close

[Movie Review] Batman v Superman: Dawn of Justice

Dawn-Of-Justice-1

Director                : Zack Snyder

Cast                       : Ben Affleck, Henry Cavill, Gal Gadot, Amy Adams, Jesse Eisenberg, Jeremy Irons

Durasi                   : 153 menit

Studio                   : Warner Bros. Pictures (2016)

[yasr_overall_rating size=”small”]

Dawn-Of-Justice
Dawn-Of-Justice

Bagaimanapun hasilnya film ini, wacana mengenai Batman v Superman: Dawn of Justice tidak akan lekas hilang dari mulut masyarakat dengan waktu cepat. Lebih dari sekedar film, Batman v Superman adalah sebuah momen besar. Coba baca kembali judulnya. Jika saya 10 tahun lebih muda, rasa merinding akan menjalar cukup dengan membaca judul tersebut. Satu jam masuk ke dalam film, rupanya menjadi 10 tahun lebih tua tidak pula mengurangi rasa merinding itu. Tapi bagaimana dengan sisa durasi 90 menit setelahnya?

Selayaknya reinkarnasi Batman, Batman v Superman dimulai dengan kilas balik kematian kedua orang tua Bruce Wayne. Kita sudah tahu kalau tragedi ini yang mendorong Bruce Wayne untuk menerapkan caranya sendiri dalam menegakkan keadilan. Meski ketika menonton versi ini, saya harus berusaha sekuat tenaga untuk tidak melakukan standing ovation dalam bioskop. Lantaran terkagum-kagum dengan setiap shot yang mengiringi Martha Wayne menemui ajal. Signifikansi tragedi usang tersebut baru terlihat ketika dijajarkan sebelum scene pertarungan besar yang meratakan Metropolis di Man of Steel. Kali ini lewat sudut pandang Bruce Wayne yang sudah termakan usia.

Merefleksikan kembali plot Batman v Superman hingga titik ini membuat saya berpikir kalau ada baiknya keseluruhan film diambil dari sudut pandang Bruce Wayne. Sebagaimana sumber inspirasinya yang tak lain adalah serial komik legendaris, The Dark Knight Returns. Tapi kalau begitu, seharusnya film ini berjudul Batman f Superman, dimana “f” merupakan singkatan dari, ya, coba pikirkan sendiri. Tentunya ide ini tidak akan direstui Warner Bros. karena dijamin menutup keran profit mereka dari franchise selanjutnya.

Kembali ke plot yang ada, kejadian di Metropolis ini, dibantu provokasi Lex Luthor, mendorong Bruce Wayne untuk menghentikan kedigdayaan Superman. Di tengah tensi yang terbangun antara kedua tokoh tituler, sesekali Diana Prince, atau dikenal pula sebagai Wonder Woman, datang dan sibuk mengurusi acaranya sendiri. Kecantikannya terkadang kurang menutupi kekosongan urgensi atas kehadirannya. Meski begitu, melihat daya tarungnya di babak akhir film tetap menjadi bagian yang menarik.

Sejujurnya, ada harapan lebih ketika mengetahui Chris Terrio dan David S. Goyer sebagai penulis naskahnya. Namun, setiap set piece yang mereka siapkan begitu mudah untuk diraba jauh sebelum dimulai. Karakter sampingan, termasuk Lex Luthor dan Wonder Woman juga terus terasa kekurangan substansi, walaupun kehadirannya dalam sebuah scene memberikan sentuhan tersendiri. Begitu pula dengan alegori tuhan, iblis, dan manusia yang banyak tercecer, utamanya dari mulut Lex Luthor. Penyampaian yang kurang halus dan sembarangan membuatnya terasa runtuh karena beban sendiri. Jangan pula berharap terlalu tinggi terhadap duel Batman dan Superman. Pertandingan gladiator terbesar sepanjang sejarah ini, meski menegangkan, terasa terlalu singkat dan terlalu mudah usai.

Namun, kekurangan ini ditutupi oleh estetika visual Zack Snyder yang tak henti menuai kagum. Paling mengejutkan, dan yang baru saya sadari, adalah musik garapan Hans Zimmer dan Junkie XL. Komposisinya yang dinamis mampu mengiringi setiap scene. Terasa megah dan cadas secara bersamaan. Akting mumpuni Ben Affleck dan Henry Cavill sebagai tokoh utama juga mampu menutupi dangkalnya naskah yang ada.

