close

[Movie Review] 10 Cloverfield Lane

10 Cloverfield Lane

Sutradara: Dan Trachtenberg

Cast: Mary Elizabeth Winstead, John Goodman, John Gallagher, Jr.

Durasi: 104 menit

Studio: Bad Robot Productions (2016)

10 Cloverfield Lane

Pertama kali rilis di tahun 2008, Cloverfield memberikan antitesis terhadap tatanan visual film sci-fi. Meminimalisir efek visual gemerlap dan membawa penonton langsung ke pusat kejadian dengan rekaman seadanya, menguak ketakutan yang begitu realistis layaknya tragedi 9/11. Bedanya, bukan para pilot mabuk Al-Qaeda yang menyebar teror, melainkan alien setinggi puluhan hingga ratusan meter dan kutu-kutunya yang mematikan, merangkak dan meratakan kota New York.

Setelah disadari kalau carpet bombing dan bom nuklir tidak dapat menghentikan makhluk asing tersebut, tersisa satu kemungkinan yang harus diyakini, sebuah sequel akan datang. Tapi apa yang lebih mengerikan dibanding invasi alien raksasa? Menurut Dan Trachtenberg, jawabannya adalah terperangkap di sebuah bunker bersama John Goodman. Itulah yang dihadapi dalam 10 Cloverfield Lane, sebuah sequel yang sama sekali melupakan pendahulunya. Sejauh ini, satu-satunya kemiripan antara kedua film tersebut terletak pada judulnya. Sudah.

Setelah mengalami kecelakaan mobil, Michelle terbangun di sebuah kamar kosong dengan kaki yang dirantai ke tembok. Wajar saja kalau ia mulai bertanya-tanya akan apa yang telah terjadi pada dirinya, bahkan sebelum sosok intimidatif Howard datang dan membawakannya makanan. Howard, seorang veteran yang memupuk paranoia berlebih terhadap akhir zaman, membawa Michelle ke dalam bunker setelah melihat kecelakaan yang menimpanya.

Itu yang cukup Anda tahu jika belum sempat menyaksikan 10 Cloverfield Lane. Ada baiknya segera berhenti membaca artikel ini dan artikel-artikel lain yang terkait. Hal itu hanya akan merusak pengalaman menonton Anda. Segera beranjak ke bioskop terdekat dan cari tahu sendiri bagaimana misteri-misteri dalam 10 Cloverfield Lane perlahan terkuak. Tapi terserah Anda, saya bukan seorang Howard yang kemanapun ia pergi selalu membawa serenceng kunci dan sebuah pistol di ikat pinggangnya sebagai tanda otoritas.

Sebagai pemilik bunker tersebut, Howard tak hentinya mengklaim diri sendiri sebagai penyelamat dan menuntut rasa terima kasih dari Michelle. Ia bercerita tentang langit yang penuh dengan ledakan dan petir. Bahwa suatu malapetaka yang ia perkirakan akhirnya datang. Akibatnya udara tak lagi aman untuk dihirup, setidaknya untuk satu atau dua tahun ke depan. Howard menyarankan, atau lebih tepatnya memaksa Michelle untuk bertahan di bunker itu demi keselamatannya sendiri.

Mengingat kejadian tersebut masih bersifat spekulatif, ditambah sikap Howard yang agresif, mudah untuk memahami mengapa Michelle begitu ketakutan. Tapi jika Howard benar, kurang ajar sekali seorang Michelle untuk menolak uluran tangan Howard. Omong-omong, bagaimana dengan invasi aliennya?

Dari cara 10 Cloverfield Lane memantapkan pondasi ceritanya di awal film, kelakuan ganjil Howard bisa saja mengindikasi bahwa dirinya adalah seorang alien yang menyamar. Atau bisa juga alien itu menyamar sebagai seorang Emmett, orang ketiga yang sama-sama berlindung di bunker itu. Jika iya, apa motivasinya? Mungkin Michelle akan digunakan sebagai alat berkembangbiak. Bahkan kalaupun tidak ada alien dalam bunker tersebut, adalah keputusan logis untuk memilih Michelle sebagai medium repopulasi pasca bencana apokaliptik. Tenang, 10 Cloverfield Lane bukanlah perpaduan antara kejar-kejaran ala Scooby Doo dan daur ulang plot Species barusan. Lagipula dua kemungkinan itu hanyalah produk imajiner dari pikiran yang tertekan ketidaktahuan.

Rasa ketidaktahuan ini dijaga sangat baik sepanjang 10 Cloverfield Lane. Ketika Michelle pergi meninggalkan kehidupannya, terdengan siaran radio yang mengabarkan kelumpuhan total di selatan Amerika Serikat. Sisanya, mudah untuk melupakan kalau seluruh narasi film terjadi di tengah serangan besar-besaran oleh makhluk asing.

Sampai di lima belas menit terakhir baru terlihat gambaran jelas dari invasi tersebut. Lebih dari seekor babi yang tercabik-cabik atau seorang tetangga yang kulitnya melepuh merah, terkena iritasi dari semacam senjata biologis asing. Sejujurnya, gambaran nyata ini tidak seberapa mengerikan dibanding kurungan bunker Howard. Justru, hal ini memberi rasa lega setelah melewatkan siksaan mental intensif yang terpendam aman di bawah tanah.

Mary Elizabeth Winstead seharusnya mendapatkan apresiasi lebih atas perannya sebagai Michelle. Ia terus menerus menjaga penonton agar tidak terlebih dahulu kabur dari bunker Howard. Konflik dan pertanyaan yang ia pikirkan tidak sebanding dengan penjelasan yang ada. Dengan begitu, mudah bagi Michelle menyetarakan diri dengan para penonton yang sebenarnya juga tidak tahu banyak. Karakter Marion Crane dalam Psycho tidak akan begitu memikat tanpa teror dari Norman Bates. Dalam 10 Cloverfield Lane, Michelle menghadapi teror sejenis dari seorang Howard yang diperankan dengan tepat oleh John Goodman.

Howard bukanlah orang gila yang sengaja menarget Michelle. Untuk beberapa saat, mudah untuk meyakini kalau Howard memang berniat baik. Hanya saja memang kondisinya yang tidak memungkinkan niatan baik tersebut dijalankan dengan mulus. Namun, sungguh celaka untuk menggantungkan hidup di tangan orang yang berpegangan pada konsep kasar konsekuensialisme agar tidak jatuh ke jurang kegilaan. John Goodman membawa karakter ini tanpa sedikitpun memberi toleransi.

Dari latar sempit 10 Cloverfield Lane, terdapat banyak kemungkinan dan tebakan mengenai konklusinya di akhir durasi. Di tengah film, sempat terpikir kalau 10 Cloverfield Lane akan mengambil jalur Alien dengan melucuti elemen-elemen fantastis film sci-fi dan berfokus pada kenyataan yang tersisa. Memang film ini tidak memberikan sajian visual semenarik pendahulunya.Hikayat makhluk asing yang menyerang bumi dalam 10 Cloverfield Lane juga tidak dititikberatkan. Sentuhan thriller klasih dekade 60-an memang terasa kental. Tapi yang jelas, 10 Cloverfield Lane merupakan seutuhnya spesies baru yang mungkin tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dengan akting cemerlang dan naskah tanpa cela, tidak ada sedetikpun kesempatan untuk bersandar santai. [WARN!NG/Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response