close

[Movie Review] Battle of Sexes

BoTS_Alternate_KA_Promo

Review overview

WARN!NG LEVEL 8.2

Summary

8.2 Score

Jonathan Dayton dan Valerie Faris

Sports, Drama

Apa saya peduli dengan nasib Maggie Fitzregald di Million Dollar Baby? Apakah Rocky bisa turun ring tanpa babak belur di tangan tukang pukul Uni Soviet? Atau bagaimana jika Lightning McQueen dipermalukan karena kalah telak dari versi animasi Avanza? Bodo amat.

Battle of Sexes adalah film olahraga pertama yang membuat saya benar-benar berharap tokoh utamanya menang.

Film ini mengangkat sejarah pertandingan tenis antara Bobby Riggs dan Billie Jean King di tahun 1973. Kenapa dinamakan “Battle of Sexes”, lantaran motif diadakannya pertandingan berhadiah 100 ribu dolar AS ini melibatkan tensi konflik gender yang meluas ke publik dan media massa. Riggs adalah seorang sauvinisme pria klasik yang suka berkoar-koar bahwa wanita hanya berguna di dapur dan ranjang, sementara King adalah jawara tenis perempuan yang sama galaknya antara di lapangan dengan di arena struktural kompetisi yang timpang bagi petenis wanita.

Saya belum tahu hasil akhir pertandingan tersebut di kehidupan nyata saat pertama kali menonton film ini, maka saya masih sangat tegang dan harap-harap cemas King bisa menang dan menyumpal mulut–juga syukur-syukur mengubah pola pikir—Riggs.

Tapi ketika menonton film ini untuk kedua kalinya, ternyata masih tetap bikin deg-degan, seakan-akan ending-nya bisa berubah. Sialan, heroisme film ini emosional sekali.

Bobby Riggs adalah pensiunan petenis berusia 55 tahun yang mencatatkan namanya di catatan emas tenis dunia. Atas sederet kemenangannya di ajang-ajang berkelas, ia tercatat tiga kali menjadi pemuncak peringkat petenis nomor satu sedunia, yakni pada tahun 1939, 1946, dan 1947. Kelebihannya tak terletak pada keunggulan fisik, melainkan gaya main taktis, akurasi pukulan, dan kontrol drop shot dan lob. Ia terlahir sebagai oportunis luar-dalam lapangan.

Diperankan oleh Steve Carell, Riggs ialah sosok yang bawel, caper, tipe teman yang humoris tapi sering kelewatan bercandanya. Sejak masih aktif sebagai atlit, Riggs sudah kecanduan judi. Ia mengaku mendapatkan 105 ribu dolar AS karena mempertaruhkan dirinya sendiri sebagai pemenang kejuaraan Wimbledon 1939. Dan ia benar-benar menang.

Setelah bertahun-tahun gantung raket secara profesional, Riggs mengeluarkan ide gila dengan menantang peringkat satu petenis wanita, Margaret Court (Jessica McNamee) untuk bertanding di sebuah pertandingan eksibisi dengan nilai taruhan besar. Selain untuk menarik uang banyak—dan pada dasarnya doi haus perhatian–Riggs juga punya misi misoginis, pembuktian bahwa wanita tak layak berada satu lapangan dengan laki-laki, baik itu dalam konteks pertandingan tenis ataupun relasi-relasi lainnya. Meski sudah pensiun dan tak lagi prima, namun ternyata Riggs masih mampu membantai Court dengan skor mutlak. Digelar tepat di Mother’s Day, peristiwa olahraga ini disebut sebagai “Mothers Day Massacre.” Riggs lalu masuk kover beberapa majalah, termasuk majalah Time, dan apa yang ia lakukan menjadi pukulan telak untuk gerakan perempuan yang sedang menggeliat kala itu.

