close

[Movie Review] Deadpool

deadpool-gallery-06

Director                : Tim Miller

Cast                       : Ryan Reynolds, Morena Baccarin, Ed Skrein, TJ Miller, Stefan Kapicic

Durasi                   : 108 menit

Studio                   : 20th Century Fox (2016)

[yasr_overall_rating size=”small”]

deadpool
deadpool

Sejak kemunculannya di tahun 90-an, Deadpool hadir sebagai anomali dalam deretan superhero lainnya. Sebelum mengambil alter-ego Deadpool, Wade Wilson adalah seorang prajurit bayaran dengan kepribadian yang menggemaskan, jika bukan menjengkelkan.

Setelah didiagnosa dengan kanker stadium lanjut, Wade mengambil langkah drastis untuk menjalani eksperimentasi yang memberikannya kekuatan super. Salah satunya, kemampuan menembus tembok keempat dan berinteraksi dengan pembaca, atau penonton. Selain itu, Deadpool juga sadar akan eksistensinya. “It’s too much too explain in one panel,” katanya dalam sebuah komik, menunjukkan kesadaran atas posisinya sebagai tokoh fiksi.

Berkat kemampuan ini, adaptasi film Deadpool sudah berhasil menyulut tawa, bahkan sebelum diputar di bioskop. Trailer dan promosinya bisa menggaungkan publikasi yang tak kalah besar dibanding nama besar superhero lain. Asal usul si prajurit bayaran bermulut besar memang tidak banyak berubah dalam film ini. Wade Wilson tetap mengidap kanker dan harus menjalani program rahasia yang dipimpin oleh Ajax (Ed Skrein). Tanpa diketahui, Wade justru menjalani berbagai macam siksaan untuk memicu mutasi dalam dirinya. Tapi seluruh siksaan itu tak seberapa jika dibandingkan dengan apa yang ia lewati di X-Men Origins: Wolverine. Kita diperkenalkan juga dengan sahabatnya, Weasley (TJ Miller), dan kekasihnya, Vanessa (Morena Baccarin).

Mutasi itu memberkati Deadpool dengan kemampuan regenerasi sel yang tidak manusiawi. Imbasnya, wajah tampan Wade Wilson kini tinggal kenangan. Setelah berhasil membebaskan diri, Deadpool memburu Ajax untuk balas dendam. Percobaan pertamanya gagal karena diganggu dua anggota X-Men, Colossus (Stefan Kapicic) dan mutan dengan nama terkeren, Negasonic Teenage Warhead (Brianna Hilderbrand). Sialnya Ajax sekarang tahu identitas asli Deadpool dan menculik Vanessa sebagai balasan. Namun, singkat cerita, akhirnya Deadpool berhasil membunuh Ajax dan kembali memenangkan hati Vanessa.

Sebagai klarifikasi, paragraf barusan bukanlah spoiler. Anda yang merasa dicurangi karena sudah tahu bagaimana keseluruhan plot Deadpool berjalan melalui tulisan ini harusnya malu pada diri sendiri. Anak kemarin sore saja sudah tahu kalau itu adalah rumus empiris dari hampir seluruh film superhero.

Jadi, memang, Deadpool tidak memberikan sebuah kebaruan dalam caranya menyusun cerita. Tidak ada pula yang menonjol dari penyutradaraan Tim Miller dalam debutnya. Tapi hal tersebut bukan jadi masalah. Deadpool rasanya memang sengaja tidak mendalami kisahnya sendiri dan membiarkannya terasa generik. Ini merupakan bagian kesadaran dirinya sebagai sebuah tontonan.

Deadpool tak hentinya mencela keberadaan dirinya sendiri dan kawan-kawan superhero lainnya. Bukan sebagai sebuah kritik atau sentilan, tapi sekedar banyolan. Itu yang menjadi daya tarik utama Deadpool. Bahwa film ini tidak berusaha melebihi ekspektasinya. Sebagian orang mungkin mengira hal itu sebagai strategi main aman. Tapi saya bilang itu namanya sadar diri.

Apresiasi terbesar tentunya harus ditujukan pada Ryan Reynolds, yang secara harfiah membawa karakter Deadpool ke layar lebar. Anda bisa merasakan kebahagiaan ketika ia memainkan peran tersebut, memberikan kesan natural sehingga mudah diterima. Pelecehan seksual dari “Polverine” yang harus ia lewati untuk menjalankan proyek ini rasanya tidak sia-sia.

Lebih dari sekedar film, Deadpool utamanya adalah sebuah pernyataan baru atas istilah superhero dari dua sisi layar. Deadpool tidak berusaha menghentikan kota yang jatuh dari langit atau menghentikan ulah badut psikopat. Dia mengejar Ajax dengan motivasi sederhana, mengembalikan wajahnya yang kini seperti Freddy Krueger. Ya, itu dan menyelamatkan kekasihnya, tapi siapa yang peduli. Deadpool sesekali terasa seperti spoof serial X-Men. Tapi kembali lagi, ketika anda sadar atas kemampuan yang ada dan melakukan sebuah hal tanpa beban dan ekspektasi, hasilnya pasti akan memuaskan.

Selagi itu, Deadpool menjadi bukti kesekian kalinya kalau genre superhero tak akan berhenti berkembang dalam waktu dekat. Banyak pendekatan yang bisa diambil untuk mengangkat satu pahlawan super ke layar lebar. Seperti yang sebelumnya telah dibuktikan Guardians of the Galaxy dan The Winter Soldier. Jadi, persetan dengan komentar Alejandro González Iñárritu yang menganggap film superhero sebagai pembantaian kultural.

Dengan banyaknya referensi terhadap budaya populer, Deadpool tidak pernah kekurangan bahan lelucon maupun ejekan, bahkan terhadap orang lain maupun dirinya sendiri. Deadpool bukanlah sebuah satir cerdas, lebih terasa seperti seorang anak muda yang terlalu banyak membaca 9gag. Tapi, dari awal Deadpool memang tidak berusaha sok pintar dengan membawa makna yang mendalam. Seluruh eksistensinya didedikasikan untuk bertingkah sesuka hati. Tanpa peduli apa kata orang. [WARN!NG/Kevin M.]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response