close

[Movie Review] Fifty Shades of Grey

tumblr_mjwb5umLZX1rd8tz8o1_500
Fifty Shades of Grey
Fifty Shades of Grey

Director: Sam-Taylor Johnson

Starring: Dakota Johnson, Jamie Dorman, Jennifer Ehle

Duration: 125 minutes

Kabarnya secara statistik penikmat novel Fifty Shades of Grey utamanya berasal dari kalangan ibu-ibu rumah tangga. Dengan dasar itu pula, label sebagai “mom’s porn” dipredikatkan padanya. Bagi pembaca dari kalangan umur yang lebih muda sendiri, kisah Anastasia Steele dan Christian Grey juga jadi idaman. Mungkin sebabnya bukan karena kehidupan seksual yang mulai membosankan, tapi relasi romantis bergaya patronase seperti ini bisa jadi adalah preferensi dari banyak perempuan. Sama seperti saat trilogi Twilight mencapai kepopuleran beberapa tahun lalu. Buat perempuan normal—eh rasional, terbangun di sebelah laki-laki yang baru dikenal bisa jadi hal sangat mengerikan dan traumatik tapi siapa tolak kalau orang asing tadi super tampan dan kaya raya. Alih-alih melaporkan visum ke kantor polisi, para protagonis wanita tadi makin menyerahkan diri dalam hubungan yang romantis. Ini adalah delusi asmara yang sangat umum, dan bagi saya, Fifty Shades of Grey mewujudkannya dengan agak kelewatan. Delusi yang saya maksud di sini adalah bagaimana cinta didapatkan melalui proses yang sangat instan, dengan objek yang whole-package. Dua film yang saya contohkan di atas, keduanya menggambarkan pertemuan sekali jadi antara dua tokohnya. Tidak sembarang pertemuan, tapi pertemuan impulsif dengan laki-laki tampan (plus tatapan mata dalam). Siapa yang tak ingin tiba-tiba jatuh cinta, tiba-tiba cintanya terbalas, dan tiba-tiba dibelikan mobil mewah, sangat manusiawi.

Perempuan-perempuan yang memfavoritkan karya Fifty Shades of Grey bukan berarti ingin dicambuk atau disambar menggunakan ikat pinggang. Tapi film ini menyentuh sisi femininitas mereka dimana mereka bisa menemukan sosok yang dapat diandalkan, perhatian, dan penuh kontrol. Kita tidak hendak mendiskusikan soal gender maskulin yang gemar merepresi si feminin, tapi justru ini adalah gambaran mudah bagaimana kedua gender tersebut saling berinteraksi. Tidak ada klasifikasi yang menggolongkan siapa yang lebih lemah dari siapa. Fifty Shades of Grey bisa dibilang memuaskan dahaga sisi feminin perempuan dengan karakter protagonis laki-lakinya. Mungkin sebagian menganggap perilaku Christian Grey terlampau posesif dan acuh, namun apabila dilihat dari perspektif lain sikap posesif berarti bagaimana kita dibuat merasa dimiliki dan sikap acuh dapat menjaga jiwa kompetitif. Meski tak pernah sampai, pungguk selalu merindukan bulan, bukan? Dan begitulah bagaimana E. L. James mengkreasikan tokoh fiktifnya, ia ingin menjadikan Grey sebagai orang yang misterius, diktator yang juga susah direngkuh, “I don’t do romance,” tandas Grey.

Saya pun tidak tahu banyak dan bukan pelaku aktif BDSM. Maka bukan kapasitas saya untuk menyinggung metode atau sisi kemanusiaan dari pereferensi bercinta tersebut. Dan ketika Grey menyodorkan kontrak yang menegosiasikan perlakuan-perlakuan tertentu serta menetapkan beberapa peraturan, itu agak mengherankan bagi saya. Diiringi oleh lagu-lagu cinta dan diputar pada meriahnya peringatan hari Valentine tidak lantas membuat film ini jadi romantis karena hubungan kedua tokohnya digambarkan terlalu patron-klien. Kemudian jika ada yang penasaran menonton film ini berharap banyak pada adegan seksnya, nyatanya film ini tidak senakal bukunya. Sebagai film yang jalan ceritanya berkutat pada kebiasaan tak biasa Christian Grey, tidak banyak visual eksplisit yang bisa dinikmati. Memang ditampilkan adegan-adegan koitus, namun tidak seberapa dibanding banyak pendahulunya, Jeremy Dorman bahkan tidak benar-benar tampil polos.

Judul Fifty Shades of Grey tampaknya mencoba merangkum bagaimana latar belakang dan kepribadian tokoh utama yang kompleks. Ia adalah korban pelecehan semasa kecil dan berimbas pada preferensi seksual, ia sangat defensif dan harus berusaha menutupi perasaan sesungguhnya pada Anastasia, namun poin-poin tersebut tidak diwujudkan dengan baik oleh Sam-Taylor Johnson. Sehingga film ini terasa kering meski sudah disisipi aksi sensual. Dan sepertinya kita punya pengganti Krsiten Stewart yang berakting dengan nihil ekspresi. [Adya Nisita]

*artikel ini pernah dipublikasikan di WARN!NG Magz edisi #6

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response