Awalnya menolak tantangan Riggs di awal, King (Emma Stone) berubah pikiran. Ia terpantik untuk memberi pelajaran pada Riggs setelah melihat Court selaku rivalnya dipermalukan. Uang hadiah melonjak sampai 100 ribu dolar AS. Ketegangan isu gender yang dipicu oleh perang psikis antara keduanya makin menjadi-jadi karena King jauh lebih peduli soal itu dibanding Court. Riggs pun memberi makan perselisihan itu dengan makin sering mengolok-olok perempuan di media dan konferensi pers: “libber versus lobber”. Akhirnya pertandingan antara King dan Riggs mendapat gimmick yang lebih riuh untuk dijual, namanya pun keluar: Battle of Sexes.

Ditonton 90 juta orang—salah satu pertandingan tenis paling dikenang sepanjang masa– kali ini giliran King yang secara heroik melumat habis Riggs yang dijagokan sebelumnya. Riggs banyak melakukan blunder teknis, dan tak setenang biasanya. Berkebalikan dari King yang justru mengaku belajar dari kekalahan Court dengan bermain lebih kalem dan disiplin alih-alih agresif seperti gaya main aslinya.

Kemenangan King akan Battle of Sexes ini akhirnya menjadi salah satu momen penerimaan wanita yang terpenting dalam dominasi pria di wilayah olahraga, bahkan lebih luas lagi, kepercayaan diri kaum perempuan secara umum. Nama Billie Jean King tak akan terlupakan.

Margaret Court sendiri sebenarnya secara prestasi dan kualifikasi teknis lebih unggul dari King. Bahkan jika bicara di atas kertas, ia lebih baik dari semua pemain tenis yang ada di dunia, baik pria maupun wanita. Rekor-rekor yang ia pecahkan terlalu banyak. Tipe petenis wanita yang sangat tangguh secara fisik. Mobilitasnya di luar standar, ketahanan fisiknya amat prima sehingga jarang cidera, dan berbahaya setiap mengeluarkan pukulan-pukulan overhead. Saking perkasanya, banyak yang percaya Court kalah dari Riggs karena tak menganggap pertandingan itu serius (padahal hadiahnya bisa menyulapnya menjadi orang kaya baru). Pun di film, kita disajikan gambaran bahwa Court kalah karena memang menganggap itu hanya sekadar pertandingan tenis.

Beda dengan King. Ia dikenal cepat dan tangkas, namun punya masalah dengan pengendalian emosi. “kelemahan terbesarnya adalah ketidaksabaran,” tukas Chris Evert, salah satu petenis wanita unggulan di akhir dekade 70-an.

Akan tetapi, bertanding dengan Riggs tak hanya sekadar tenis dan uang banyak bagi King. Ini adalah pertandingan yang mempertaruhkan masa depan kaum perempuan, tentu saja termasuk nama baiknya sendiri setelah sudah terlanjur galak dengan Riggs dan elit-elit organisasi tenis lainnya. Ia percaya pada prinsip penting gerakan sosial, “kamu harus menjadi yang terbaik untuk bisa bersuara”.

Sebagai olahragawan, King memang dikenal dengan atensi yang lebih dari sekadar soal sportivitas. Ia militan dalam memperjuangkan kesetaraan bagi petenis-petenis perempuan.  Ia memimpin Original 9, kolektif berisi sembilan pemain tenis wanita untuk mendirikan Women’s Tennis Association (WTA), organisasi tenis profesional wanita sebagai tandingan  Association of Tennis Professional (ATP) yang cenderung memprioritaskan petenis laki-laki. Salah satu isunya adalah perbedaan uang hadiah bagi pemenang kejuaraan wanita yang makin senjang. Perbandingan 5 banding 1 di tahun 1969 membengkak menjadi 12 banding 1 di tahun 1970. Alasannya simpel, pertandingan tenis wanita dianggap tak mengundang penonton sebanyak pertandingan tenis pria.

King lalu memboikot US Open, dan membuat turnamennya sendiri. Tak main-main, WTA terus berkembang sampai sekarang. Bahkan, pada tahun 1977, WTA mulai membuka diri untuk menerima pemain transseksual. Makin ke sini, selisih kesenjangan hadiah dan pendapatan antara petenis pria dan perempuan makin kecil, sebuah perkembangan yang setiap pewartaanya tak lupa menyebut nama King. Menjelang 2007, selisih itu di ajang Wimbledon sudah setipis kondom, sehingga justru seakan hanya menjadi simbol superioritas laki-laki belaka. Desakan makin kuat, dan akhirnya, 34 tahun setelah Battle of Sexes, uang hadiah untuk petenis pria dan wanita menjadi sama di seluruh ajang utama Grand Slam. Sesuatu yang bahkan tak dibayangkan oleh King di awal pembuatan WTA.

