close

[Movie Review] A Copy of My Mind

59f05cd5343a118e43f6bed13038b8d2
a copy of my mind
a copy of my mind

Director                : Joko Anwar

Cast                       : Tara Basro, Chico Jericho, Maera Panigoro

Durasi                   : 116 menit

Studio                   : CJ Entertainment (2015)

[yasr_overall_rating size=”small”]

Dari semua sutradara ternama di Indonesia dewasa ini, Joko Anwar memiliki pendekatan yang paling berbeda dalam setiap filmnya. Ada keterbukaan di setiap narasinya yang inovatif. Referensi film thriller dan film noir terasa kuat di dua film yang bisa dibilang mendefinisikan karirnya, yaitu Kala dan Pintu Terlarang. Tapi tidak hanya itu. Jika ditelaah lebih dalam, ada pula sisi romantis dalam Janji Joni, atau di naskah yang ia tulis untuk Quickie Express. Apa yang ditawarkan lewat karyanya selalu membuka cara baru dan memberi rasa penasaran untuk terus menyelami imajinasi Joko Anwar.

Film terbarunya, A Copy of My Mind bisa jadi merupakan yang paling tidak terkira. Bukan karena twist yang kompleks atau horror yang mengejutkan. Hal seperti itu rasanya sudah menjadi santapan biasa dari Joko Anwar. Kali ini, A Copy of My Mind memberikan sesuatu yang baru. Lebih segar dan tidak mematenkan Joko Anwar sebagai sineas one-dimensional.

Cerita dimulai dari premis simpel ketika Sari, seorang ahli perawatan wajah dipertemukan dengan Alek, yang berkerja sebagai pembuat teks terjemahan film bajakan. Apa yang dimulai sebagai hubungan antara pembeli dan manufaktur begitu cepat naik pangkat menjadi hubungan asmara. Sesuatu yang rasanya hampir tidak mungkin terjadi. Apa lagi mengingat film ini begitu mengakar kepada realitas kehidupan metropolitan. Satu hari Siti mendapat klien spesial, Artalyta Suryani versi fiksi. Kebiasaan Sari yang suka mencuri DVD menempatkannya di posisi sulit ketika ia justru memegang bukti yang dapat menginkriminasi nama-nama besar dalam dunia politik.

Tidak perlu menunggu lama sampai Sari menghadapi konsekuensi yang turut menimpa orang-orang di sekitarnya. Sepertiga terakhir film mulai mengawang dan seakan mengubah film secara keseluruhan. Joko Anwar kembali menerapkan apa yang ia lakukan terbaik untuk mengakhiri A Copy of My Mind, meski tujuannya kali ini berbeda. Penutup A Copy of My Mind memberi sedikit catatan kepada beberapa hal yang masih tertinggal. Tidak ada konklusi bagi batin Sari yang begitu resah. Apa yang ia lakukan pun terasa bermuara pada kepasrahan, meski tidak semata-mata mengalah pada nasib.

A Copy of My Mind juga mengandalkan pesta demokrasi tahun lalu sebagai penyusun narasi film. Akibatnya, sebagian orang mendistorsi elemen ini sebagai ajang kritisi fenomena sosial itu. Skandal politik yang Sari temukan bisa menjadi sentilan kepada para politisi yang mendzalimi statusnya sebagai wakil rakyat. Fanatisme dan militansi pendukung salah satu calon juga tak akan lepas dari wacana tersebut. Tapi, agaknya kurang tepat untuk menitikberatkan diskusi ini dalam film Joko Anwar. Justru, hal itu akan merusak pengalaman menonton A Copy of My Mind secara menyeluruh.

Untuk sekarang, cukup nikmati A Copy of My Mind seadanya. Jangan memberatkan idenya dengan intelektualitas setengah matang tentang hal yang sebenarnya tidak penting. Atau, anggap hal itu sebagai potret, yang tak bermaksud menggurui atau menyuapi opini, hanya membukukan satu kejadian. Lagi pula, potret-potret itu yang akhirnya menyusun A Copy of My Mind menjadi salah satu film yang wajib ditonton.

Pada akhirnya, tersisa Joko Anwar, yang dalam setiap membuat film, menuangkan cintanya terhadap sinema. Tidak ada kesan sok suci atau maha tahu dalam filmnya. Film ini tidak bermaksud mendikte, apa lagi berusaha menelaah permasalahan sosial. Bukan pula film yang digarap untuk mengagungkan nama seni. A Copy of My Mind adalah satu cara sederhana untuk menuangkan liarnya pikiran dengan lugas. Joko Anwar, merujuk ke perkataannya sendiri, menjadikan film sebagai bentuk pendekatan spiritual. Film menjadi media untuk mengenali dan menggali dirinya sendiri, siapapun itu jadinya. Jangan terlalu dipikir dalam, nikmati saja apa yang bisa dinikmati. [WARN!NG/Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response