close

[Movie Review] I, Tonya

I,-Tonya-2017-movie-poster

Review overview

WARN!NG LEVEL 8.4

Summary

8.4 Score

Craig Gillespie

Biography, Drama

Salah satu skandal terbesar di sejarah olahraga Amerika Serikat, begitu New York Times menyebutnya.

Tonya Harding, seorang atlit seluncur es berbakat Amerika Serikat mendadak jadi sasaran risak publik dan media di tahun 1994. Ia dan bekas suaminya terpidana karena ketahuan menyewa seseorang untuk melukai kaki kanan kompetitornya yang bernama Nancy Kerrigan agar tak turut tampil di gelaran 1994 Olympic Winter.

Gempar, pastinya. Sengaja mencelakai atlit lain di luar pertandingan adalah tindakan yang menistakan sportivitas yang diusung tinggi-tinggi oleh cabang olahraga manapun. Malahan, ini sudah menyerupai konflik tipikal drama-drama anak SMA yang biasanya terjadi di persaingan tim basket, sepakbola, atau mungkin uno.

I, Tonya digarap berdasarkan penuturan langsung Tonya dan bekas suaminya, Jeff Gillooly. Film ini lantas berulang kali menegaskan pesan bahwa “everyone has their own truth”–seperti upaya apologi dari Gillespie bahwa kebenaran film ini belum tentu adanya. Ditegaskan lagi dengan gaya mockumentary, beberapa tokoh “menembus dinding keempat” untuk bergantian memberikan pengakuan ke kamera di adegan-adegan awal. Membiarkan mereka seakan-akan bicara langsung pada penonton. Padahal, saya pikir persepsi akan “everyone has their own truth” sudah terlampau wajib dipahami penonton dan seluruh umat manusia sehingga malah tidak perlu ditekankan lagi dan lagi. Bahkan, jika Tonya (Margot Robbie) di film ini berkali-kali mengatakan,”it wasn’t my fault”, mungkin itu juga penggambaran tukang sangkal yang sengaja ditampilkan untuk menunjukan bahwa orang-orang di balik produksi I, Tonya sendiri pada dasarnya juga tidak meyakini penuturannya.

Daripada berbelit-belit soal itu, lebih menarik melihat bagaimana film ini mencoba menjelaskan motif atas bagaimana Tonya dan Jeff bisa terdorong menjadi dalang tindakan sensasional tersebut. Upaya ini dilakukan Gillespie di separuh awal film.

Pertama, I, Tonya memperlihatkan bagaimana Tonya bisa tumbuh menjadi sosok yang temperamental, murah amuk, dan punya keberanian untuk mencaci-maki juri yang tidak membiarkannya menang. Tonya adalah kelas pekerja dengan watak keras dan rambut berkucir mekar. Ia lebih pandai memperbaiki mesin mobil dibanding pria, serta tawa dan gerak-geriknya jauh dari kata anggun, bahkan meski ia diperankan oleh orang yang sama dengan yang memerankan istri borjuis di Wolf of Wall Street yang glamor itu.

Memang ada tendensi film ini menunjukan bahwa sanksi—baik secara hukum maupun sosial–yang diperoleh Tonya atas tindak kriminal yang menimpa Nancy tidak terlalu pantas ditanggungnya. Selain ia sebenarnya tidak bermaksud sejauh itu—sesuai pengakuannya sendiri, “it wasn’t my fault”—perangai agresif Tonya tumbuh karena polah orang-orang terdekatnya. Ia punya ibu (Allison Janney) yang lebih galak dari tokoh Mildred di Three Billboards Outside Ebbing, Missouri. Sejak kecil, ia digembleng dengan gaya didik yang bisa membuat orangtua milenial lemah zaman sekarang akan tersedu-sedu. Bahkan Kak Seto akan pensiun menjadi psikolog anak jika melihatnya. Tonya diminta kerja paksadiarahkan untuk ikut kursus seluncur sejak usia 4 tahun, dan siap untuk dieksekusi jika tidak menunjukan perkembangan talenta.