Apresiasi lebih harus ditujukan kepada Ben Affleck yang dalam film pertamanya sebagai Batman langsung mengambil perhatian. Tidak berlebihan rasanya kalau mengklaim Ben Affleck sebagai Batman terbaik. Hal ini tak terlepas dari elemen kejutan dari caranya membawa karakter tersebut. Bahkan dari hal terkecil seperti caranya menghajar lawan dengan begitu kasar. Persetan dengan aturan Batman yang tak pernah membunuh dan anti senjata api. Ketika dihadapi oleh seorang alien maha kuat, segala cara dihalalkan. Ia bahkan tidak ragu untuk mengikuti judi Mandingo ala Django Unchained untuk sekedar mendapatkan intel dari seorang mafia Rusia.

Supaya terasa adil, ada baiknya saya mengatakan hal ini terlebih dahulu. Saya benci Superman. Mungkin ada ribuan alasan yang bisa saya sampaikan, walaupun tidak ada yang penting. Lagi pula, benci rasanya tidak perlu alasan. Tapi, saya membela Man of Steel sebagai film yang, setidaknya, layak untuk ditonton. Banyak orang yang mengkritisi kehancuran kota Metropolis akibat pertarungan akhir antara Superman dan General Zod sebagai bagian yang merusak film. Itu sangat tidak masuk akal.

Mereka hidup dalam realita superhero, tentu saja warga tak bersalah akan mati sia-sia. Penyakit jantung dan pola hidup tak sehat bukanlah ancaman besar bagi hidup mereka. Serangan alien jahat sudah seperti banjir yang tiap tahun melanda Jakarta. Nyawa mereka tidak memiliki nilai, kecuali dalam perhitungan statistik. Mereka adalah cangkang telur yang harus dipecahkan untuk membuat telur dadar.

Sayangnya, Batman v Superman terlalu sering berusaha memperbaiki kesalahan itu. Terlalu sering hingga pada taraf mengganggu. Ketika Doomsday melepaskan gelombang energi yang dahsyat, kita tidak perlu tahu kalau pusat kota telah lengang lantaran libur nasional. Pemerintah pun tidak perlu menunggu Superman dan Doomsday melayang ke luar angkasa untuk menghancurkannya dengan bom nuklir. Apakah kurang bijak untuk meledakannya di pusat kota? Apa yang begitu salah dari mengorbankan satu atau dua juta warga sipil demi menyulut kekaguman dan kesenangan kami, para penonton? Syukurlah nantinya rilisan DVD dan Blu-Ray Batman v Superman akan menggunakan rating R.

Usaha Warner Bros. untuk menarik sebanyak-banyaknya penonton dengan mencari jalan tengah antara membuat generalisasi konsep film superhero yang “gelap” dan plot serba aksi terasa berlebihan. Perpaduan itu memberikan efek tanggung. Konsep menjadi sebuah paksaan, bahkan beban. Layaknya seseorang yang harus berdandan nyentrik karena mengemban label seniman. Langkah ini memang bisa dimengerti, setelah kegagalan Green Lantern yang begitu memalukan, ada baiknya mereka berpatokan pada formula sok serius yang diterapkan trilogi Batman milik Nolan. Tapi itu saja tidak cukup.

Bahkan seorang Christopher Nolan, terutama seorang Christopher Nolan, sadar akan batasan yang ada. Dia memilih untuk bereksperimentasi di dalamnya. Zack Snyder, di sisi lain, juga sadar akan batasan-batasan tersebut. Namun, sebagaimana yang ia perlihatkan di Watchmen, ia tidak ragu untuk menembusnya.

Mungkin itu alasan mengapa Zack Snyder adalah sutradara yang paling tepat untuk menggarap film superhero, di samping estetika visualnya. Terutama untuk mengadaptasi materi dari DC yang memang lebih serius dan kasar jika dibanding Marvel. Sayangnya, agenda Warner Bros. untuk membangun semesta sinematik ala Marvel sepertinya kurang memberi kebebasan kreatif bagi Zack Snyder sehingga mereduksi Batman v Superman menjadi sekedar batu loncatan. Tapi sebagaimana yang ditekankan di atas, tidak perlu membuat suatu dobrakan tersendiri ketika Anda membuat film yang mengadu dua nama superhero paling terkenal.

Tentunya masih ada angan-angan kalau mimpi buruk Bruce Wayne menjadi kenyataan. Dimana duel maut ini, ditambah dengan terbelahnya opini publik terhadap Superman, memicu sebuah kekacauan global dan perang sipil. Oh, sepertinya saya harus menunggu beberapa bulan lagi untuk menyaksikan tragedi macam itu.[WARN!NG/Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response