close

[Movie Review] Detroit

detroit-529725804-large

Review overview

WARN!NG LEVEL 8.1

Summary

8.1 Score

Kathryn Bigelow

Drama, Crime

Kata orang, mimpi buruk bisa berasal dari rasa takut akan sesuatu yang kita hadapi di kehidupan nyata. Itu kenapa sudah tahunan, sejak meninggalkan kepercayaan terhadap hal-hal gaib, saya tidak pernah lagi mimpi dengan konten makhluk halus dan sejenisnya. Bahkan, walau saya cukup punya frekuensi menonton film horor, karakter-karakter itu tak pernah turun dari layar dan menclok di pikiran. Saya sudah terlalu jantan untuk baper dengan kuntilanak.

Tapi saya punya satu tokoh utama yang seringkali jadi pemeran di mimpi-mimpi buruk saya, yakni tentara. Terakhir, baru saja saya mimpi kamar saya dibakar oleh ABRI.

Jingan.

Entah karena konsumsi bacaan, konsentrasi isu, atau antipati tertentu, saya punya kekecutan tersendiri terhadap tentara atau kerusuhan-kerusuhan yang melibatkan aparat. Ini terlihat juga dari bagaimana saya mengalami efek mematung setiap menonton jenis film tertentu.

Dibilang suka, beberapa tidak terlalu. Tapi suka atau tidak, saya punya kebiasaan hanyut dan bergeming tiap menonton film-film bertema sejarah konflik sosial berdarah seperti Schinder List, Hotel Rwanda, atau film-film dokumenter Oppenheimer. Rasanya seakan tercekik. Lebih dari jenis film thriller, horor, atau video musik Denada manapun.

Tak aneh jika lantas Detroit menjadi pengantar mimpi buruk yang mantap bagi saya. Film ini mengangkat salah satu peristiwa paling tragis di rentang waktu kerusuhan Detroit 1967, yakni terbunuhnya tiga remaja kulit hitam oleh aparat di Motel Algiers. Unsur mencekam bukan hanya dari melayangnya tiga nyawa itu, melainkan aksi interogasi yang keji dan sarat kekerasan terhadap sembilan “tertuduh di tempat” lainnya, terdiri dari dua wanita kulit putih dan tujuh laki-laki kulit hitam. Mereka babak belur dan tertindas secara mental oleh perlakuan beberapa polisi dari departemen kepolisian Detroit dan Michigan. Alasannya pun hanya kesalahpahaman—di luar situasi Detroit yang memang sudah bertensi tinggi. Aparat menduga ada sniper yang menembaki mereka dari Motel Algiers yang terletak di Woodward Avenue, dekat Taman Virginia itu. Cukup bisa dibayangkan yang begini ini terjadi di Seturan (info Jogjasentris, biar!).

Kesalnya lagi, Kathryn Bigelow menyajikannya sebagaimana sebuah pengalaman mimpi buruk. Sangat realistis dengan pendekatan pengambilan gambar menyerupai film dokumenter. Shot-shot liar, pergerakan kamera yang ugal-ugalan, dan fokus lensa yang labil. Ditengahi footage-footage bentrokan massa di tengah film, Detroit benar mirip seperti reportase berita-berita kerusuhan di televisi. Cukup terkesiap ketika tahu bahwa sutradaranya adalah seorang wanita.

Kerusuhan Detroit 1967 adalah salah satu konfrontasi ras paling kelut melut antara aparat dan kaum Afrika- Amerika. Berlangsung lima hari sejak Minggu (23/7) pagi, peristiwa ini  merenggut 43 korban melayang, ribuan cedera, dan properti rusak yang tak terhitung lagi.

Asal mulanya adalah aksi grebekan polisi pada speakeasy atau semacam bar ilegal yang dibuka hanya untuk “orang-orang dalam” dengan model promosi dari mulut ke mulut. Digelar dalam rangka merayakan kembalinya dua veteran Perang Vietnam, ternyata jumlah pengunjung—yang memang dari kalangan kulit hitam–lebih banyak dari perkiraan polisi, huru-hara tak terhindarkan. Setelah polisi setengah kabur, kerumunan yang terlanjur diselimuti amarah ini membakar dan menjarah toko-toko sekitar.

Situasi kaos makin berkepanjangan berhari-hari. Apalagi negara justru merespons kerusuhan ini tak cukup dengan polisi, melainkan mendatangkan tentara garda nasional hingga pasukan udara.

Hasil gambar untuk detroit 2017 movie

Tapi apa cuma gara-gara masalah grebekan saja warga kulit hitam di Detroit ini tantrum bagai balita melihat Kinder Joy di rak minimarket? Oh, tentu mereka tak sebarbar itu.

Coba kita ulik konteksnya.

Detroit memang merupakan salah satu kota di Negeri Paman Sam yang paling disoroti relasi antar rasnya pada dekade 60-an. Ini terkait dengan migrasi besar-besaran enam juta kaum kulit hitam selama berdekade dari wilayah Southern ke bagian urban di Utara. Sekitar 90 persen populasi Afrika-Amerika pada awal abad ke-20 tinggal di pedesaan Southern.  Akibat migrasi, jumlah itu turun menjadi tinggal 50 persen di dekade 70-an. Sisanya adalah Afrika-Amerika yang menjadi kian urban.