Orang terdekat keduanya adalah bekas suaminya, Jeff (Sebastian Stan). Menikahi Tonya yang masih berusia 19 tahun, Jeff tidak menyelamatkannya dari kekerasan. Ia malah mendampingi Tonya dengan beragam varian kekerasan rumah tangga. Keduanya enteng saja membawa tiap permasalahan pada pertengkaran fisik, mulai dari menjambak, menubrukkan kepala ke kaca figura, menembakkan pistol, dan akhirnya bercerai. Meski diselingi momen-momen mesra, tapi kekerasan tak akan lepas dari siklusnya.

I Tonya kemudian juga mencoba menerangkan motif Jeff untuk menghidupi Tonya dengan cara yang koersif. Ini adalah analisa sederhana akan pola kekerasan suami terhadap istri dalam rumah tangga. Kekerasan terhadap perempuan bukan semata-mata kebiadaban pria yang alamiah, melainkan konsekuensi akan sistem sosial yang jahat pada kelas bawah sepertinya. Berprofesi sebagai sopir untuk asosiasi penyandang cacat, Jeff mudah mengalami represi dari lingkungan sosial yang kapitalistik. Pria-pria dengan kapasitas finansial sepertinya – di negara manapun – rentan untuk terhimpit tekanan dari atasan maupun pandangan masyarakat, hingga membutuhkan saluran melampiaskan hasrat supremasinya. Dan hal seperti ini biasanya akan mendorong seorang kepala keluarga untuk menjadikan rumah tangganya sebagai sasaran pemenuhan hasrat itu. Kekerasan keluarga sangat familiar untuk didalangi motif-motif ini.

Terlebih, Tonya lebih dari seorang istri yang bisa begitu saja diposisikan sebagai subordinat dalam keluarga, karena ia juga punya karier yang cemerlang di cabang seluncur. Jeff akhirnya tertekan oleh sistem sosial dan istrinya sendiri, terbukti dari situasi keluarganya yang makin tak harmonis justru sejak Tonya menggondol perak di kejuaraan dunia. Rewelnya Tonya dengan sikap superior yang makin tumbuh membuat Jeff kian terapit dan meletus berkali-kali.

Dalam kondisi putus-nyambung, Jeff akhirnya mencari celah untuk gantian menunjukan superioritasnya dengan membuktikan bahwa ia bisa memberikan dukungan besar terhadap karier Tonya. Ia butuh pembuktian kontribusi yang kentara. Sayangnya, cara yang terlintas di pikirannya adalah (mulanya) meneror Nancy Kerrigan agar mengundurkan diri atau minimal terganggu konsentrasinya di kejuaraan 1994 Olimpic Winter. “Ini caraku untuk mengatakan ‘aku cinta kamu’ padanya,” ujarnya pada Shwan Eckhardt, karibnya sekaligus bodyguard Tonya. Eckhardt kemudian menyewa seseorang bernama Shane Stant untuk menghajar kaki Nancy Kerrigan. Namun, skema aksi kriminal ini digambarkan begitu tolol dalam I, Tonya sehingga mudah sekali terbongkar oleh FBI. Bukan cuma Jeff, karier Tonya pun berakhir karenanya.

Hasil gambar untuk i tonya

Selain Jeff dan ibunya, saya juga melihat bahwa negara punya andil dalam kehancuran Tonya Harding. Bahkan, lebih dari itu, I, Tonya mengingatkan saya kenapa Donald Trump bisa menjadi presiden Amerika Serikat.

Tonya pada dasarnya adalah pemain seluncur yang sangat berbakat. Contoh instannya, Tonya adalah wanita Amerika Serikat pertama yang bisa menampilkan teknik triple axel. Ini adalah teknik seluncur tersulit dari enam jenis lompatan di olahraga es itu karena melibatkan setengah putaran ekstra dibandingkan lompatan-lompatan yang lain. Teknik itu ditempanya terus hingga beberapa rekor variasi triple axel pun berhasil dipecahkannya.

