close

[Movie Review] Another Trip to the Moon (Menuju Rembulan)

1211658_Another Trip To The Moon 1
another trip to the moon
another trip to the moon

Director: Ismail Basbeth

Kalau Trip to the Moon garapan Georges Melies memproyeksikan soal kemajuan berpikir umat manusia mengeksplorasi semestanya, Another Trip to the Moon milik Ismail Basbeth hendak menyampaikan rasanya berada di medan yang senantiasa menolak seperti layaknya di permukaan bulan sana.

Another Trip to the Moon adalah film yang sunyi, tidak ada sepatah kata pun dalam bahasa sehari-hari diucapkan, namun tak mengikis fungsinya untuk berbahasa. Bukankah sebetulnya bahasa ialah wujud koneksi paling sederhana dengan orang lain? Si gadis berkulit eksotis dan gadis yang kulitnya lebih terang selalu berbahasa meski tanpa aksara. Mereka menyanyi, bertatap, terbaur dalam rutinitas yang ternyata saling mengutuhkan satu sama lain. Lantas, ketika satunya pergi? Tentu akan jadi timpang, tak beraturan, semuanya jadi mati, berubah artifisial. Basbeth mengemasnya berbeda pakai simbolisasi jenaka berupa ikan-ikanan plastik dan kelinci mainan berbaterai.

Basbeth pandai mencampuradukkan semesta, siapa bilang dukun tak bisa pakai ilmunya untuk panggil UFO dan pom bensin tak bakal berdampingan dengan hutan bernuansa prehistorik. Semua halal, karena bukan saatnya berdebat soal logis-tidak logis, ini soal mengemas rasa yang memang berada di ranah yang tidak terjangkau nalar. Seringnya apa yang dirasa tidak punya padanan kata, dan film ini berusaha mengonstruksikan kembali gagasan tersebut.

Menariknya, dua tokoh perempuan utama yang tak bicara tadi tetap diberi nama oleh sutradara. Lantas apa pentingnya, toh mereka tak pernah memanggil satu sama lain dan penonton pun tak bakal keliru membedakan keduanya. Lagi-lagi ada sisipan makna dari hal yang kesannya trivia. Asa (Tara Basro), gadis berkulit eksotis pergi dari ibunya yang seorang dukun. Ia menolak dikekang jalan hidup yang sudah ditentukan oleh ibunya, lalu memilih lari ke belantara hutan dengan Laras (Ratu Anandita), gadis yang kulitnya lebih terang. Kata asa sering pula diartikan sebagai ambisi, ia meluncur seperti anak panah yang bebas. Tak lain dengan Asa, ia adalah sosok yang ingin lepas dari bayang-bayang ibunya, menghidupkan ambisinya jadi pribadi yang merdeka. Laras pun begitu, namanya bukan berarti tanpa arti. Kata laras bisa jadi penyeimbang asa, ia adalah busur panah yang mengarahkan anak panah agar tak sembarang meluncur tapi punya arah tujuan.

Dukun tadi tak mau habis akal membawa pulang anaknya, ia turunkan petir siang bolong buat merenggut Laras, tak tanggung-tanggung ia pun mengutus UFO untuk membawa sisa jasad Laras agar anaknya tak punya alasan lagi buat tetap tinggal. Ibu dukun juga mengirimkan seorang anjing hitam jadi-jadian, mengingatkan penonton dengan cerita rakyat Dayang Sumbi yang beristrikan Tumang, seorang dewa yang dikutuk jadi anjing. Rasanya berubah teatrikal melihat anjing dan beberapa binatang hutan diperankan langsung oleh manusia dengan kamuflase topeng. Bisa jadi ini simbol kekuatan ibu dukun bahwa sejauh apapun Asa berusaha lari, maka sejauh itu pula sihir dan kuasa ibunya mengikuti.

Akhirnya Asa menyerah, ia merasa hilang arah tanpa kekasihnya Laras. Seperti anak panah yang larinya tak karuan tanpa kehadiran busurnya. Asa kembali pada ibunya, dinikahkan dengan anjing hitam jadi-jadian, dan menjalani hidup jadi penerus ilmu seperti apa yang digariskan oleh sang dukun. Meski hidupnya sudah jauh dari hutan tapi tak lantas kenangan berhenti menggerogoti batinnya. Tanpa ibunya ia jadi lebih leluasa. Ilmu dukun yang makin bertambah justru membuat Asa punya kuasa menciptakan delusi dan “mengembalikan” kekasihnya Laras. Kisahnya memang berakhir sampai di sini, tapi penonton tidak begitu saja dipersilakan pergi. Silahkan menerka, melanjutkan dongengnya, meraba-raba kemungkinan selanjutnya. Kisah ini akan bisa jadi sepanjang perjalanan kita menanggalkan belenggu yang membatasi diri seperti apa yang dilakukan Asa, melepaskan kekangan, menerbangkan angan menuju rembulan. [Adya Nisita]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response