close

[Movie Review] Logan

Logan – poster

Review overview

WARN!NG Level 9

Summary

9 Score

 

 

Director                : James Mangold

Cast                       : Hugh Jackman, Patrick Stewart, Dafne Keen, Stephen Merchant, Richard E. Grant

Durasi                   : 137 menit

Studio                   : 20th Century Fox

Year                       : 2017

Sebagaimana Terminator adalah Arnold Schwarzenegger, Rambo adalah Sylvester Stallone, dan Ellen Ripley adalah Sigourney Weaver, maka hampir mustahil untuk membayangkan Wolverine dimainkan oleh aktor selain Hugh Jackman. Di awal millennium, X-Men berhasil merubah paradigma film superhero menjadi mesin cetak uang studio Hollywood, kemudian membusuk di The Last Stand, dan kembali apik dengan First Class. Selama 17 tahun naik dan turun franchise ini, Hugh Jackman telah merengkuh status sebagai pentolan de facto para mutan. Sekarang, saatnya kita berpisah dengan salah satu karakter paling ikonis dalam khazanah budaya superhero.

Anda tidak perlu mengkhatamkan sembilan film sebelumnya atau menghafal komik Old Man Logan dan hikayat X23 di luar kepala untuk bisa mengapresiasi Logan. Di pertengahan film, Logan berdecak sinis melihat tragedi hidupnya direduksi menjadi konsumsi ringan bagi bocah dalam panel-panel komik. Seakan menekankan kalau kisahnya kali ini tak bisa dianggap sebagai eskapisme belaka. Benar saja, tidak ada rasanya yang bermimpi untuk menghabiskan masa tua sebagai supir limousine serabutan sambil merawat orang tua yang mulai delirium.

Logan memaksa kita melupakan semua hal yang kita tahu tentang kehidupan seorang superhero. Kemampuan regenerasi yang dimiliki sang tokoh tituler mulai memudar. Luka tebas dan tembusan timah panas kini meninggalkan bekas. Rasa linu mulai terasa saat cakarnya keluar dari sela-sela jari. Langkah Logan mulai pincang dan kacamata baca kini menjadi pengganti cerutu sebagai aksesoris yang tidak bisa ditinggal.

Keadaan Charles Xavier juga tidak lebih baik. Sirna sudah semua kebijakan dan wibawa yang ia miliki, berganti gerutu dan keluhan khas kakek-kakek. Kemampuan otaknya yang dikategorikan sebagai senjata pemusnah masal mulai digerogoti penyakit. Ia bergantung pada obat-obatan untuk merawat kejang yang dapat membahayakan orang-orang di sekitarnya.

Rupanya kekuatan super tidak bisa menghindarkan seseorang dari krisis eksistensial di masa senja. Kawan-kawan mutan mulai berguguran. Tidak ada lagi alasan untuk merealisasikan visi utopis tentang perdamaian dunia dan keselarasan hidup antara mutan dan manusia. Kedua superhero uzur ini cuma ingin mengumpulkan cukup uang untuk membeli kapal dan hidup damai di tengah lautan. Seberkas harapan diwakili oleh X23, anak kecil hasil eksperimen mutasi genetik yang secara tidak langsung menempatkan dirinya sebagai keturunan Logan.

Dengan segala drama dan alur cerita yang kontemplatif, Logan tidak lupa diri dan tetap melunaskan tanggung jawab sebagai film superhero yang harus dibumbui aksi mencengangkan.  Salah besar jika menilai keputusan studio untuk mengejar rating R sebagai strategi finansial yang merujuk pada kesuksesan Deadpool. Logan tidak memanfaatkan kebebasan kreatif ini hanya untuk cari sensasi.

 

 

Dari scene pertama, kebrutalan justru menjadi bahasa visual yang lantang memperlihatkan karakter Logan. Cakarnya tak ragu memotong kaki dan tangan lawan. Atau, langsung saja diarahkan menembus batok kepala kalau tidak mau repot. Gaya bertarung yang liar dan berantakan layaknya binatang menjadi komposisi utama framing. Tidak kalah tajam, musik Marco Beltrami selalu tepat sasaran untuk memperkaya suasana. Bergemuruh kencang di tengah ketegangan aksi dan mengiring sendu dalam momen-momen sentimentil. Semuanya tersusun rapih dengan teknik editing yang tidak menyulut epilepsi.

Ingat adegan di X-Men: Apocalypse saat Michael Fassbender meraung frustrasi melihat istri dan anaknya meregang nyawa? Logan akan menyulut emosi serupa sepanjang durasi. Selain perihal teknis yang mumpuni, kesuksesan film ini banyak bergantung pada adu peran Hugh Jackman dan Patrick Stewart. Bagi mereka yang tahu latar belakang keduanya tentu tidak lagi meragukan kemampuan akting yang dimiliki. Tapi, baru pada film ini mereka diberikan ruang seluas-luasnya untuk mengeksplorasi kedalaman karakter, sebuah kesempatan yang jarang didapat dari film berlabel blockbuster. Bicara tentang kehebatan akting, Dafne Keen sebagai pendatang baru juga berhasil mencuri sorotan. Meski tidak banyak bicara, X23 hadir sebagai penawar dari kesan keputusasaan yang mewarnai film secara keseluruhan.

Jika The Wolverine secara eksplisit menghadirkan elemen film samurai, kali ini James Mangold tidak malu untuk memperlihatkan inspirasi film western dalam Logan. Potongan film Shane yang ditonton Charles dan X23 bukannya dipilih sembarangan. Mengesampingkan kekuatan super yang dimiliki, tidak sulit untuk melihat kesamaan jalan hidup Logan dengan kisah klasik western.

Sejalan dengan referensi western yang sudah disinggung, senang rasanya mengetahui kalau kiasan “riding off into the sunset” rupanya berlaku juga dalam ranah superhero. Bukan rahasia lagi kalau Logan akan menjadi film terakhir Hugh Jackman dan Patrick Stewart sebagai Wolverine dan Professor X. Fakta ini membuat Logan terasa semakin istimewa di tengah industri yang semakin produktif dan eksploitatif. Terlepas dari permasalahan kualitas, film superhero belakangan ini terasa seperti hasil daur ulang dan peleburan materi dengan formula paten. Setiap film adalah fragmen tanpa konklusi, dikondisikan sebagai tulang punggung ekspansi merek dagang.

Sementara, Logan berakhir dengan kesimpulan yang pasti. Untuk pertama kalinya dalam sejarah film superhero modern, “FADE OUT.” dalam naskah memiliki signifikansi bahwa film ini menjadi pertanda berakhirnya sebuah era. Tidak ada narasi yang dibiarkan menggantung untuk memberi ruang bagi sequel lainnya. Turut memperhitungkan kesemrawutan lini masa dalam semesta X-Men, Logan juga bisa saja berdiri sendiri tanpa menyertakan inkonsistensi film-film sebelumnya.

Kenyataannya, cakar adamantium tidak akan lagi keluar dari tangan Hugh Jackman. Kursi roda milik Professor X juga tidak akan lagi diduduki Patrick Stewart. Jika memang sudah saatnya, maka Logan adalah sepantas-pantasnya dan seindah-indahnya ucapan selamat tinggal. [WARNING/Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response