close

[Movie Review] Independence Day: Resurgence

Independence Day

Independence Day

 

Director: Roland Emmerich

Cast: Bill Pullman, Jeff Goldblum, Maika Monroe, Charlotte Gainsbourg, William Fichtner

Durasi: 120 menit

Studio: 20th Century Fox (2016)

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Layaknya makanan cepat saji, film-film summer blockbuster memang tidak memiliki banyak nutrisi dan mungkin kurang baik untuk kesehatan. Bagaimanapun, masih lebih banyak orang yang makan di gerai cepat saji ketimbang restoran-restoran vegetarian. Alasannya sederhana, karena jelas pilihan pertama lebih enak. Atau mungkin, karena memang sudah menjadi sifat dasar manusia untuk selalu melakukan tindakan-tindakan merusak, setidaknya dimulai dari pikiran sendiri. Alasan yang sama barangkali bisa menjelaskan mengapa Independence Day bisa begitu sukses.

Dirilis tahun 1996, Independence Day mengubah ekspektasi dan cara pandang kita terhadap summer blockbuster. Selamat tinggal kisah pertemanan makhluk asing dengan anak ingusan dari pemukiman suburban Amerika Serikat, atau fabel cengeng tentang sekelompok singa yang tinggal harmonis dengan hewan lainnya. Independence Day memperkenalkan kita pada ID4, bangsa alien bermodalkan ratusan UFO berdiameter 24 kilometer, bersenjatakan laser maha kuat untuk mempermulus rencana menginvasi bumi. Sejak saat itu, summer blockbuster identik sebagai tontonan apokaliptik, penuh efek visual dan CGI serba meledak-ledak.

Kendati demikian, masterpiece Roland Emmerich itu masih menyajikan cerita yang cukup wajar untuk dinalar, dibawakan dengan apik oleh tokoh-tokoh protagonis yang terhitung beragam pada zamannya. Salah satunya Kapten Hiller, yang pada dasarnya adalah versi kulit hitam dari Maverick Mitchell, dan beristrikan seorang stripper. Selain itu ada pula teknisi Yahudi yang diperankan oleh Jeff Goldblum, melakukan apa yang Jeff Goldblum biasa lakukan. Jangan lupakan pula presiden terbaik sepanjang masa, Bill Pullman. Aksi dari sekelompok pahlawan non-konvensionil ini cukup menjadi alasan untuk menanti Independence Day: Resurgence.

Mengambil latar waktu 20 tahun setelah film pertamanya, kehidupan Bumi kini semakin maju berkat penerapan teknologi alien, terutama dalam bidang pertahanan. Pangkalan militer canggih didirikan di Area 51, Bulan, dan Rhea sebagai bentuk pencegahan terhadap invasi makhluk asing. Namun, rupanya semua persiapan itu tidak banyak berarti ketika ID4 kembali datang membawa bantuan.

Sedari awal, Roland Emmerich tidak tanggung-tanggung untuk mengkerdilkan invasi tahun 1996. Kapal induk yang menyambangi bumi kini tidak lebih kecil daripada Samudra Atlantik, melibas Burj Khalifa dan menghempaskannya hingga tersangkut di London seperti sehelai rambut. Kapal itu juga membawa figur ratu dari kawanan ID4. Resurgence mungkin tidak lebih baik dari film pertamanya, yang jelas film ini jauh lebih besar dalam berbagai skala. Lebih eksplosif, lebih berisik, dan tentunya lebih spektakuler. Hanya saja, terlalu memusingkan.

Selain Kapten Hiller yang telah tiada, tokoh-tokoh lama seperti David Levinson dan Presiden Thomas Withmore kembali berkumpul untuk melindungi Bumi dari kepunahan. Dr. Okun bahkan terbangun dari koma dan berkesempatan untuk meneliti bangsa alien baru, seakan lupa dengan apa yang terjadi kepadanya 20 tahun lalu. Bantuan juga datang dari Galactic AC berbentuk bola yang menggalang perlawanan antar galaksi untuk membinasakan ID4. Bersama mereka, beberapa karakter baru juga turut meramaikan perjuangan ini, tapi tidak ada satupun yang perlu banyak-banyak dibicarakan. Mengingat namanya setelah keluar dari bioskop saja sudah menjadi pencapaian tersendiri.

Banyaknya karakter dalam Resurgence juga berimbas kepada para pemain lama. Tidak ada ruang yang cukup bagi karisma Thomas Whitmore layaknya film pertama. Kini perannya direduksi sebagai orang tua yang tidak bisa berbuat apa-apa, pikirannya termakan ilusi dan delirium. Talenta lain seperti Maika Monroe, Sela Ward, dan Charlotte Gainsbourg juga disia-siakan oleh naskah yang sangat inferior. Sampai di titik dimana kelakar Jeff Goldblum bahkan tidak mampu hadir sebagai sebuah kompensasi.

Mengutus lima orang untuk merampungkan naskah Resurgence merupakan keputusan fatal. Nyatanya, kelompok tersebut tidak becus untuk mendalami setiap karakter atau memoles alur cerita agar tidak terlalu berantakan. Tidak ada harapan untuk meresapi cerita penuh intrik dan sarat nilai kontemplatif. Rasanya para produser juga tidak menuntut piala Best Original Screenplay Oscar melalui Resurgence. Cukup menyajikan narasi yang tidak terlalu berbelit-belit. Efek visual dan desain produksi serba besar jelas mampu membangun satu atau dua momen mencengangkan. Namun, tanpa alur cerita yang setidaknya koheren dan karakter untuk mengikutsertakan penonton ke dalam ceritanya, mudah untuk merasa muak di tengah film.

Meski durasinya lebih singkat dari Independence Day, film ini begitu terseret-seret dan tidak fokus dalam penyampaian ceritanya. Sulit rasanya mencari pembenaran untuk menambahkan subplot yang melibatkan Julius Levinson dan empat remaja bodoh. Tanpa pertimbangan apa-apa, mereka tega menyelipkan subplot tersebut hanya untuk menyelamatkan satu karakter yang nihil berkontribusi dalam keseluruhan cerita. Di sisi lain, sekelompok penulis yang sama tidak mampu menyisakan tiga menit durasi untuk pidato inspiratif nan patriotik lain dari Bill Pullman. Benar-benar tidak masuk akal!

Sebagaimana Alfred Hitchcock yang paling ahli dalam membangun ketegangan melalui bahasa sinema, Roland Emmerich paling tahu bagaimana caranya menggambarkan malapetaka global dalam layar perak. Mulai dari perubahan iklim hingga kadal raksasa yang mengamuk di tengah kota, Roland Emmerich tetap menjadi sutradara paling destruktif di Hollywood. Bedanya, kali ini ia tidak menghadirkan kehancuran Patung Liberty atau Gedung Putih sebagai sumber hiburan. Justru, ia menghancurkan harapan yang telah dipupuk selama 20 tahun untuk merasakan kembali daya magis Independence Day. Bencana terbesar dalam Independence Day: Resurgence bukanlah kepunahan di tangan alien, melainkan keberadaan film itu sendiri. [WARN!NG/Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response