close

[Movie Review] How to Be a Latin Lover

glide

Review overview

WARN!NG Level 8

Summary

8 Score

 

 

Director: Ken Marino

Cast: Eugenio Derbez, Raphael Alejandro, Salma Hayek, Kristen Bell, Rob Corddry, Rob Riggle

Production: Lionsgate, 3Pas Studios

Year: 2017

Lupakan sejenak konstruksi menyebalkan tentang bagaimana sekelompok atau satu orang lelaki berdarah hispanik tampil dengan umpatan-umpatan kasar nan merendahkan sosok kulit putih yang sedang jadi lawan bicara. Di beberapa film memang kerap muncul adegan-adegan rasial secara verbal dengan memasang figur keturunan hispanik; Meksiko, misalnya. Benturan budaya serta kejadian (buruk) masa lampau yang melibatkan dua ras penghuni benua Amerika ini terus digiring hingga kini, salah satunya melalui media film.

Bagi Ken Marino, sutradara film ini, menampilkan konstruksi demikian adalah hal tabu. Ken lebih bijak menggali sisi lain keturunan hispanik dan menyajikannya dengan bumbu komedi cerdas. Melalui tokoh utama bernama Maximo (Eugenio Derbez), Ken menyodorkan pilihan gaya hidup, tata cara mengolah sikap, serta cara jitu saat menebar pesona kepada lawan jenis selayaknya lelaki Latin sejati versi Maximo.

Racikan utama unsur komedi pada film ini terletak pada pilihan hidup yang diambil oleh Maximo. Sekonyong-konyong menepis nasihat sang ayah, Maximo memilih jalan hidup sebagai pemburu janda kaya raya. Tujuan Maximo hanya satu; agar ia terbebas dari kewajiban manusia modern yakni mesti bekerja keras untuk mendapat uang. Maximo yang berhasil menggaet janda kaya raya menjalani gaya hidup parlente dengan gelimangan harta sang istri.

Gaya hidup Maximo bak raja penguasa dunia. Berhasil memperistri janda kaya raya selama 25 tahun lamanya membuat hidup Maximo begitu parlente. Apa-apa tinggal suruh pelayan yang berjumlah belasan bahkan nyaris menyentuh angka puluhan. Misalnya saja untuk mengetuk dan menggeser-geser tampilan pada layar iPad, Maximo butuh pelayan untuk hal sepele seperti itu.

Dengan rumah seluas istana para raja, Maximo mengandalkan unit-unit Seegway dengan satu pelayan yang sigap membopong alat tersebut tatkala Maximo menemui anak tangga. Saat membaca surat kabar di pagi hari, Maximo mengharuskan pelayannya untuk terus membututi agar saat ia selesai membaca, surat kabar itu tidak boleh jatuh menyentuh lantai. Adegan-adegan super ngehe tersebut dirancang rapi tanpa meninggalkan kesan konyol.

Dari sisi konflik, besar kemungkinan sangat mudah ditebak. Dari film bergenre drama-komedi seperti ini, sang tokoh utama akan tiba-tiba menjalani hidup di luar zona nyaman. Sama halnya dengan film ini, sang tokoh utama yang bakal jatuh miskin gegara ditinggal selingkuh oleh si sugar mama; pasangan janda kaya raya, membuat Maximo mesti menjalani kehidupan terbalik.

Tanpa uang sepeser pun dan minim ketrampilan kerja, memaksa Maximo harus mengemis tempat tinggal sementara di rumah adik perempuannya Sara (Salma Hayek) yang hidup sederhana di sebuah lingkungan urban Los Angeles bersama putra semata wayang bernama Hugo (Raphael Alejandro).

Yang perlu digarisbawahi dari film ini ialah Maximo sejak awal merupakan manusia miskin tanpa uang satu koin pun. Gaya hidup borju bisa ia lakukan karena sokongan dana tanpa batas dari sang Istri. Alhasil ketika ditinggal istri, tindakan logis apa yang akan dilakukan oleh Maximo? Jawabannya sederhana: memburu sugar mama lainnya. Demikian keputusan final yang dipatri oleh Maximo untuk terus dilakukan meskipun uban dan ukuran lingkar perut makin tidak proposional seiring bertambahnya usia.

Deretan nama kondang pada tatar industri komedi Hollywood seperti Kristen Bell, Rob Riggle, dan Rob Coddry bahu membahu menyokong kekonyolan Maximo kala turun kasta dan menjalani hidup ala kadarnya. Adapun aksi Raphael Alejandro, aktor cilik pendatang baru pemeran tokoh Hugo menjadi tandem ideal selama perburuan janda kaya raya anyar bidikan Maximo. Dua orang –paman dan keponakan—ini punya misi serupa, yakni menaklukan perempuan yang mereka incar. Hanya soal selera umur saja yang menjadi jurang pemisah.

Bila diurai secara subtansial, film ini terdiri atas 80 persen situasi komedi dan 20 persen drama kehidupan. Sepanjang dua jam kurang lima menit, kita akan dibuat terpingkal-pingkal oleh tingkah laku Maximo. Meskipun berada pada titik nadir rasa bersalah manusia, Maximo tetap betingkah konyol meskipun tanpa dialog.

Film ini wajib ditonton oleh para pemilih jalan hidup seperti Maximo. Agar semakin mantap dengan pilihan tersebut, Maximo akan menuntun secara bertahap. Dimulai dari kontak mata, pilihan busana, gaya berjalan, hingga pemilihan kata yang pas agar janda kaya raya jatuh dalam pelukan. [Kontributor/Indra Kurniawan]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response