close

[Movie Review] Ada Apa Dengan Cinta 2

AADC 2
AADC 2

Sutradara: Riri Riza

Produser: Mira Lesmana

Pemain: Nicholas Saputra, Dian Sastrowardoyo, Titi Kamal, Sissy Priscillia, Adinia Wirasti

Durasi: 112 menit

Studio: Miles Films (2016)

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Sejak awal wacana kemunculannya, AADC 2 menyimpan dua potensi: mengacaukan imaji penggemar film pertamanya atau justru mampu jadi penyedia resolusi nasib hubungan Rangga dan Cinta. Sayang sekali, potensi yang pertama kali terucap lebih jelas kentara dari yang kedua disebut.

Cinta, Milly, dan Maura menjelma jadi sosialita ibu kota. Masing-masing terlihat punya karir cemerlang, atau setidaknya pasangan klimis, tampan pun mapan. Sembari haha-hihi di sudut kedai kopi, mereka ngobrol setengah berbisik saat nama Karmen mencuat di perbincangan. Anak basket yang sangar itu baru saja kesandung skandal narkoba. Dia cuma kebetulan salah gaul aja, ujar Cinta. Setelah keempat personil geng populer komplit terkumpul—minus Alya, Cinta mengusulkan ide reuni ke Yogyakarta merangkap selebrasi sembuhnya Karmen. Sekalian datang ke pameran seninya Eko Nugroho, begitu katanya. Teman-teman Cinta yang dulu terlongong kala mendengar nama Chairil Anwar kini kembali dibuat bengong dengan nama Eko Nugroho.

Problematika khas urban yang muncul di AADC 2 sedikit banyak mengingatkan penulis pada Arisan! garapan Nia Dinata. Bedanya, AADC 2 terkesan asal-asalan. Kalau sedang ada masalah rumah tangga tapi nggak ada teman curhat, ujungnya narkoba. Kalau waktu remaja hidup di keluarga kurang harmonis lantas sempat coba bunuh diri, besar kemungkinan mati muda. Bukannya mengakrabkan penonton pada realitas sebenarnya, penyusun skenario malah kelihatan tak ingin ambil pusing dengan latar belakang masing-masing karakternya. Kesimpulan serba-praktis yang jadi fondasi cerita otomatis membikin skeptis meski film baru menginjak paruh pertama.

Lalu Rangga kemana? Di tengah riuh rendah New York, ia lebih suka terpaku di depan monitor dan menekuri karya Haruki Murakami. Bisa saja pergeseran koleksi buku jadi faktor kuat yang mengubah perangai Rangga dari sinis menjadi lebih sendu. Layaknya tokoh rekaan Murakami, ia lebih rentan risau dengan kesepian yang diciptakannya sendiri. Benar-benar mampus dikoyak-koyak sepi Rangga ini. Sampai pada suatu ketika ia dipaksa pulang ke Indonesia setelah sekian lama. Beragam masalah dari masa lalu dibawa lewat perantara adik tiri misterius yang kebetulan mampu meyakinkan sponsor untuk menyusul ke Amerika, mengingat dewasa ini semua bisa dicari lewat sosial media.

Di AADC 2 ini memang tokoh Rangga lebih terekspos. Sesuai dengan poster film yang gantian menempatkan wajahnya ke arah depan, sementara Cinta berada di posisi samping. Kalau 14 tahun silam penonton sudah cukup termanjakan dengan kernyitan sinis atau senyum simpul tanggung Nicholas Saputra, di sini ia lebih ekspresif. Nyatanya penggalian tokoh Rangga tidak banyak membantu jalannya film ini. Alih-alih memperkuat pembangunan karakternya, Rangga yang kepalang dikultuskan sebagai sebuah ikon justru turun derajat. Rangkaian kalimat yang keluar dari mulutnya tidak semagnetis dahulu. Kini yang tersisa hanya penggunaan kata sapaan saya dan kamu, selebihnya cuma kuliah subuh buat Cinta soal apa bedanya travelling dan liburan.