Menurut Nicholas Lemann, migrasi ini adalah pergerakan penduduk internal terbesar yang pernah ada dan dimobilisasi bukan karena perang atau bencana. Gejala friksi antar ras menjadi rasional karena pergerakan migrasi atau urbanisasi berlangsung singkat. Akhirnya ada bentrokan dengan kaum kulit putih yang memang sudah menetap sebelumnya di masing-masing wilayah. Selain merasa terancam secara lapangan pekerjaan dan sebagainya, tumbukan kultur mendorong kulit putih melahirkan stereotip liyan bagi Afrika Amerika.

Begitu juga di Detroit. Survei dari Kerner Comission di tahun 1967 menunjukan bahwa kala itu tak ada kulit hitam yang puas dengan keadaan Kota Detroit.  Populasi meningkat pesat, ketersediaan tempat tinggal menipis. Diskriminasi kesempatan lapangan kerja disusul segregasi tempat tinggal. Ada semacam konspirasi setempat dalam hal persebaran informasi, jumlah pembiayaan, dan lain sebagainya demi mengarahkan para kulit hitam untuk tinggal di wilayah yang terpisah dari warga kulit putih. Bahkan, banyak rumah-rumah dirusak, juga aksi intimidasi dari tetangga.

Relasi antara polisi dan kulit hitam di sana sangat buruk. Ketika dari tadi saya menyebut “polisi”, maka itu berarti polisi kulit putih. Dilihat dari proporsi petugas kepolisian, 93 persen adalah kulit putih, padahal 30 persen warga adalah kulit hitam. Apalagi terlalu banyak bigot dalam kepolisian. Kerner Comission juga menemukan bahwa sebelum kerusuhan, 45 persen polisi yang bekerja di lingkungan Afrika Amerika memiliki sikap anti-negro yang ekstrem. Pemukulan dan penembakan dari polisi terhadap kulit hitam sering dipertanyakan. Polisi juga tak merespons panggilan kulit hitam secepat permintaan dari warga kulit putih. Dalam Detroit, dominasi itu dirangkum dalam tokoh seorang polisi bajingan bernama Phillip Krauss yang diperankan dengan tokcer oleh Will Poulter.

Adegan Julie Ann (Hannah Murray) dan Karen (Kaytlin Dever) dituduh sebagai pekerja seks komersial oleh polisi di film ini pun tak lagi aneh sebenarnya. Di era itu, kerap adanya perempuan yang komplain karena dituduh pelacur oleh polisi hanya gara-gara berjalan sendiri di jalanan. Hotel Algiers sendiri dikenal polisi sebagai pusat dagang prostitusi dan narkoba.

Detroit digambarkan sebagai kota semi distopia oleh duet Bigelow dan Mark Boal (penulis naskah) yang terbiasa menggarap film-film kriminal dan perang. Puing-puing bangunan berserakan bersama asap sisa-sisa pembakaran, polisi dan tentara lalu lalang patroli melindungi beberapa aset kota. Mereka selalu waspada akan serangan sniper dari sipil–yang entah benar adanya atau tidak. Tetapi, tiap mendengar suara tembakan, mereka akan membalas tembak. Peluru nyasar sesekali mengenai warga sipil. Ya maaf, namanya juga nyasar.

Sebagai penulis naskah film tragedi sejarah, Mark Boal punya reputasi cukup kredibel. ia adalah jurnalis lepas, sempat menulis artikel tentang perakit bom di Perang Irak untuk Playboy, dan mengungkap kisah pembunuhan warga sipil Afganistan oleh tentara Amerika Serikat di Perang Afganistan pada tahun 2010. Yang begini ini adalah spesialisasinya.

Untuk Detroit, ia menyelidiki hasil-hasil investigasi, berita di surat kabar pada zamannya, penelitian antropologi terkaitnya, dan tentu saja wawancara personal pada pihak-pihak terkait. Penggambaran sikap-sikap polisi itu diakuinya terdokumentasi dengan baik. Dari sana kemudian dialog dikembangkannya sendiri karena para penyintasnya pun tak punya ingatan verbatim yang kuat terkait peristiwa setengah abad lalu itu. ” 99.5% akurat..,” sebuah legitimasi dari Melvin Dismukes, polisi kulit hitam yang menjadi saksi kelakuan rekan polisinya di Motel Algiers.

Detroit tak berakhir indah. Korban-korban ini akhirnya gagal menuntut keadilan, dan tetap menjadi korban oleh sistem dan institusi. Karakter-karakter itu tak punya kebebasan menentukan masa depannya karena himpitan kekuatan sosial di sekitarnya. Satu lagi omong kosong Amerika Serikat soal kebebasan individu.

Sebagai kota dengan tingkat intoleransi yang tinggi, Jogja pun memendam potensi untuk menghadirkan situasi serupa. Beberapa kali sudah terjadi bentrok antara perantau dari Indonesia Timur dengan aparat. Tak jarang obrolan rasis juga terdengar di kiri-kanan saya. Persetan sih dengan orang-orang ini, tapi lain soal untuk institusi hukum. Para penegak hukum harusnya punya standar haram dua kali lipat untuk rasis. Apakah tidak ada materi tentang pelurusan stigma di lembaga hukum yang mana sebenarnya justru paling membutuhkan? Karena perangkat hukum seharusnya mampu menjadi perisai bagi kekerasan berbasis stigma. Sayangnya, yang terjadi justru penegak hukum merangkap sebagai penegak stigma.

Oh iya, stigma justru senjata terkuat militer yak. Lupa 🙂

[Soni Triantoro / WARN!NG]

Tags : afrika amerikadetroit filmfilm afrika amerikakerusuhan raskulit hitamstigma kulit hitamthe dramaticWill poulter
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response