close

[Movie Review] Hush

Hush
Hush

Director: Mike Flanagan

Cast: John Gallagher, Kate Siegel, Michael Trucco, Samantha Sloyan

Durasi: 84 Menit

Studio:  Blumhouse Production – Intrepid Pictures (2016)

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Kisah tentang teror pembunuh berantai yang menjadikan rumah dan sang empunya sebagai target jarang dibuat secara apik oleh sineas kebanyakan. Terkadang lemah dalam penceritaan, terkadang pula payah lewat eksekusi; terlalu brutal dan terlihat di luar nalar. Alhasil, tujuan utama yang dibuat sedemikian rupa untuk memberi efek takut pun terbuang seiring rating yang jeblok di laman penilaian dan hasil penjualan tiket yang tidak bagus-bagus amat.

Lalu Hush muncul meruntuhkan kekecewaan yang sudah lama beredar. Sebuah kisah thriller yang menegangkan dibalut dengan tingkatan emosi pada titik tertinggi; menunggu apa yang akan terjadi setelahnya tak urung membuat sorot mata tetap terpaku pada layar sinema. Mike Flanagan nyatanya mampu menyediakan tontonan sadis yang terbentuk rapi. Penggarapan yang jauh dari frase asal-asalan, pengambilan gambar yang tidak monoton adanya, serta bumbu drama yang tidak berlebihan menjadikan Hush menaiki tangga kesuksesan yang diidamkan.

Kekuatan film ini berada pada sudut kulminasi dua tokoh. Adalah Maddie (Kate Siegel), seorang tuna rungu yang tinggal dalam kesendirian hunian di tengah hutan lebat. Demi menyelesaikan draft novel keduanya, ia mencari ketenangan hingga pelosok guna meningkatkan konsentrasi. Namun apa yang terjadi jauh dari pengharapan. Maddie yang ingin mendapati kedamaian justru harus bertahan hidup di tengah ancaman dan serangan psycho bertopeng (John Gallagher) mirip Jason dalam legenda Freddie vs Jason. Apa yang terjadi setelahnya mencerminkan kecerdasan Flanagan dalam menaikkan adrenalin penonton ke level maksimal.

Hush menegaskan konsep low budget tidak melulu berbanding terbalik dengan kualitas yang dibawa. Tanpa banyak membuat dan mengambil visual yang berlandaskan efek buatan, Flanagan justru menghidupkan kondisi teror yang nyata di balik rumah Maddie. Kondisi kekurangan Maddie juga dimanfaatkan betul olehnya untuk mendramatisir suasana; tegang. Tidak ada scoring khas pembantaian; dimana ketegangan dibangun di atas fondasi kesunyian. Hal tersebut tidak mengurangi detak tensi yang berdegup kencang; malah semakin menambah kelam kondisi yang ada. Pembuatan setting lokasi mengingatkan saya tentang platform novel Stephen King; rumah luas, perkakas kayu dan suasana alam yang kian menebalkan teror sesungguhnya. Bahwasanya kedamaian yang diharapkan adalah titik tolak bagi sifat dendam yang dilancarkan pelaku-pelaku kegilaan.

Kredit juga saya berikan kepada dua lakon Hush. Kate Siegel berhasil menghidupkan sosok yang bertahan dalam segala tekanan meski kondisinya serba kurang. Raut wajah, kontak mata dan getaran tubuh yang menyiratkan ketakutan lebih membuat kita sebagai penonton ingin beranjak dari tempat duduk dan meminta bala bantuan meski muskil adanya. Sedangkan John Gallagher memperlihatkan asumsi bahwa antagonis keji macam dia adalah mimpi buruk bagi hantu-hantu tak kasat mata. Sosoknya yang dingin, rill, justru mampu meneror korban secara simultan. Tiada henti, tanpa ampun. Ia memerankan sosok yang brutal namun tidak dungu. Ia menyelipkan kecerdasan psikomotorik yang memainkan peran-peran dan permainan menuju kematian.

Pada akhirnya selama 84 menit berjalan, cerita mengalir dengan tidak terburu-buru. Nampaknya Flanagan paham betul bagaimana menciptakan ruang untuk menikmati pertunjukan sadis yang disajikan. Tiap menit merupakan satuan hormon rasa was-was, praduga dan rencana yang terus berputar di dalam otak untuk menyelamatkan diri dari marabahaya. [WARN!NG/ Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response