close

[Movie Review] Cache (Hidden)

Cache

Review overview

WARN!NG Level 8.5

Summary

8.5 Score

 

Director: Michael Haneke

Cast: Daniel Auteuil, Juliette Binoche, Maurice Benichou

Production: Les Films du Losange, Wega Film, Bavaria Film

Year: 2005

Akhir-akhir ini saya sedang bosan dengan cerita drama yang terlampau mengaduk refleksi diri. Rasanya sudah cukup banyak dogma mengenai eksistensi, pencarian, hingga perpisahan anak manusia yang merasuk dalam pikiran. Lama-lama letih juga sebab imajinasi seperti terbentur oleh fraktur pemahaman yang membatasi antara fantasi dan dimensi realitas. Alhasil, untuk sementara waktu keputusan musti diambil; menyingkirkan badan dari pendulum melankolia barang sebentar saja.

Lantas apa yang harus dilakukan? Tanpa pikir panjang, rasa ketertarikan dengan sendirinya mengulik lebih dalam mengenai genre thriller; bukan horor maupun misteri makhluk halus yang mengisi rumah kosong dan merencanakan pelbagai serangan teror tak masuk akal berupa hidupnya boneka, misal.  Melainkan lebih ke ranah teka-teki, melibatkan pihak cerdas di belakang bersama intensitas naik turunnya tempo laga serta plot twist yang selalu dinanti.

Dari proses kurasi yang dilakukan, banyak ditemukan deretan film sesuai kriteria. Namun, prinsip selektif harus tetap diprioritaskan. Setelah mencari lebih dalam yang memfokuskan pilihan pada wilayah Asia dan Eropa, akhirnya muncul kandidat terkuat. Kelak, di mana pasca menyaksikan film tersebut perasaan menyesal tak keluar sedikitpun dari untaian batin atau ucap serapah di bibir.

Adalah Caché atau dalam versi internasionalnya bertajuk Hidden. Film Austria-Prancis besutan Michael Haneke ini berhasil membuat malam menjadi sangat panjang akibat efek yang ditimbulkan selepas menonton tertancap begitu kuat. Diproduksi tahun 2005, Cliché menceritakan mengenai teror misterius yang dialamatkan kepada keluarga Georges Laurent (Daniel Auteul).

Georges merupakan penyiar kondang di stasiun televisi swasta Prancis. Popularitasnya tersebar ke seantero negeri; mirip Karni Ilyas atau Najwa Shihab jika di Indonesia. Sampai suatu ketika istrinya, Anne (Juliette Binoche) mendapati kiriman rekaman video yang berisi visual tempat tinggal mereka. Sontak, rasa terkejut tak dapat ditolak dan terciptalah ketegangan demi ketegangan yang menjalar di sekujur tubuh. Menduga sosok seperti apa yang berada di balik layar teror semacam itu.

Awalnya mereka mungkin mengira kiriman video hanya keisengan belaka yang dilakukan remaja usia tanggung. Akan tetapi, pendapat mereka gugur dengan sendirinya karena kiriman video terus berdatangan bersama tambahan ilustrasi absurd yang mencerminkan motif tertentu. Merasa mulai dalam kondisi berbahaya, mereka melaporkannya ke pihak berwajib. Apakah pihak kepolisian bakal mengusut tuntas laporan mereka? Tentu saja tidak. Kecuali jika mereka diserang secara fisik, rumah dibakar, dan anggota keluarga dibunuh serampangan baru kepolisian dapat mengambil tindakan.

Pendapat awal berkata ada pihak lain yang memburu dan mempermainkan gejolak psikologis keluarga Laurent dengan kiriman-kiriman video tersebut sebelum sang pelaku membantainya satu per satu. Walau asumsi berkata demikian, nyatanya asumsi tetaplah asumsi yang kadang melintas di kepala kita tanpa paham asal usulnya. Di luar dugaan, aktifitas berburu maupun menyerang korban dengan membabi buta layaknya psikopat hilang akal tak terjadi adanya.

Caché berjalan tidak terlalu cepat. Dari awal tempo diatur begitu lambat oleh Haneke guna menyediakan pemahaman bagi penonton agar mengetahui detil tiap adegan. Apabila Anda mengharap tatanan sinematografi yang bagus laiknya film-film Deakins, jangan harap. Haneke justru mengambil sebaliknya; mempertontonkan wajah filmnya seasli mungkin agar Caché nampak terjadi di depan mata. Atau lebih tepatnya pengambilan gambar yang ia lakukan menyerupai film dokumenter dengan bantuan handycam Sony keluaran tahun 2000.

Saya mulai memahami alur cerita yang faktanya tidak berputar pada tragedi pembantaian pasca keluarga Laurent menerima video berisikan rumah masa kecil Georges. Setelah itu alur mulai bisa ditebak bahwa Caché bakal menyoroti masa lalu Georges. Dan ternyata betul adanya. Sang pengirim video berupaya membuka tabir masa silam Georges dengan rekaman video dan gambar pelengkap yang menyerupai sketsa seniman jalanan. Ternyata Georges pernah memiliki riwayat sedikit ironis di mana ia mengusir dengan sengaja calon anak adopsi orang tuanya yang berasal dari imigran, Majid yang diperankan Maurice Benichou.

Dalam kepingan-kepingan itu kita juga menangkap bahwa isu imigran dan tragedi berdarah Paris menjadi topik lain yang hendak Haneke sampaikan. Prancis masih mempunyai persoalan penting tentang imigran yang belum terselesaikan. Mereka menganggap imigran adalah benalu taman rumah yang wajib disingkirkan; entah cara kasar menyertakan aparat atau cara halus seperti manipulasi Georges kala mengusir Majid dari kediamannya.

Selain menyoroti masa lalu Georges serta isu imigran, Caché juga menyentil kondisi keluarganya terkini. Keluarga yang hanya terdiri dari tiga orang tersebut menyimpan bara konflik cukup banyak nan mendasar. Perselingkuhan istrinya, kurangnya perhatian, sampai ambisi satu sama lain yang membuncah bermekaran bak tawa riang musim panas.

Secara garis besar Caché berhasil mengecoh tafsir-tafsir pikiran. Terlebih asumsi Majid yang menjadi tersangka peneroran. Rasanya tak habis pikir mengapa Haneke bisa membuat jalan cerita begitu abstrak; mulai ditebak namun tiba-tiba hilang begitu saja menjelang babak pamungkas. Haneke sekali lagi menciptakan thriller yang tak hanya bertumpu pada tragedi darah; tapi menyentil kondisi batin dari korban. Dan dari semua ulasan di atas; pelaku teror tak pernah ditemukan jawabannya. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response