Year 2015

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response