close

[Movie Review] Bone Tomahawk

bone-tomahawk
Bone Tomahawk
Bone Tomahawk

 

Director: Craig S. Zahler

Cast: Kurt Russell, Patrick Wilson, Matthew Fox, Richard Jenkins

Production: Caliber Media Company

Running time: 132 minutes

Year: 2016

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Membicarakan film bertemakan western tak dapat dilepaskan dari semesta kebudayaan Amerika yang tersusun berabad-abad silam. Sebuah kepingan yang tidak bisa dihiraukan begitu saja mengingat budaya western juga berandil besar dalam sejarah pembentukan Abang Sam. Proses yang panjang, akar rumpun yang menjalar kuat di bawah permukaan hingga fanatisme kepercayaan akan dominasi adalah beberapa faktor krusial mengapa budaya western menjadi cikal bakal kesombongan sebagai Negara adidaya. Kehidupan yang dimulai semenjak medio 1800 memberikan fondasi kuat bagi apa yang disebut hegemoni kultur. Entah realita sosial, dinamika politik, keagungan ras dan golongan sampai paham hedonisme yang tertancap kuat sedari dini. Kondisi sedemikian rupa nyatanya turut serta membentuk wajah Hollywood dalam perspektif basis perkembangan sinema yang dianggap mapan secara teknis maupun finansial. Para pelaku tak ingin ketinggalan perlombaan untuk melestarikan petuah western yang kemudian dituangkan ke bentuk narasi visual. Dari jaman Alfred Hitchcook yang kental dengan aroma noir atau simbol kemapanan cowboy milik Gary Cooper hingga kesuksesan Unforgiven garapan Clint Eastwood yang meraih kejayaan masif di karpet Oscar merupakan bukti konkrit bahwa pergerakan ranah western menyumbang kontribusi tak sedikit kepada akulturasi sistem dan ruang popularitas di mata penonton kebanyakan.

Anda tak usah terlalu berandai-andai membayangkan hal lain apabila menyaksikan sederet adegan pada film western; sekumpulan cowboy yang maskulin, kuda jantan yang gagah dengan poni lempar tertata, bar yang menimbulkan anomali keadaan berujung ajang saling penggal, tempat prostitusi yang sesak akan gemuruh nafsu penunggang, sesosok sheriff yang biasanya terlihat dungu serta pahlawan utama yang seketika datang untuk menyelamatkan penduduk dari segala jenis angkara murka. Bertempat di padang pasir yang tandus, di tepi barat benua atau mungkin di sentra kawasan Arizona-Texas-Wycoming, mereka beradu melawan kerasnya kehidupan; saling serang dan merobohkan sebelum peluru kaliber lima mili menembus bagian kepala.

Tak lama berselang, Bone Tomahawk rilis ke pasaran. Film bertajuk American horror western ini disutradarai oleh Craig S. Zaihler yang juga menandai debut penyutradaraannya secara penuh. Bone Tomahawk merupakan film fiksi; menceritakan perjuangan untuk menyelamatkan orang-orang di sekitar dari serbuan antagonis bernama troglodyte. Dikisahkan bahwa troglodyte merupakan semacam monster yang memiliki kemampuan mengesankan berupa kecekatan dalam memangsa daging manusia. Pada akhirnya kedatangan para troglodyte dari Valley of The Starving Men membuat warga merasa terancam di ambang batas. Terlebih saat mereka membawa Nick (Evan Jonigkeit), Samantha (Lili Simmons), dan Purvis (David Arquette) dari penjara sudut kota. Melihat kenyataan tersebut, maka sebagai sheriff yang mempunyai tanggung jawab atas keselamatan warga, Hunt (Kurt Russell) memutuskan menjelajah sarang troglodyte guna menjalankan misi pengamanan ditemani Arthur (Patrick Wilson), Brooder (Matthew Fox) serta Chicory (Richard Jenkins).

bone-tomahawk-scene
Bone Tomahawk

Zahler secara brilian memperkuat naskah yang ditulis dengan pemilihan cast tidak sembarang. Kurt Russell semakin menegaskan diri sebagai seorang deputi klasik yang kharismatik. Pesonanya tak usang ditelan waktu selepas kemunculannya di Hateful Eight yang menuai respon positif. Kemampuannya mengantarkan ke posisi yang menguntungkan; tanda kematangan tak dapat dikelabui. Pemeran lain pun juga mampu menyuguhkan performa impresif sekaligus menambah nilai kesan terhadap perjalanan drama yang diusung. Patrick Wilson, Matthew Fox, Richard Jenkins, Lili Simmons dan David Arquette tidak menyia-nyiakan kesempatan emas untuk menunjukkan potensinya sembari memberi pertanda kepada tiap pemegang aliran dana di luar sana agar tak ragu menggunakan jasa mereka. Terbukti tanpa tindak nepotisme.

Bone Tomahawk memberikan referensi baru bagi gaya sinematik film bergenre western. Ia menolak mengikuti arus laiknya film-film western lain; justru membangun jalan sendiri yang mengukuhkan identitas. Akan tetapi panjang durasi yang mencapai dua jam lebih cukup disayangkan. Secara keuntungan memang kronologis cerita dapat dijelaskan dengan menyeluruh mengingat pusaran konflik terus berputar dan memerlukan waktu tidak sedikit. Namun di sisi lain terhitung cukup adegan yang muncul seolah kehilangan marwah; terasa canggung dan kaku sehingga memaksa dahi berkenyit berpikir dua kali apa maksud dari semuanya. Terutama saat memasuki tiga per empat babak. Apalagi yang disajikan berupa gertak laga minim drama. Mau tidak mau harus bisa menjaga ritme supaya penonton tetap berpijar pada titik rangsang adrenalin.

Selaku sutradara, Zahler sekali lagi mampu menampilkan jalinan tali cerita yang terkonsep dengan penuh perhitungan. Tak hanya menoleh ke masa lalu untuk sekedar mendapatkan sumber inspirasi, ia juga menambahkan hal-hal berbau relevansi saat ini yang sifatnya mengokohkan transkrip gerak-gerik penjamuan. Merepresentasikan karakter yang sebisa mungkin tidak terjebak atas romantisme memori silam dan sejurus setelahnya menatap masa depan dengan mata kosong yang menyedihkan. Meski sama-sama memasukkan unsur villain berupa sesuatu yang mengerikan, setidaknya ia berhasil unggul jauh atas Cowboys & Alien yang degradasi kualitas. Bagi saya Bone Tomahawk merupakan produk kombinasi yang ramai; pengambilan sudut gambar seperti The Wild Bunch, dialog yang minim hiperbola bagaikan McCabe & Mrs. Miller, metamorfosis kencang bak film-film Tarantino serta ketakjuban western yang sepintas mengingatkan keberadaan Once Upon a Time in the West.

Kapasitas Zahler dalam meramu formula western patut diberi penilaian tinggi. Ia menjaga koridor kejujuran yang menjauhkannya dari dekadensi lebih-lebih memicu resistensi penolakan. Hasratnya yang menggebu mengarahkan ke napak langkah baru bagi karir sinemanya kelak. Dan Bone Tomahawk menemaninya mewujudkan mimpi yang ambisius tersebut. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.