Hasil gambar untuk the battle of sexes 2017

Sosok King diperankan dengan menawan oleh Emma Stone. Saya menonton Emma persis seperti saat saya terkesima menonton Michael Fassbender memerankan Steve Jobs di film biografi anak emas kapitalis itu. Takjub melihat sosok Stone yang sanggup berubah-ubah cukup radikal—salah satu indikator penilaian saya terkait kualitas aktor–dalam perannya di BirdmanLa La Land,dan kini King. Karakternya sangat persisten tanpa harus menjadi tomboi. Saya bisa membayangkan bagaimana kaku dan tipikalnya karakter ini jika diperankan oleh aktris lain, semacam akting-akting superhero wanita atau agen rahasia yang garang dan intimidatif. Di tangan Emma Stone, tokoh King tetap lovable. Sisi kewanitaannya tak mentah-mentah tertinggalkan. Ia mengeras hanya di detik-detik tertentu. Sikap penuh determinasi itu bisa terurai halus pada shot-shot close up yang menggambarkan keintiman dengan penata rambutnya atau ketika harunya meledak di ruang ganti. Anjir, benar-benar ingin memeluk rasanya! Persetan dengan nominasi aktris terbaik Oscar 2017, pilihan saya tahun ini tetap ke Emma Stone.

Atas bantuan Linus Sandgren selaku sinematografer La La Land, film ini bisa mereproduksi pertandingan bersejarah itu dengan gaya visual klasik. Perpaduan warna film 35mm yang melatari ramainya penonton di lapangan menghasilkan konten visual otentik, seperti menonton pertandingan bola di era-era Maradona (oke, ini rujukan saya mengingat pernahnya cuma menonton tenis meja di kantor PNS).

Otentik juga pada pembingkaian isunya. Tahun 1973 sebagai tahun helatan The Battle of Sexes masuk dalam rentang waktu yang disebut sebagai gelombang feminisme kedua, yakni 1960 sampai akhir 1980. Gelombang kedua ini lebih menyasar pada isu-isu personal dan keseharian dibanding gelombang pertama yang lebih pada sektor-sektor formal seperti hak pilih dan hal berpolitik. Salah satu isu terpenting yang ditanggulangi oleh gelombang kedua ini adalah masalah perebutan kesempatan kerja dan ruang ekonomi.

Fenomena persebaran sauvinisme pria sendiri jika ditelusuri memang berangkat dari perebutan ruang ekonomi itu. Penyakit itu menggejala sejak era setelah Perang Dunia II, setidaknya di Amerika Serikat. Para tentara Amerika Serikat yang pulang perang harus banyak bersaing mendapatkan pekerjaan yang sebelumnya ditinggalkannya dan kemudian diisi oleh para pekerja perempuan. Gegar budaya ini mengakibatkan timbulnya konflik perebutan lapangan pekerjaan, sekaligus pemantik sikap superior dari pria terhadap wanita.

Dalam wilayah olahraga, pendapat Riggs bahwa wanita hanya perlu berkarya di dapur dan ranjang adalah wujud rasa terancam dari seorang sauvinis terhadap ruang mata pencahariannya. Pendapat bahwa wanita tak layak dibayar setara dengan pria adalah perpanjangan dari pandangan bahwa wanita tak bekerja sebaik pria. Begitu juga atlit wanita dianggap tak bermain tenis semenghibur petenis pria. Karena dalam rentang waktu itu gerakan feminisme masih dalam fase perajutan kesadaran, maka reaksi-reaksi dari Riggs dan pebangga gender lain tidaklah mengejutkan. Mereka tak ragu mengejikan kaum wanita secara eksplisit di media massa.