Meski begitu, prestasinya di akhir dekade 80-an hingga awal 90-an tergolong tak terlalu hebat. Bisa dibilang, talentanya harusnya patut diganjar prestasi yang lebih oleh juri. Tonya adalah peseluncur bergaya bebas. Ia dikenal kuat dan menghibur, tapi lemah di wilayah compulsary figures, sebuah teknik wajib dalam arena kompetisi seluncur yang dianggap membosankan dan mereduksi kreativitas atlit. Keterlibatan compulsary figures ini pula yang membuat pemain seluncur andal seperti Toller Cranston dan Denise Biellman tak pernah memenangkan gelar Olimpiade. Aturan itu akhirnya baru dieliminasi pada tahun 1991.

Selain kekurangan dalam compulsary figures, ada alasan lebih krusial yang digambarkan di film ini. Sebuah adegan menampilkan Tonya membuntuti seorang juri dan mempertanyakan kenapa ia tak diberikan poin lebih padahal secara teknis paling digdaya dibanding peserta lain. Sang juri menjawab, “tidak semuanya adalah tentang seluncur. Kau bukan image yang kami inginkan”. Tonya dengan segala tindak tanduknya ternyata dianggap tidak mampu merepresentasikan persona atlit idola yang diinginkan juri.

Hasrat menciptakan potret-potret ideal ini yang akhirnya menimbulkan masalah.

Tonya dan Jeff adalah kelas pekerja yang di eranya sangat berpotensi menjadi pemilih Ronald Reagan. Tonya bahkan mengklaim diri sebagai redneck dan white trash. Kurang lebih keduanya adalah sebutan untuk kulit putih yang miskin. Jika “redneck” lebih merujuk pada ketertinggalan ekonomi dan pendidikan, maka “white trash” merujuk pada keterbelakangan moral.

Bisa jadi Tonya salah memilih cabang olahraga. Saya kurang tahu demografi atau gaji orangtua para atlit seluncur, tapi bukan rahasia lagi jika seluncur adalah olahraga yang mahal. Biaya latihan dan perlengkapannya membutuhkan puluhan ribu dolar AS per tahun. Padahal uang kemenangan terhitung rendah dibanding cabang olahraga lainnya. Itulah kenapa banyak atlit seluncur yang harus bekerja sampingan untuk membiayai kariernya, termasuk para peluncur profesional di Jerman yang kemudian bergabung sebagai tentara. Begitu juga Tonya yang tetap harus bekerja paruh waktu sebagai pelayan restoran.

Mungkin kisah sukses atlit yang berasal dari kelas bawah lebih cocok di sejarah sepakbola atau tinju dibanding seluncur. Tonya adalah minoritas di cabang itu, karenanya ia kesulitan untuk masuk dan beradaptasi pada sistem yang diharapkan oleh juri. Ia bahkan merancang dan menjahit kostumnya sendiri karena mahal jika membeli, dan ini pun diceritakan sebagai salah satu alasan kekalahannya di berbagai kompetisi.

Pertentangan antara norma dan bakat ini lantas bisa dicermati dalam konteks yang lebih luas. Dalam analisa kelas di Amerika Serikat, kelas bawah senantiasa diremehkan oleh borjuis dan disalahkan oleh kelas menengah karena dianggap malas dan kasar. Terkadang memang prestasi kelas bawah diromantisasi untuk menghasilkan gimmick yang bisa dijual di publik dalam industri hiburan. Namun, dalam lubuk hati kelas menengah, mereka sebenarnya menolak kenyataan bahwa kelas bawah juga memiliki kompetensi yang bersaing. Mereka sulit menerima bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk bangkit dan mengubah posisi sosialnya. Toh sebenarnya agak tidak adil untuk membandingkan Tonya dengan atlit kelas menengah karena mereka tidak memulai dengan modal yang sebanding. Justru sebagai atlit kelas pekerja yang tidak meneruskan sekolah demi karier keolahragaannya, tak perlu diragukan dedikasi dan kerja keras Tonya. Tapi para juri sepertinya tidak terlalu mau tahu.

