close

[Movie Review] Black Mass

black-mass-johnny-depp

Director : Scott Cooper

Cast         : Johnny Depp, Joel Edgerton, Benedict Cumberbatch, Rory Cochrane, Jesse Plemons

Durasi   : 122 menit

Studio   : Warner Bros. Pictures

black mass
black mass

Entah itu karakter utamanya yang karismatik, atau nilai-nilai luhur yang inspiratif, film drama kriminal berkualitas selalu memiliki sudut pandang yang menarik. Dengan mengerti mengapa seseorang memilih berkarir di dunia kriminal terkadang membuat kita paham, meminjam judul lagu The Rolling Stones, “Sympathy for the Devil”. Atau setidaknya menemukan pembenaran dan membela tindakan-tindakan kriminal itu sendiri. Terkadang rasa sirik juga timbul ketika melihat seorang kriminil merengkuh “sukses” dengan dorongan determinasi yang kuat untuk membangun hidup dengan caranya sendiri. Dalam derajat tertentu, Anda bisa merasakan hal-hal tersebut ketika mengakar pada Michael Corleone atau Frank Costello. Banting setir ke ranah televisi, Anda akan menemukan hal yang sama pada diri Tony Soprano atau Walter White. Simpati terhadap para kriminal juga agaknya berekstensi jauh ke ranah literatur, kepada karakter Si Pitung atau Robin Hood contohnya, dan sampai ke tokoh-tokoh kriminal di dunia nyata.

Salah satu kriminal yang nyata itu adalah James “Whitey” Bulger. Lahir dan tumbuh di kerasnya daerah Selatan Boston, James Bulger selalu memiliki ketangkasan dalam dunia kriminal. Mengawali karir sebagai “local strongman” di tanah asalnya, James Bulger mendapatkan bantuan besar dari FBI, lewat teman masa kecilnya, John Connolly. Dengan bantuan itu, James Bulger beserta geng yang ia kepalai, The Winter Hill Gang, mampu melibas seluruh organisasi kriminal yang menghalanginya. Tak terkecuali Gennaro Angiulo, yang bekoneksi kuat dengan keluarga Patriarca. Hal menarik lain dari James Bulger adalah fakta bahwa adiknya, William Bulger, tak lain adalah Presiden Senator Massachusetts, salah satu pengaruh terkuat dalam ranah politik di masanya. Tentunya hal ini sungguh kontras dengan reputasi yang dimiliki abangnya, yang sebelum tertangkap di tahun 2011, menjadi buronan nomor satu FBI. Penggalan kisah hidup James Bulger dituangkan ke dalam Black Mass, arahan sutradara Scott Cooper.

Tidak bisa dipungkiri kalau hasil garapan Black Mass memiliki kesamaan DNA yang begitu kental dengan film-film drama kriminal garapan Martin Scorsese. Dari mulai premis hingga penggunaan narasi voice over lewat interogasi kroco-kroco James Bulger. DNA Scorsese bahkan begitu terasa ketika Anda memperhatikan corak paham Katolik yang tercecer di berbagai tempat. Mungkin inilah yang menyebabkan Black Mass begitu metodis. Narasi voice over yang disebutkan di atas terasa seperti bentuk gampang untuk mengisi konteks dan memajukan narasi. Visi Scott Cooper yang dibingkai oleh Masanobu Takayanagi juga tak lepas dari hal ini. Memang setaip shot garapannya tak bisa dibilang berantakan. Bahkan, sebenarnya menjadi pesona tersendiri dalam Black Mass. Hanya saja, tidak ada sesuatu yang baru di dalamnya. Bukan berarti itu adalah hal yang buruk, hanya saja bukanlah sesuatu yang inovatif.

Naskah garapan Jez Butterworth dan Mark Mallouk juga memiliki gravitasi yang kuat untuk menangkap bengisnya James Bulger. Dari awal hingga akhir, Black Mass mampu menjaga tensinya tanpa kehilangan tempo. Namun, terkadang inti cerita Black Mass justru ternodai oleh nilai-nilai yang mereka bangun sendiri. Seperti tragedi kematian putra James Bulger yang seakan ditempatkan sebagai pembenaran atas pilihan hidupnya. Hal yang sama juga berlaku pada kematian ibunya. Akibatnya, narasi yang tersusun rapih terkadang tidak membawa penonton kepada kesimpulan yang utuh. Melainkan hanya berputar-putar pada poin yang telah diketahui.

