close

[Movie Review] Cafe Society

cafe-society
Cafe Society
Cafe Society

 

Director: Woody Allen

Year: 2016

Cast: Jesse Eisenberg, Kristen Stewart, Blake Lively, Steve Carrell, Corey Stoll

Production: Gravier – Perdido Productions

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Saya tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk menyaksikan film-film terbaru Woody Allen meski harus menempuh jalan berliku. Jika itu merupakan harga yang musti dibayar, bukan masalah. Selepas menonton Irrational Man, harapan muncul dan menunggu kapan tiba saatnya lagi untuk menyongsong buih-buih drama yang menitikberatkan pada trinitas suci kehidupan; pencarian, perjuangan, dan sikap merelakan. Anda boleh menyebutnya terlalu klise ataupun mendayu bak biduan yang sudah kehilangan tajinya di panggung pertunjukan. Tapi bagi pengagumnya, apa yang diperbuat Woody adalah lanskap melankoli; menautkan benang sentuh satu dan yang lain dalam memahami perputaran rutinitas semu nan nihil makna.

Berbicara mengenai film terbaru Woody, saya jadi teringat bagaimana rasa antusias meletup sekencang-kencangnya. Pikiran menarik ke belakang ketika Midnight in Paris merubah dinamika batin yang sebelumnya kacau dijejali deru represif; memutar kendali lantas mengoyak sendu sedalam-dalamnya. Sekarang, kontemplasi yang sama itu hadir kembali saat Café Society merebak luas di jejaring pasar. Menerka-nerka ujung pengembaraan nyatanya meniduri birahi logika obyektifitas yang kadung ditancapkan tinggi di permulaan.

Anda tidak perlu rumit dalam menggambarkan realita Café Society. Woody masih setia menggandeng patron klasiknya berupa permadani vintage; menandai hegemoni Amerika dengan kesuksesan industri film dan gaya hidup elit yang tiada dua. Para bintang perak berlomba-lomba mengurai kemasyhurannya dibalik bos-bos pabrik yang kian gemar merekrut keniscayaan demi mobil mewah mengkilat, rumah megah di tengah Beverly, maupun kocek tebal yang dapat dikuras habis tanpa sisa, kecuali tagihan dari hotel bintang lima.

Woody mengambil setting waktu sekitar pertengahan musim panas di tahun 1930, kala Amerika sedang gencar-gencarnya membangun jaringan dunia hiburan yang kelak menggurita dalam wujud sangkar besi Hollywood. Cerita bermula tatkala Bobby Dorfman (Jesse Eisenberg), seorang pemuda berusia tanggung mengalami kejenuhan dengan pekerjaan di toko mutiara yang dimiliki oleh ayah kandungnya. Bermodal kenekatan, ia memutuskan meninggalkan New York dan merantau ke tanah Los Angeles; berharap peruntungannya mampir sejenak pada agensi kondang yang dikelola paman sedarahnya, Phil Stern (Steve Carrell).

Selaku seorang paman, Phil bersikap antipati terhadap rencana dan kedatangan Bobby di Los Angeles. Ia hanya tidak ingin terkungkung medan nepotisme dengan membiarkan keponakannya meniti karir begitu saja. Bahwa segala sesuatu wajib diupayakan atas kesungguhan usaha serta kerja keras. Namun perlahan Phil melunak dan membukakan gerbang bagi Bobby yang kelak diramaikan gemerlap limbah pesohor, kharisma kosmopolis yang menawan, lekukan tubuh sempurna fantasi rupa, dan rias kamuflase yang menutupi watak culas ketamakan. Sampai akhirnya di satu titik ia bertemu Vonnie (Kristen Stewart), gadis sekertaris kantor yang memukaunya sejak perjumpaan pertama di tengah keriuhan roda kendaraan urban yang terus bergerak.

