close

[Movie Review] Demolition

demolition
demolition
demolition

 

Director                :                Jean-Marc Vallée

Production           :               Black Label Media – Sydney Kimmel Entertainment

Cast                        :               Jake Gyllenhaal, Naomi Watts, Chris Cooper, Heather Lind

Year                       :               2016

Running Time     :               105 minutes

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Mari sejenak berandai-andai. Pada sebuah fase tertentu, hidup Anda bergelimang kemapanan; menggaet status investment-banker yang tersohor, rumah mewah bergaya urban beserta perkakas tingkat atas dan sesosok istri penuh pengertian yang berasal dari keluarga terpandang nan kaya tujuh turunan. Dipenuhi rumusan kontrak yang abadi, bersifat melenggangkan hasrat keinginan dan dibumbui segala transaksional tanpa batas. Urusan sehari-hari serahkan pada pena bergaya eksklusif, ditambah coretan di lembar pengesahan yang mengukuhkan nominal pendapatan keesokan waktu. Sementara sisanya tinggal menikmati hari bersama segelas kopi juga obrolan basa-basi yang mengajak dahi berkenyit; seberapa jauh status sosial didapatkan maupun lelucon ranjang yang terdengar klise. Apakah masih merasa kurang? Seketika Anda tak bisa mengutuk keadaan apabila hari-hari di depan mata sudah terjamin sampai waktu yang cukup lama.

Gambaran di atas merupakan bagian kecil dari sekelumit kisah hidup Davis (Jake Gyllenhaal) yang serba tak tertebak. Perjalanan dunianya melesat cepat bak dentuman blitzkrieg; mulanya berada di bawah, lantas merangkak ke atas permukaan yang bergelimang harta dan juga kuasa. Keberuntungannya membawa nasib berpihak baik padanya. Ibarat narasi lama, ia dilahirkan dengan keberadaan dewi fortuna yang selalu menghembuskan harum kesejukan. Namun seketika yang terjadi selanjutnya menimbulkan ironi. Dalam rutinitas yang hendak dijalankan seperti biasa, ia justru kehilangan sang istri, Julia (Heather Lind) akibat insiden kecelakaan yang tragis.

Demolition bisa disebut sebagai film refleksi personal. Tentang suatu hal yang menjalar kebingungan, mengaduk acak gurat pikir manusia juga menolak anggapan untuk dicerca habis-habisan. Semua yang tersaji menggambarkan konstruksi mental Davis; abstrak, kaku, bahkan terlihat sarkastik bagi lingkungan awam. Setelah kejadian yang menimpa sang istri, saya ragu apakah hatinya hancur atau malah berlarian tak menentu. Mungkin emosinya dikuras habis-habisan dengan tragedi yang menyedihkan tersebut. Akan tetapi Davis menyiratkan teks acak yang berlandaskan keterbalikan; ia berupaya meneteskan air mata saat prosesi pemakaman tiba dan bahkan ia lebih tertarik kepada vanding-machine yang gagal mengeluarkan sebungkus permen cokelat daripada memikirkan nasib sang istri yang diambang kematian.

Apabila diperhatikan lebih mendalam, Davis berusaha keras untuk mengobati kegagalan nalurinya dengan caranya sendiri. Kita dapat menyaksikan bagaimana pola semesta Davis bertransformasi sendu tatkala dihadapkan atas kesenjangan batin yang memicu ledak imbisil. Menulis lewat secarik kertas yang berisi keluh kesah, gugatan wajar terhadap produk perusahaan dan sindiran halus kepada para pemangku kepentingan. Lalu menapaki momen dimana ia berkelakar mengenai musibah yang baru saja menghadangnya kepada pegawai pelayanan, Karen (Naomi Watts) yang berujung ketertarikan bias di antara keduanya. Kemudian mereka berkomunikasi intens, bertemu tatap muka serta membahas dinamika drama layaknya Samantha dan Theodore versi interfasial. Sampai akhirnya Davis menyelam terlalu jauh; memaksanya turut campur ke dalam bingkai lukis Karen yang sejatinya tak kalah kompleks. Tentang problematika sebagai seorang janda; terjebak siklus membesarkan putra semata wayangnya yang mengalami krisis transeksual: lebih mirip David Bowie atau Lady Gaga?

Jean-Marc Vallée mengupayakan pengambilan potret naskah sealamiah mungkin. Sedimen konflik yang terpampang datar hanya fatamorgana kasus yang sebenarnya memuat transkrip esensial. Pencarian makna nurani, sekat rekonsiliasi dan perang untuk memaafkan menjadi topik utama yang tak kunjung selesai diperdebatkan sekaligus menghidupkan premis agar tak terkesan melodramatik. Terutama ketika Davis menghancurkan seluruh memori yang terekam rapi, tersusun dari benih-benih yang dibuahi begitu sabar sebelum lenyap ditelan takdir merupakan cahaya pengingat arti kehilangan. Sembari di sisi lain menjaga noktah kenangan untuk terus berpendar dalam balut fiksi, imajinasi dan kungkungan realisme; lalu melenyapkan tugu monumental yang telah dibangun sejak ikatan suci diucapkan. Davis paham betul menghilangkan rona masa lalu dengan langkah riil adalah teguran tegas yang berkompromi. Permasalahan tak hanya seputar Davis dan ambisinya untuk melenggang bebas dari tarikan kegelisahan. Muncul pula jurang yang merenggangkan hubungannya dengan figur mertua; mengaitkan negosiasi tentang dana waris dan pendirian jaringan beasiswa yang tinggal menunggu persetujuan.

Penyampaian pesan yang termaktub penuh penghayatan tak bisa dilepaskan dengan gaya sinematik Jean-Marc Vallée. Sebagai sineas yang dibesarkan dengan tumpukan karya Charles Dickens, ia mencoba mengurai sisi-sisi rapuh manusia. Bahwa pada hakikatnya manusia memiliki nafsu alamiah berupa sikap penolakan terhadap rasa sakit yang panjang, patah hati yang menyakitkan, serta penderitaan batin menyoal kejujuran. Maka tak mengherankan apabila dalam riwayat film-film yang sudah dihasilkan,  Jean-Marc Vallée mengangkat sensibilitas tokoh utama. Seperti Café de Flore (2011) yang kontradiktif dengan latar belakang, Dallas Buyers Club (2013) yang sarat pergulatan konflik atau Wild (2014) yang penuh kerumitan teka-teki. Lalu di Demolition semua koneksi keterhubungan dipertemukan tak sengaja; menagih janji yang terabaikan dalam naskah kata-kata. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.