Kita semua tahu bahwa Rangga dan Cinta nyata mutlak bedanya, maka dari sinilah kisah mereka jadi menarik. Dulu keduanya sempat berseteru lantaran Rangga merendahkan gaya pertemanan anak-anak gaul seperti Cinta yang dangkal dan ikut-ikutan, nggak prinsipil. Sekarang pun tak banyak berubah, Cinta sempat marah gara-gara Rangga mengomentari kemapanan tunangannya yang berkat warisan orang tua. Dan cuma sebatas itulah pendewasaan konflik para lakon AADC 2.  

Perlakuan film ini terhadap kisah Rangga-Cinta harusnya bisa lebih diseriusi. Alangkah indahnya kalau dikemas sebagai kisah perjalanan layaknya Jesse-Celine di trilogi Before-nya Linklater. Ekspektasi memang membunuh. Keintiman interaksi mereka nyatanya sebatas diwujudkan lewat scene-scene romantis berlebihan dengan eksploitasi paras elok masing-masing. Bukannya memperdalam atau mendewasakan dialog, AADC 2 lebih suka memparadekan gombalan Rangga di tempat-tempat wisata eksotis.   

Pengambilan gambar di Yogyakarta tak ubahnya pemanis belaka. Mungkin saja ingin mengulangi kesuksesan ‘mengedukasi’ pasar dengan nama-nama seniman dan buah karya mereka melalui beragam cameo artis lokal yang mendunia. Tapi lagi-lagi eksekusinya tidak sepenuh hati. Namun penampilan kelompok Papermoon Puppet Theater boleh diapresiasi lebih. Pementasan yang ditonton Rangga dan Cinta di sela-sela perjumpaan mereka ini menggambarkan rasa kerinduan dan kehilangan yang sama. Pertunjukan berjudul “Secangkir Kopi dari Playa” berasal dari kisah nyata seorang eksil yang selama 40 tahun dipaksa berpisah dengan calon istri dan tanah airnya karena situasi politik.

Agak sulit mengerti AADC 2. Film ini entah ingin mencapai banyak hal, atau memang cuma proyek dadakan Mira Lesmana yang janji akan buat lanjutan AADC asal Pendekar Tongkat Emas banyak ditonton. Pasalnya rentang waktu 14 tahun dari film pertama tidak membuat AADC 2 melanjutkan mutunya. Secara umum selorohan leluconnya masih nyaman dinikmati, tapi bukan sebagai film ikonik yang perlu dibikin sekuelnya–yang kelak lebih pantas disebut iklan berdurasi hampir 2 jam pun konon tembus 2 juta penonton.

AADC? (2002) punya alasan buat disebut sebagai penanda kebangkitan perfilman nasional. Selain kisahnya yang sederhana dan dekat dengan penonton. Tidak banyak film seputar percintaan remaja yang mengikutsertakan referensi literatur dari biografi penyair pembangkang yang suka plesir ke pangkuan tunasusila. Selain itu, ia juga berani mengambil latar belakang politik pasca-reformasi untuk jadi bumbu cerita. Tentu hal-hal tersebut jadi dobrakan tersendiri bagi pasar film kaum muda pada masanya dan mampu menetapkan standar yang sulit dilampaui. Perlu diakui kalau AADC 2 bukan lawan yang sekelas, apalagi kalau referensi yang dicomot kelewat praktis seperti canggihnya gawai berikut aplikasi pesan singkatnya. Tampaknya Riri Riza dan Mira Lesmana  tidak menyadari konsekuensi terantuk bumerang–yang mereka lempar 14 tahun silam–ketika memutuskan lanjut memproduksi AADC bagian dua ini.

Akhir kata, AADC 2 baiknya ditonton saja untuk obat penasaran, tapi kalau hendak cari jawaban lebih, mending urungkan niat dan cukupkan puas daripada merasa dikhianati. [WARN!NG/ Adya Nisita]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response