close

[Movie Review] Lion

Lion – movie poster

Review overview

WARN!NG Level 8.7

Summary

8.7 Score

 

Director: Garth Davis

Cast: Dev Patel, Rooney Mara, Nicole Kidman, David Wenham, Sunny Pawer, Abhishek Bharate

Production: Weinsten Company – Screen Australia

Year: 2016

Semenjak Danny Boyle membuat Slumdog Millionaire (2008), saya mulai percaya akan beberapa hal. India, Negara di pengujung selatan Asia dengan luas yang menempati posisi lima besar dunia ternyata menyimpan banyak tumpukan cerita dari masyarakatnya. Bertahan atas kerasnya roda semesta merupakan definisi yang tepat; di samping usaha mendapatkan penghidupan layak. Ada perasaan miris menyaksikan ratusan juta kepala berkumpul dalam satu wilayah, saling hantam, sikut, dan menjatuhkan di tengah padatnya jalanan Mumbai. Yang menang, bakal melenggang mapan. Sedangkan pecundang? Jangan bermimpi menapaki puncak gunung tertinggi.

Berkat Slumdog Millionaire pula ketertarikan terhadap film-film bertemakan India muncul seiring berjalannya usia. Nuansa banal, terhimpit, serta humanis menjadi alasan utama mengapa keterpikatan tersebut memulai langkah pertamanya. Dalam konteks ini bukan ranah Bollywood yang senantiasa diputar di stasiun televisi swasta. Atau generasi Shahrukh Khan yang tetap menawan di umur setengah abadnya. Melainkan deretan karya semacam The Patience Stone (2012), The Darjeeling Limited (2007), dan The Lunchbox (2013) yang tidak bisa dipungkiri memberikan afeksi psikologis luar biasa setelah menontonnya.

Lalu, Lion datang membawa pesan kepada umat. Film besutan Garth Davis ini dibintangi oleh Dev Patel, Nicole Kidman, dan Rooney Mara. Diadaptasi dari kisah nyata berjudul A Long Way Home yang ditulis sekaligus dialami oleh Saroo Bierley, Lion mengisahkan perjalanan mendedah khayal, jati diri, serta bencana ketidaksengajaan yang menautkan antara waktu juga ketidakmampuan. Sebuah ekspedisi identitas yang diselami begitu jauh; melenyapkan impian sederhana yang dipupuknya sejak lama.

Cerita bermula kala Saroo muda (Sunny Pawer) mengikuti kakak laki-lakinya, Guddu (Abhishek Bharate) berburu rejeki di kota seberang yang cukup berjarak tempuh. Awalnya tak terjadi gejolak apa-apa. Ia begitu antusias serta kakaknya menjaganya sekuat tenaga. Ketika malam datang, gelombang prahara mulai menyapu dataran. Saroo tertidur, Guddu mencari sesuatu informasi yang entah, ia ditinggalkan, lalu tak lama berselang terbawa arus kereta sampai akhirnya terdampar di Kalkuta. Ketakutan, kebingungan, maupun kepanikan menyerang otak Saroo. Ditambah keterbatasan bahasanya membuat posisinya terjepit. Termasuk dua kali usaha penculikan dirinya yang beruntung dapat ia lompati.

Nasibnya tak berakhir tragis. Lembaga adopsi anak mengangkutnya untuk pergi dari India. Ia diangkat oleh sepasang suami-istri dari Australia, John (David Wenham) dan Sue Brierley (Nicole Kidman). Saroo yang serba kekurangan, diterpa kehilangan, serta kegagalan mencari arah rumahnya, sejenak dapat mengambil nafas ungkap syukur tatkala akses perhatian, pendidikan, kesehatan, serta keamanan menyinggahi sosok mungilnya yang ditempa awan pekat.

 

 

Untuk sementara Saroo (Dev Patel) dapat melupakan asal-usulnya. Dengan keluarga harmonis yang dipenuhi aroma ketulusan merawat, India tak punya tempat di benaknya. Sampai suatu ketika, saat perkumpulan mahasiswa India mengadakan malam pengakraban, Saroo dicecar obrolan tajam mengenai muasal aslinya. Dalam fisik Saroo mengalir darah India, akan tetapi ia tak mengetahui seluk beluk mengenai negerinya kecuali ingatan akan peristiwa naas di Kalkuta. Kedua matanya memancarkan kegetiran teramat; menandakan waktunya mencari sumber bahagianya yang terpaut keadaan.

Luke Davies selaku penulis naskah memoles benang adaptasi Lion dengan baik. Menyerap emosi sepenuhnya lantas menyediakan ruang rekonsiliasi di kanal-kanal yang disediakan. Adegan yang berdampak besar pada jalannya kisah termaktub kala Saroo muda tersesat di lembah Kalkuta dan tentu saja saat ia frustasi menghubungkan koordinat demi koordinat yang didapatkan melalui Google Earth untuk memastikan keberadaan halaman rumahnya.

Penguasaan bintang Lion bisa dikata memuaskan. Dev Patel mampu menghidupkan karakter tanpa cela. Karismanya menyebar ke sekujur tubuh; memastikan tak ada yang terlewatkan coretan psikis. Pesona Nicole Kidman masih bersinar terang. Kerentanan jiwanya, kesunyian, dan keinginan menyayangi anak adopsinya membuncah lara. Rooney Mara pun setali tiga uang; memainkan Lucy, kekasih Saroo yang menyoal aklamasi hubungan percintaan di tengah terpaan konflik pribadinya.

Eksotisme India dan kehangatan pantai lepas di barat Tasmania ditangkap Greig Fraser dengan yakin. Selain mengunggulkan keindahan yang ragawi, ia juga meneteskan senyawa pada panorama perilaku keseharian. Detik-detik yang melibatkan pelaku di lanskap pasar, kumuhnya rusunawa, dan wajah ganda kaum urban terus dikejar hingga menggapai estetika.

Lion adalah layar yang memantapkan persepsi dunia. Kampanye anti perdagangan manusia yang dibalut perlindungan hak asasi serta pentingnya merawat ikatan darah di atas segalanya. Garth Davis seakan menunjukan bahwa dunia tempat kita menetap dalam kondisi yang memprihatinkan. Perth dan Kalkuta meluncurkan deru kontradiksi yang nyata. Harapan, realita, praduga, hingga gemricik asumsi keterpakuan. Dan mereka masih berkeliaran hingga sekarang. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response