Bobby and Vonnie
Bobby and Vonnie

 

Benih cinta yang beriak tersebut nyatanya menjadi cikal bakal dari konflik yang ironis, satir, dan menggelikan. Tak hanya Bobby, sosok Phil pun setali tiga uang; memendam asa pada Vonnie bahkan sudah terlebih dahulu memulai jalinan asmara di belakang istri setianya. Prahara roman segitiga tak dapat dipungkiri melahirkan beton dilematis. Perkara memilih sejatinya melibatkan kompleksitas pertimbangan yang maha rumit. Alih-alih menaburkan bumbu lembek berbentuk tetes air mata yang mengalir setiap malam maupun wajah muram yang berakhir mengenaskan di sudut bar, Woody membuatnya cukup sederhana; ambil keputusan dan sesegera mungkin pergi meraba liburan.

Walaupun alur utama bertumpu lewat peliknya kisah asmara Bobby, Woody tak segan menambah polesan lain untuk memuluskan plot agar tak terjebak dalam pengandaian klise yang itu-itu saja. Ia menempatkan Ben Dorfman (Coney Stoll), saudara laki-laki Bobby, sebagai pemantik api. Karakter pribadinya menelurkan bakat mafia keturunan Yahudi yang berhasil menapaki puncak tangga dunia bawah tanah; hajar, bunuh, kemudian hilangkan jejak. Ada pula Evelyn Dorfman (Sari Lennick), saudari perempuan sekaligus sahabat pena Bobby yang menikahi pria komunis bernama Leonard (Stephen Kunken). Menghalalkan ikatan suci dengan pria komunis membuatnya paham bagaimana merawat keseimbangan di tengah pergaulan masyarakat. Sama rata, sama rasa. Sesungguhnya segala permasalahan pasti terdapat solusi yang dapat dibicarakan secara berkelanjutan. Tanpa menyulut emosi, tanpa merajam aksi anarki. Generasi Marx memang bijak.

Kekuatan Café Society bukan lagi dari segi penulisan naskah yang dimaktubkan. Pertama, chemistry yang melibatkan Jesse Eisenberg dan Kristen Stewart tidak berbuah lara mengecewakan. Mereka sepertinya belajar dari pengalaman American Ultra yang buruknya berbuntut panjang atau ingin mencapai Adventureland yang terlampau mempesona semenjak rahim. Interaksi yang mereka hasilkan di Café Society begitu lepas, tulus, dan seolah tak terbebani butir-butir ketidakpastian. Kredit saya khususkan kepada Kristen Stewart yang memperoleh momentum bangkit. Laiknya di Certain Women, ia melenyapkan stigma artis minim ekspresi dan perlahan menaiki puncak kegemilangan yang prestisius, tak sekedar jadi rebutan vampire tampan ataupun manusia serigala bertubuh kekar.

Kedua, Woody menciptakan dan melekatkan jazz sebagai karib dekat di sepanjang film. Dentuman contrabass yang ritmis, lantunan melodi organ yang membius, serta tiupan sax yang merayu sentimentil membentuk kesatuan utuh; mendorong penghambaan di tengah perkembangan pesat dari penjuru New Orleans. Jazz menemani kompleksitas alur saat menyentuh frasa klimaks, melepas ketegangan, sebelum nantinya mencoba mengulur kesesuaian mimpi dan harapan di kepala.

Café Society merepresentasikan kisah kelas menengah yang getol memperjuangkan kecermelangan karir dan kelanggengan benih asmara dengan cita berjaya di kota metropolitan. Ambisi yang sama pula digaungkan Le Tropique dengan mendirikan ruang megah, mengundang tamu dari beragam profesi, entah itu politisi, musisi, pialang saham, pejabat teras hingga aristokrat negeri seberang, dan berpesta pora sampai fajar menyingsingkan lengan sinarnya. Setiap gerak mereka yang memegang pinggul lawan jenis secara intim kemudian menenggak martini kering yang digulung sedikit lembut menjadi pemandangan jamak setiap harinya. Café Society tak sekedar merekam potret sosialisasi yang bergelimang gengsi. Ada kualitas yang dibawa di dalamnya. Dan melihatnya melenggang bebas adalah upaya nyata untuk mengawal kepingan rapuh tentang kehebatan di era lampau. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response