close

[Movie Review] Harmonium

harmonium
harmonium

Director                : Koji Fukada

Cast                       : Tadanobu Asano, Mariko Tsutsui, Kanji Furutachi, Taiga, Takahiro Miura

Studio                   : Nagoya Broadcasting Network, Comme des Cinemas (2016)

Durasi                   : 118 menit

Rating                   : !!!!!

Sekitar satu jam pertama Harmonium adalah tes kesabaran yang tidak gampang dilalui sembarang orang. Rawan kantuk dan terasa begitu mudah untuk diselingi kegiatan-kegiatan lain. Walaupun seharusnya narasi bertempo lamban sudah bukan menjadi barang baru saat menonton drama keluarga Jepang.

Toshio dan Akie adalah sepasang suami-istri yang menjalankan bisnis bengkel besi skala rumahan. Pagi hari, mereka sarapan bersama putrinya, Hotaru, sebelum ia pergi sekolah. Kemudian Toshio segera mengenakan jumpsuit dan bersiap-siap untuk bermain dengan berbagai mesin berat. Kalau tidak sibuk dengan urusan gereja, Akie kebagian mengurusi pembukuan usaha mereka. Di malam hari, Hotaru dengan penuh semangat berlatih memainkan harmonium, walaupun tidak banyak memperlihatkan kemajuan. Kehidupan yang membosankan, sebagaimana kebanyakan keluarga suburban lainnya. Memang tidak sempurna, tapi setidaknya mereka terlihat baik-baik saja.

Namun, keseharian mereka rupanya tidak sebegitu hambar. Perasaan janggal muncul ketika melihat mereka bertiga duduk di meja makan. Akie selalu duduk bersebelahan dan mengiringi Hotaru dalam doa sebelum makan. Berbeda dengan Toshio yang tidak berpikir dua kali untuk segera menyantap makanan. Semakin sering Toshio dan Akie berinteraksi, semakin terlihat sekat yang senantiasa memisahkan. Hotaru kini dapat dianggap sebagai benteng terakhir untuk menjaga kerukunan.

Suatu hari, seorang pria dengan setelan pengangguran berdiri di depan bengkel Toshio. Ia adalah Yasaka, kawan lama Toshio yang baru menyelesaikan sebelas tahun hukuman penjara. Toshio memberi Yasaka kesempatan untuk bekerja di bengkelnya. Belum cukup juga, ia tidak ragu untuk membiarkan seorang mantan terdakwa pembunuhan untuk tinggal bersama anak dan istrinya. Sejalan dengan berbagai kejanggalan Harmonium, tidak perlu menjadi ahli psikologi untuk menarik kesimpulan kalau keputusan Toshio lebih didasari pada kewajiban retribusi ketimbang simpati maupun solidaritas pertemanan.

Harmonium yang berangkat sebagai drama keluarga serba cemplang mendadak banting setir, menjadi eksploitasi serius mengenai rapuhnya individu saat dilucuti dari segala predikat dan kontrak sosial yang melekat pada dirinya. Tiba-tiba, hening terasa begitu meresahkan. Setiap disharmoni nada yang dimainkan Hotaru terdengar seperti hitung mundur sebelum ledakan.

Kegiatan-kegiatan seperti vakansi memancing di pinggir sungai dan ibadah di gereja menjadi lahan basah untuk menyemai benih cinta antara Akie dan Yasaka. Namun, perselingkuhan mereka rupanya cuma menjadi bantu loncatan lain yang pada akhirnya terkulminasi dalam satu tragedi fatal yang tak terelakkan. Walaupun Koji Fukada sudah jelas-jelas memberi peringatan kepada penonton sejak awal, tidak ada yang benar-benar siap saat tragedi itu akhirnya menimpa.

harmonium

Kemudian Harmonium seakan berusaha sekuat tenaga untuk melupakan trauma dan membuka lembaran hidup baru dengan mempercepat cerita delapan tahun ke depan.

Bukankah wajar bagi saya untuk mengharapkan peleraian konflik yang telah mencapai puncaknya meski baru sampai setengah panjang durasi? Sampai di titik ini, bingkai fokus film drama masih saya pegang erat untuk menelaah Harmonium. Sehingga saya dibuat heran ketika kata-kata seperti “menegangkan,” “mencekam,” dan “merinding” bertebaran dalam konsepsi awal ulasan ini.

Rupanya, baru di sini Koji Fukada mulai membedah jantung narasi dengan kerangka berpikir yang telah terasah tajam.

Setelah menghilang dari kehidupan keluarga Toshio, kehadiran Yasaka masih begitu jelas terasa. Meski tak lama bersimpul nasib, Yasaka terlanjur mengobrak-abrik setiap aspek kehidupan keluarga Toshio, meninggalkan luka intim pada masing-masing individu yang tak dapat disembunyikan.

Sangat mudah untuk menunjuk Yasaka sebagai biang keladi dari kehancuran keluarga Toshio. Namun, dalam lembaran hidup baru ini, kita bisa melihat kalau Yasaka rupanya hadir bukan sebagai hama, melainkan suar kebenaran yang menerangi  sisi paling jujur dari karakter-karakter lainnya.

Harmonium tidak mencari aman dengan menaruh karakternya dalam daerah abu-abu. Dengan tegas mereka semua ditempatkan dalam gelap. Bahkan karakter paling lugu dan para korban sekalipun sama-sama bergumul dalam kekejian sifat asli manusia. Hal terbaik yang bisa mereka lakukan adalah terus berlari dalam siklus tuduh-menuduh, hanya untuk menyelamatkan batin sebelum diluluhlantahkan otoritas moral.

Tidak ada takdir lain yang menunggu di ujung hubungan Toshio dan Akie yang banal. Cepat atau lambat mereka akan berakhir pada keadaan yang sama. Ironi hadir saat keduanya terlalu lemah untuk menyadari fakta bahwa Yasaka hanyalah katalis, baik Toshio maupun Akie sejatinya membawa bencana kepada dirinya masing-masing.

Harmonium terbangun sempurna dalam setiap arsir bayangan, ekspose cahaya dan pemilihan warna yang dijaga sederhana agar tetap efektif. Meski sempat menyentuh ranah surealistik, film ini tetap kuat iman dan tidak tergoda untuk menggunakan solusi generik dengan menghadirkan penampilan visual serba spektakuler.

Aktor veteran Mariko Tsutsui  kemudian mengisi narasi lantang Fukada dengan akting implosif. Kanji Furutachi dan Tadanobu Asano juga tidak terlihat kesulitan untuk mengimbangi performanya. Alhasil,  Harmonium tidak hanya mampu menghantui, tapi juga meninggalkan bekas berkepanjangan dalam pikiran penonton.

Secara perlahan dan konstruktif, Koji Fukada mempertanyakan permasalahan dosa, penebusan, dan fatalitas yang menunggu setiap individu. Namun, Fukada cukup cermat untuk terlebih dulu menghancurkan nilai-nilai delusional mengenai kekeluargaan dan sucinya ikatan pernikahan. Sehingga saat tragedi datang, hanya ada seorang manusia dan dosanya. [WARNING/Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response