close

[Movie Review] ANT-MAN

Ant-Man-Movie

Ant-Man-Movie

ANT-MAN

Director : Peyton Reed

Sebuah premis dimana seorang superhero memiliki kemampuan untuk mengecilkan ukurannya dan berkomunikasi dengan serangga memang terdengar menggelikan. Terlebih lagi ketika ada ide untuk mengangkat kisahnya ke layar lebar. Tapi bagaimanapun, sulit rasanya untuk menampik rasa penasaran untuk menonton semua film dengan emblem Marvel di depannya. Tidak usah dipungkiri lagi.

Ya, Scott Lang bukanlah seorang pengusaha kaya raya dengan baju zirah canggih atau tuhan bersenjatakan palu ajaib. Dia bukanlah siapa-siapa dalam semesta yang disesaki oleh superhero macam Captain America, Vision, ataupun Hulk. Nama Ant-Man sendiri masih terhitung kacangan dalam semesta yang bioskop-bioskopnya dipenuhi film superhero dalam belasan tahun ke belakang, dan ke depan. Scott Lang hanya seorang mantan napi, yang karena simpulan nasib di luar kendalinya harus merombak diri menjadi seorang Ant-Man. Meski begitu, siapa sangka adaptasi film Ant-Man bisa begitu menghibur?

Cerita diawali di tahun 1989, dimana Hank Pym (Michael Douglas) mati-matian menjauhkan tangan SHIELD dari temuannya, Pym Particle. Lompat ke masa kini, Scott Lang (Paul Rudd) baru saja bebas dari penjara lantaran melakukan pencurian di perusahaan tempat ia bekerja dulu. Demi membela tokoh utama kita ini, perusahaan yang dimaksud adalah tipikal korporat yang tamak dan menjunjung tinggi kapitalisme. Terima saja begitu adanya, supaya kalian bisa lebih mudah bersimpati pada Scott Lang. Status mantan narapidana menyulitkan dirinya untuk mendapatkan pekerjaan demi menafkahi putrinya.

Tak kunjung berhasil, Scott nekat untuk kembali ke jalan kriminal bersama ketiga temannya. Rupanya, rumah yang ia jadikan target operasi tak lain dihuni oleh Hank Pym. Di sana, bukan tumpukan uang atau logam mulia yang ia temukan. Melainkan sebuah setelan jaket yang mengingatkan pada kostum Satria Baja Hitam. Kostum itu sendiri ditenagai oleh Pym Particle yang memberikan kemampuan Ant-Man.

Usut punya usut, Hank Pym sendiri membiarkan Scott mengambilnya sebagai sebuah tes, yang berakhir pada keyakinan bahwa Scott pantas menjadi seorang Ant-Man. Bersama anak Hank Pym, Hope Van Dyne (Evangeline Lilly), mereka bertiga merencanakan misi untuk menghentikan Darren Cross/Yellowjacket (Corey Stoll) dari niatnya untuk mereplikasi Pym Particle dan mengaplikasikannya untuk, simpelnya, hal yang jahat. Tidak usah banyak bertanya, tidak banyak nilai moral yang jatuh ke area abu-abu dalam Ant-man.

Secara keseluruhan, Ant-Man dieksekusi dengan baik. Peyton Reed sebagai sutradara rasanya paham benar seberapa ‘besar’ Ant-Man dibanding film-film superhero lainnya. Alhasil, kita disuguhi hiburan yang dikemas sesederhana mungkin. Tak ada entitas asing yang mengancam manusia secara global. Meski begitu klise, pada akhirnya hanya ada seorang bapak yang rela melakukan apa saja demi membahagiakan anaknya. Meski terombang-ambing antara kekonyolan rekan kriminil Scott Lang (Michael Pena, T.I., dan David Dastmalchian) dan hubungan dengan putrinya yang menyentuh, pada akhirnya tidak banyak yang bisa diprotes. Edgar Wright dan Joe Cornish mendapatkan salut dalam penulisan naskah yang mengalirkan narasi Ant-Man dengan baik.

Ukuran Ant-Man sendiri memberikan kita perspektif baru dalam visualisasi adegan aksi. Kapan lagi kita bisa melihat seorang superhero bertarung dalam koper sambil diiring “Disintegration” dari The Cure atau beradu jotos di atas model kereta api. Tak lupa pula adegan heroik Ant-Man yang berujung pada petualangan ke dalam realitas subatomik yang trippy. Mengingatkan kita pada Interstellar dimana Cooper terjebak dalam ruang lima dimensi. Berhubung judul film itu sudah disebut, kata “Ant-terstellar” rasanya akan sulit untuk tidak disebut. Lagipula kedua film itu ditopang oleh kemiripan dalam relasi ayah-anak yang terasingkan. Selain itu, sulit juga untuk tidak teringat pada film keluarga seperti Honey, I Shrunk the Kids. Tetapi, Ant-Man memberikan kesenangan yang berbeda, sejenis kesenangan yang didapat ketika pertama kali menonton Iron Man.

Terlepas dari Marvel Cinematic Universe yang semakin membengkak, ditambah lagi dengan perlawanan balasan dari DC yang akan datang, Ant-Man hadir sebagai pengingat. Sebuah film superhero dapat tampil begitu sederhana, hampir tanpa substansi atau kemegahan, namun secara gamblang tetap menghibur penontonnya dengan formula generik. Sehingga pada akhirnya, ‘Ant-Man will return’ menjadi sebuah janji yang harus ditagih. Pernyataan tersebut turut mengangkat beberapa pertanyaan. Melihat rencana Marvel ke depan, tak lupa pula mid- dan post-credit scene Ant-Man, mudah saja untuk mengantisipasi kehadiran Ant-Man di film mereka selanjutnya, Captain America: Civil War. Lalu, bagaimana nantinya pasukan semut Scott Lang bersanding bersama superhero lain yang jauh lebih ‘besar’? Ah, lupakan saja. Tak usah dipikirkan dan nikmati dulu Ant-Man.[WARN!NG / Kevin Muhammad]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response