Selain itu, permasalahan akses ekonomi ini juga akan menyeret pada isu domestik dalam struktur keluarga. Sauvinisme pria atau watak misoginis juga lahir dari rasa terancam para pria atas akses istri untuk mendulang pendapatannya sendiri. Hasrat dominasi dan sistem sosial yang mendukungnya akan keropos ketika pasangannya memiliki kemandirian ekonomi. Sedikit banyak, itulah kenapa kemandirian ekonomi menghindarkan wanita dari kekerasan dalam rumah tangga.

Dalam Battle of Sexes, kita diperlihatkan bagaimana sosok King yang memiliki kemandirian ekonomi tak menjadi subordinat dalam relasinya dengan sang suami. Untuk ukuran konteks era 70-an, sangat unik melihat bagaimana Larry King sebagai suaminya justru diperlihatkan sebagai karakter suportif. Sesama pemain tenis, Larry digambarkan menjadi partner yang mendukung karier King dengan tulus dan sabar. Bahkan, ketika King ketahuan selingkuh, Larry menunjukan toleransinya. Perannya terbalik 180 derajat dari skandal-skandal pelakor masa kini.

Apa yang membedakan Battle of Sexes dengan kebanyakan film olahraga lain adalah intensitasnya mengisahkan latar cerita tokoh oponen. Cukup banyak ruang yang diberikan sutrradara untuk menjelaskan motif dari antagonisme Riggs. Terlihat bagaimana Riggs merasa harus menciptakan pembuktian diri untuk bertahan dari dominasi istrinya secara finansial, termasuk pembuktian kepada anaknya juga. Kegemarannya merendahkan wanita di luar sana bisa jadi adalah kepayahan Riggs berdamai dengan tekanan kemandirian ekonomi istrinya. Seteru gender terjadi juga di wilayah keluarga Riggs sendiri.

Battle of Sexes ialah perdebatan struktur gender yang termanifestasikan dalam sebuah pertandingan tenis. Pada dasarnya, kemenangan King atas Riggs juga tak patut dianggap mewakili “kemenangan perempuan akan laki-laki”. Tak seimbang, karena pemain terbaik di masa primanya melawan seorang pensiunan. Justru akan menjadi inferior jika menganggap kemenagan tak seimbang ini merupakan kemenangan kaum. Toh dalam pernyataan King, perempuan hanya membutuhkan respek dari lawan jenisnya. Bukan mencoba membalikkan dominasi, melainkan upaya resistan.

 “I think you’re more ready than you know,” ujar Ted, perancang kostum King. Perempuan di era itu sudah siap untuk melangkah lebih jauh dengan menemukan gelombang keduanya.

Akan tetapi, sampai sekarang emansipasi itu belum tuntas. Bahkan, sebuah program TV ESPN yang rutin meliput secara kritis peristiwa-peristiwa olahraga sempat melaporkan bahwa Riggs sengaja mengalah. Alasannya, bursa taruhan di pertandingan itu terlalu timpang pada kemenangan Riggs, sehingga menjadi peluang mendapatkan uang kemenangan besar bagi mereka yang bertaruh pada kemenangan King. Dan ia diduga sengaja melakukannya untuk melancarkan skema pelunasan utang pada sekelompok mafia. Ah tapi taruhan yuk kalau ini cuma akal-akalan. Dugaan ini banyak disangkal, termasuk oleh putra Riggs sendiri. Lagipula mana mau ia terlihat kalah secara konyol di depan puluhan juta orang. Banyak juga yang curiga program TV itu hanya ingin melakukan penyangkalan untuk memuaskan para misoginis lainnya. Dari lingkungan terdekat saya hingga negara-negara paling liberal sekalipun, tantangan-tantangan semacam ini masih ada.

King sempat menyesalkan bahwa ia mungkin bisa menjadi petenis yang lebih baik jika tidak terlalu banyak fokus pada hal-hal di luar lapangan. Mengejutkan bahwa dilema seperti ini terjadi juga di luar jagat kesenimanan. Film ini memberikan saya dua objek kekaguman baru dalam satu sosok: Billy Jean King dan Emma Stone.

[Soni Triantoro / WARN!NG]

Tags : atlit wanitabillie jean kingbobby riggsfeminisme olahragamale chauvinismemisoginissauvinisme priatenisUS Openwimbledon
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response