close

[Movie Review] Certain Women

certain-women

 

Certain Women
Certain Women

 

Director: Kelly Reichardt

Cast: Laura Dern, Kristen Stewart, Michelle Williams, Lily Gladstone

Durasi: 107 menit

Studio: Film Science – Stage 6 Film (2016)

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Awal mula perkenalan dengan Kelly Reichardt jatuh ketika menyaksikan Wendy and Lucy di tahun 2008. Film yang berkisah soal pemahaman hidup satir dalam hubungan antara dua insan. Reichardt memaparkannya secara indah dalam bungkus panorama sarkasme yang dibalut pergulatan pikir kontemporer. Bagi saya, Reichardt sudah meletakkan fondasi kuat bagi kompetensinya sebagai sineas perempuan independen yang patut ditunggu karya-karya terbarunya. Hal menarik dari seorang Reichardt adalah soal gaya sinematiknya yang tak jauh dari situasi menenangkan; membubuhkan lapisan suara kosong yang nyatanya justru rumit dan berlapis, vibrasi gemerisik alam, deru nafas kesibukan yang berlalu-lalang, merenungkan diri di tengah cuaca yang menggigil lantas ingin terdengar menjadi pribadi positif alih-alih memicu rangsang simpatik bagi sekitar. Ia juga menitikberatkan kisahnya pada sosok perempuan. Seakan ingin menyampaikan maksud bahwa dibalik sifat ataupun sikap halusnya, perempuan juga memiliki kekuatan untuk menjalani hidup yang serba kacau; tragedi pernikahan ataupun karir yang mandek secara perlahan. Maka tanpa mengerdilkan karyanya yang lain, Certain Woman—film terbarunya dapat dilihat sebagai film yang paling personal dan kaya akan sarat makna.

Certain Women diambil dari cerita pendek Maile Meloy berjudul Both Ways is the Only Way I Want It  yang di dalamnya berisi tiga babak pengakuan: “Tome”, “Native Sandstone” dan “Travis B”. Pusat dari film ini terdapat pada tiga wanita lintas-identitas diri; pengacara yang gundah akan definisi moral sesungguhnya, anonim peternakan yang kesepian dan pencari kerja yang tidak ingin dimakan usia, sampai pasangan yang berusaha meyakinkan diri tentang jalannya hubungan oportunistik. Berlatar belakang di kota kecil Montana, Reichardt menyediakan narasi-narasi mengagumkan tentang banyak hal yang mampu diperankan pemainnya secara memukau.

Cerita pertama dimulai dari tokoh bernama Laura Wells (Laura Dern). Ia bekerja sebagai pengacara yang tinggal di sudut kota. Lalu terjebak akan dua hal yang membunuh identitasnya; kencan dengan pria yang sudah menikah dan perang melawan kontraktor buruh dimana terus mengejar klaim insiden yang berpotensi menggagalkannya sebagai pemenang. Kompleksitas masalah sudah terjadi dalam fragmen pembuka menyoal prinsip Laura yang bertarung melawan batin dan realita; keduanya terhimpit garis tipis antara kebenaran juga kekacauan pikir. Dalam naskah kedua, muncul  Gina Lewis (Michelle Williams) seorang istri berusia sekitar 35 tahun yang ingin membunuh rasa lelah dengan kehidupan keluarganya dengan membuat usaha rumah pondok yang dapat disewakan di akhir pekan. Berbekal selera modis dan pemilihan tertata, Gina berniat membangun cottage yang mampu merepresentasikan simbol serta integritas Amerika. Untuk memuluskan langkah itu, ia mengelabui tetangga dungunya yang memiliki pasokan bahan asli agar melimpahkan sebagian cadangan material kepada Gina. Kemudian fase terakhir merekam jalannya hari wanita asli Montana yang bekerja sebagai peternak kuda. Dikisahkan tanpa nama, ia (Lily Gladstone) tidak pernah menjalin relasi dan komunikasi dengan orang lain. Tipikal pribadi yang tertutup dari kebiasaan umum. Lalu berniat mencari hubungan yang lebih personal di pusat pendidikan. Di sana ia bertemu Beth Travis (Kristen Stewart) secara tidak sengaja lantas mengembangkan daya tarik intens satu sama lain. Perbedaan umur, hubungan yang canggung dan kisah asmara yang ambigu membuat roman di antaranya sulit dijelaskan.

Reichardt seolah ingin menautkan satu kisah dengan kisah yang lain agar tercipta semesta yang padu. Menilik pesan yang disampaikan dapat menjadi kesatuan utuh sehingga penonton tidak perlu membuat pemisahan topik dan waktu untuk menyesuaikan diri akan dramatisasi film ini. Namun nyatanya Reichardt mengurangi porsi itu. Ia lebih suka membebaskan bagaimana ketiga cerita itu berjalan maupun berlari menghadapi kenyataan. Ia memiliki sikap penegasan anggun akan cerita yang ditulis. Sebagai pelamun, Reichardt membiarkan adegan demi adegan muncul dengan samar, koneksi yang terjadi sedikit kemewahan dengan dobrakan seremonial dan memikir ulang apa yang terjadi pada karakter utama di lekukan akhir potongan film. Reichardt lebih suka tiap tokoh secara liar menemukan satu sama lain tanpa perlu melewati perkenalan yang banal. Perempuan juga memainkan peran yang sangat sentral di sini, mereka ialah pusat sekaligus pembingkai cerita.

Salah satu aspek penting dari film ini adalah adanya suatu medium mencolok yang sesuai dengan hubungan antar perempuan sehingga tercipta sebuah relasi tematik. Meski tidak sempurna dapat ditemukan irisan kehidupan yang mengasyikkan meskipun semua sentuhan pada generalisasi dari kesendirian dan keterasingan manusia merupakan jalan untuk menghubungkan.  Seperti sebuah diorama atau ingin lebih sederhana lagi dapat disebut miniatur, Reichardt menyelipkan detail yang menyumbang kontribusi besar dalam lanskap drama ini; dibentuk oleh karakter penentang sekaligus independen terhadap konservatisme lingkungan.

Certain Woman adalah omnibus pendek yang melanggar garis aman karakter konvensional perempuan pada umumnya. Film ini digunakan untuk menggoda ataupun menabrak batasan yang lebih besar melalui persoalan pelik dalam kehidupan sehari-hari. Di satu sisi adalah tantangan tapi di sisi lain menempelkan ironi yang luar biasa; menyiratkan keacakan dari beberapa nama lakon perempuan yang dipilih penggagas utama. Ini adalah lelucon mengingat tiap tokoh saling berdekatan, berpusat pada satu spektrum dan menunggu siapa yang nantinya tumbang karena hasrat yang kian meredup. Kepastian cerita mengalir membawa ke arah halusinasi kesedihan yang mendalam. Reichardt menggambarkan segmen individu secara pelan namun pasti. Ia berani menguasai sisi humanisme dalam naskah secara besar-besaran. Alhasil tidak terlihat menyedihkan namun menjadi tonggak penting dalam pementasan yang terbentang dalam koherensi drama visual. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response