Tonya memang sosok yang minor di percaturan atlit seluncur. Namun, adalah masalah jika kemudian ia dipandang sebagai bukan representasi Amerika Serikat. Kemunafikan disertai infrastruktur pencitraan yang pandai ini yang membuat Amerika Serikat akhirnya harus terjerembab ketika kini dipimpin oleh presiden yang punya logika membolehkan guru sekolah memegang senjata demi membuat sekolah bebas kekerasan.

Di dunia nyata, Tonya akan memilih Trump jika saja ia masih punya hak pilih. ”Kita butuh perubahan,” ucapnya. Dan terbukti pendapat Tonya mewakili Amerika yang sebenarnya. Paman Sam kecolongan karena terbuai oleh segudang potret dan citra yang mereka bangun sendiri.

Nancy Isenberg dalam bukunya yang bertajuk White Trash: The 400-Year Untold History of Class in America, menulis bahwa koloni Amerika tak dapat eksis tanpa kelas-kelas terlupakan yang berjumlah besar. Kelas-kelas terlupakan itu adalah para narapidana atau yatim piatu yang terbuang dan akhirnya membanjiri Amerika dengan sikap-sikap konservatifnya. Itulah masyarakat Amerika sesungguhnya. “Mereka yang gagal bangkit dari keterpurukan adalah bagian krusial dari diri kita sebagai sivilisasi”.

Trump tentu juga meraih dukungan dari orang-orang yang berpendidikan cukup, namun proporsi dukungan terbesar memang adalah populasi kulit putih yang tidak menyelesaikan sekolahnya. Begitu juga usia dewasa yang tidak punya pekerjaan tetap, atau bekerja dalam profesi-profesi kasar, dan merasa sebagai pribumi. Trump berkampanye dengan pendekatan dan konten yang seperti mengangkangi pendekatan demokrasi yang ideal, namun justru menunjukan bagaimana ia lahir dari budaya yang lebih tradisional dan konservatif. Contoh kecil, ia menang dengan penggunaan font tulisan yang asal-asalan dan alay di tiap konten kampanyenya. Tentu saja, memangnya warga Amerika Serikat semuanya menghargai sisi artistik sejauh itu?

Ini seperti ilusi jakartasentris di Indonesia. Seakan-akan apa yang ada di Jakarta merepresentasikan Indonesia yang sebenarnya. Padahal Indonesia yang sebenarnya mungkin saja ada di Purworejo, Poso, atau malah Bekasi. Yang terbaru, gagalnya penjualan film Benyamin dari Hanung Bramantyo pun saya duga salah satunya karena bias popularitas Benyamin. ia dipotret media-media Jakarta seolah-olah seniman legendaris yang sangat berpengaruh. Padahal, apakah anak-anak muda berbahaya Klaten cukup tahu karya-karyanya? Tanya saja.

Trump adalah tipe politikus yang payah dalam pencitraan. Namun, bukan cuma Tonya di Amerika Serikat yang sudah muak dan dirugikan dengan kepentingan citra dan sebagainya. Tonya harus meninggalkan mimpinya hanya gara-gara hipokrisi negaranya. Trump lalu datang dengan janji sederhana untuk memastikan pemerintah membela orang Amerika yang bekerja keras. Itu yang dibutuhkan sosok seperti Tonya, bukan cita-cita american dream.

Alhasil, Tonya –seperti warga Amerika Serikat lainnya—memilih Trump.

[Soni Triantoro / WARN!NG]

Tags : atlit seluncurfilm olahragakenapa trump jadi presidenmargot robbienancy kerriganseluncur esskandal olahragatonya harding
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response