Beberapa karakter kunci juga mampu menemukan tempatnya, bahkan sesekali mampu menyamai intensitas James Bulger sendiri. Meski di waktu lain terasa kelewatan. Seperti karakter John Connolly yang diperankan Joel Edgerton. Agen FBI satu ini terkadang lebih terlihat seperti babon liar dibanding orang yang menghalalkan segala cara. Atau Kevin Weeks, yang terkadang berada di satu scene tanpa membawa suatu intensitas. Tetapi kekurangan itu banyak dikompensasi oleh akting mumpuni dari Joel Edgerton, Benedict Cumberbatch, Rory Cochrane, hingga Dakota Johnson dan Kevin Bacon.

Semua karakter itu berputar pada Johnny Depp yang memerankan James Bulger. Sejak pertama kali James Bulger duduk terdiam di Triple O’s Lounge, Anda bisa merasakan kehadiran satu entitas yang aneh. Anda harus bertanya dua kali untuk meyakinkan jika sosok yang Anda lihat adalah seorang manusia sungguhan. Make up yang digunakan Johnny Depp turut membantu membangun kesan jahat lewat warna kulitnya yang pucat dan mata birunya yang begitu mengancam. Ketika ia mulai berbicara, keanehan itu semakin terasa. Atmosfir yang terbangun di sekitarnya, bagaiman ia selalu berada dalam gelap atau sebagian wajahnya yang selalu terarsir bayangan semakin menimbulkan ragu. James Bulger tidak lagi sekedar manusia, jika memang masih ada sedikit kemanusiaan yang tersisa dalam dirinya. Ia adalah iblis yang menghantui Boston di masanya. Tidak ada alasan untuk bersimpati kepadanya.

Akting Johnny Depp sebagai seorang James Bulger benar-benar memberikan sesuatu yang berbeda jauh dari kesan stock character yang pernah anda lihat sebelumnya. Memang, ini bukan kali pertama Johnny Depp memerankan tokoh kriminal nyata. Namun di Black Mass, ia membawa karakter James Bulger ke dimensi baru. Pembawaan karakternya dalam Black Mass lebih terasa Willy Wonka atau Edward Scissorhand ketimbang Sebastian Jung atau John Dillinger.

Secara faktual, Black Mass tidak terlalu banyak menaruh kesetiaan. Beberapa hari lalu, Kevin Weeks, yang turut terlibat dalam kegiatan kriminal bersama James Bulger mengaku kecewa dengan Black Mass. Alasannya, ia tidak melihat James Bulger yang sebenarnya dalam film itu. Banyak pula kronologi yang disesatkan. Lewat wawancara dengan The Daily Beast, Kevin Weeks mengatribusi kekecewaan yang ia rasakan kepada Scott Cooper. Weeks merasa kurangnya konsultasi kepada pihak yang terlibat dalam kenyataannya menjadikan Black Mass sebagai murni fiksi. Mengingat CV yang ia miliki, rasanya klaim itu benar saja. Lagipula, banyak kejanggalan yang terasa sepanjang durasi Black Mass. Seperti ada polesan generik yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Kisah James Bulger pada kodratnya sudah menjadi sesuatu yang mengerikan.

Kendati demikian, jika memang ada substansi di dalamnya, Black Mass adalah penggambaran James Bulger sebagai sebuah enigma. Garapan teranyar Scott Cooper memang memiliki banyak kekurangan. Black Mass jauh dari kesempurnaan. Namun, jika Anda bisa menyetel frekuensi yang sesuai, Anda bisa melihat Black Mass sebagaimana adanya. Bahwa ini bukanlah film drama kriminal, melainkan film horror berdasarkan kisah nyata. Film ini, sepakat dengan pengakuan Kevin Weeks, bukan biopic James Bulger. Black Mass adalah mitologi setan bernama James Bulger, yang lewat komuni kelamnya bersama FBI, mampu menghantui Boston dengan kekejiannya.[WARN!NG/Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response