close

[Movie Review] Hail, Caesar!

Hail, Caesar!

Sutradara             : Joel dan Ethan Coen

Cast                       : Josh Brolin, George Clooney, Tilda Swinton, Scarlett Johansson, Alden Ehrenreich

Durasi                   : 106 menit

Studio                   : Working Title Films (2016)

Hail, Caesar!

Hollywood klasik adalah sebuah tempat dan waktu yang begitu indah. Suatu hari pasca Perang Dunia Kedua, dan sebelum tahun 1960, orang-orang bijak di Capitol Pictures sehari-hari menguras energi, memproduksi mimpi-mimpi untuk diproyeksikan ke layar perak. Mulai dari kisah ringan seorang koboi, romansa berkelas, hingga epik Romawi kuno, film Hollywood klasik adalah sebuah perayaan. Amerika Serikat sedang terbuai tinggi, segala kesempatan terhampar lebar, dan tidak ada keinginan yang tidak mungkin dipuaskan oleh para pemenang perang.

Film Hollywood klasik menekankan nilai-nilai tersebut, agar masyarakat tidak melulu tertekan memikirkan wabah komunisme, atau termenung meratapi nasib yang tak kunjung membaik. Pada masa itu, film adalah penyebar nilai moral paling kompeten sementara aktor-aktornya adalah panutan bangsa.

Masa indah itu akan runtuh dalam semalam kalau bukan karena orang seperti Eddie Mannix. Dalam jajaran Capitol Pictures, Eddie memegang jabatan kepala produksi fisik. Entah apa sejatinya deskripsi resmi jabatan tersebut. Tapi Eddie bekerja dari subuh hingga subuh. Segera setelah pengakuan dosa hariannya yang tidak penting, Eddie harus mengurusi kelakuan antik para aktor yang biasanya berpotensi menjadi skandal. Era Hollywood klasik tidak pernah kekurangan orang-orang nyentrik seperti itu.

Matahari belum genap setinggi tombak, Eddie harus menemui sekumpulan petinggi agama. Bahan utama diskusinya adalah penggambaran Yesus Kristus dalam Hail, Caesar!. Tidak perlu waktu lama sampai Eddie terlibat dalam debat kusir antara kolotnya para petinggi agama. Beruntung kecintaan mereka terhadap Baird Whitlock, aktor utama dalam film tersebut, sedikit menurunkan tensi.

Kabar selanjutnya datang dari DeeAnna Moran, seorang bintang musikal yang hamil di luar nikah. Sementara Laurence Laurentz, seorang auteur tak hentinya meminta pengganti Hobie Doyle, aktor amatir yang tak memenuhi standard aktingnya. Dua atau tiga kali sehari, Eddie harus meladeni pertanyaan dari Thora dan kembarannya, Thessaly Thacker, wartawan dunia hiburan yang saling membenci.

Tapi skandal terbesar hari itu datang dari Baird Whitlock yang menghilang dari set Hail, Caesar!. Usut punya usut, Whitlock ditahan oleh kelompok belajar komunis yang terdiri dari beberapa penulis Hollywood, Profesor Marcuse, dan anjing bernama Engels.  Kelompok yang menamai dirinya “The Future” ini meminta tebusan sebesar $100.000,-. Atau, entahlah, mungkin mereka akan mencuci otak Whitlock dan mengubah perwujudan utuh nilai-nilai ke-Amerika-an dalam seorang aktor ini menjadi agen komunis paling berbahaya. Cukup sulit dan merupakan usaha yang konyol untuk memahami motivasi mereka. Untungnya nominal tersebut terhitung receh untuk korporasi sebesar Capitol Pictures. Meski uang sebanyak itu tidak bisa menjamin kewarasan seseorang. Kembali lagi, terima kasih kepada Eddie Mannix.

Eddie Mannix adalah seorang manusia biasa yang memiliki masalahnya sendiri. Kelihaian Eddie dalam menjalankan pekerjaannya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Pekerjaannya memang berat. Tawaran dari Lockheed Corporation pun terlihat begitu menggiurkan. Ia sadar kalau pekerjaan ini tidak bisa selamanya ia lakukan. Mengayomi orang-orang demi menjaga efektivitas mesin pencetak mimpi membebaninya dengan semacam rasa bersalah, bahkan dalam hal-hal kecil yang ia ingkari.

Untungnya Eddie selalu punya gereja sebagai pelampiasan. Meskipun terlihat sepele, apa yang dia utarakan di bilik pengakuan dosa adalah hal yang tidak sembarang ia tunjukkan ke orang lain. Dan seperti apa yang sering ia katakan, “the picture has been good to us.” Pada akhirnya, Eddie Mannix adalah seorang manusia yang selalu sadar dan tahu harus berbuat apa dan demi apa.

Tokoh Eddie Mannix sendiri terinspirasi dari Edgar Joseph Mannix, seorang “fixer” yang banyak mengurusi skandal-skandal besar Hollywood pada masanya. Meski demikian, jangan harapkan tokoh keji seperti yang digambarkan dalam Hollywoodland. Coen bersaudara melahirkan karakter baru dengan kepribadian fiktif. Kepribadian yang begitu fiktif, hingga begitu mudah untuk dipercaya, sebagaimana sebuah film. Josh Brolin menemukan keseimbangan tepat dalam memerankan Eddie Mannix, tanpa pernah menekan aspek keseriusan karakter tersebut secara berlebihan.

Plot yang tidak memberatkan pikiran ini berjalan semakin lancar dengan ansambel cast yang memainkan setiap karakternya dengan sempurna. Nomor musikal semi-seksual yang dipimpin Channing Tatum menjadi sentuhan manis yang akan membuat Anda tersenyum bahagia. Hingga Jonah Hill, yang tampil kurang dari lima menit sebagai orang paling normal di Hollywood berhasil menyulut sedikit tawa tanpa banyak berkata. Begitu pula dengan George Clooney, Scarlett Johansson, dan Tilda Swinton.

Setelah membahas hidup yang tidak abadi dan kebanalan eksistensial yang tak terelakkan di True Grit dan Inside Llewyn Davis, Coen bersaudara berhasil kembali membuat komedi berisi lewat surat cinta terhadap Hollywood klasik satu ini. Layaknya film Coen bersaudara lainnya, selalu ada lapisan yang terlewatkan, bahkan ketika sudah menontonnya berkali-kali. Tapi dalam kasus Hail, Caesar! hal itu bukan menjadi masalah besar. Ini bukanlah film yang harus dibawa serius dan dipikirkan mendalam. Tanpa begitu, Hail, Caesar! dengan sendirinya akan lekat di ingatan. [WARN!NG/Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response