close

[Movie Review] Love For Sale

Love for Sale

Love For Sale Review oleh: Almuklishidin

 

Menonton Love For Sale Seperti Mengupas Bawang

Beberapa waktu lalu ketika melejit kasus Harlingga Sirla setelah pertandingan Persib dan Persija orang mungkin akan teringat dengan film Romeo Juliet (2009). Itu adalah film Andibachtiar Yusuf yang akan terus relevan selama budaya kekerasan masih kuat dalam kancah suporter bola. Tapi ingatkah kamu bahwa beberapa lalu Visinema Pictures merilis film Andibachtiar Yusuf yang tidak kalah relevannya dengan film tadi? Yang ditekankan dalam banyak promosinya adalah kejombloan, topik sejuta umat yang bisa menimbulkan banyak kontroversi. Tapi tidak hanya itu muatannya.

Film ini berlapisan banyak. Itulah komentar Atiqah Hasiolan dalam video galer (gala premier) Love For Sale. Memang ada banyak lapisan masalah dari film tentang lelaki empat puluhan yang hidupnya berubah setelah dilayani secara jiwa raga oleh perempuan muda via aplikasi semacam Tinder dengan fitur sewa pasangan yang melayani secara prima jangka panjang ini. Mari kita bahas empat di antaranya.

Yang paling kentara tentu soal cinta. Richard (Gading Martin) mengalami trauma cinta. Hubungan cinta beda agamanya ketika masih SMA kandas karena ditentang orang tua. Dampaknya bertebaran sepanjang cerita, dari kekakuannya dalam menangani usaha percetakan warisan keluarganya, kebutaannya terhadap perempuan-perempuan yang mendekatinya semasa kuliah, sampai rutinitasnya yang begitu-begitu saja. Pulang kerja nonton TV sambil kelonan dengan kura-kuranya dan sesekali nonton bareng bola dengan teman-temannya yang jauh lebih muda. Sementara kebanyakan film lokal tentang hubungan beda agama lebih menyorot bagaimana perjuangan pasangan itu menghadapi penentang hubungannya, film garapan Andibachtiar Yusuf ini melompat jauh dan langsung menampar kita dengan menunjukkan kerusakan akibat kandasnya.

Selanjutnya, soal kejujuran, ketulusan, atau apalah namanya. Hidup Richard berubah 180 derajat setelah dia berhubungan dengan Arini (Della Dartyan). Pendek kata, dia jadi orang yang menyenangkan bagi orang lain dan hidupnya lebih berwarna. Arini membawa pengaruh bagus bagi Richard. Tapi masalahnya adalah segala perlakuan Arini terhadap Richard didasarkan pada profesionalitas sebagai pegawai Love Inc? Sebab sebagai pegawai perusahaan aplikasi jasa pendamping yang dikesankan sebagai perusahaan abal-abal itu, Arini harus melayani kebutuhan cinta Richard secara fisik maupun mental selama waktu yang (tidak sengaja) dipilih Richard. Bisa disimpulkan bahwa segala kemesraan dan kemesraan Arini pada Richard bukanlah (mula-mula) berasal dari dirinya sendiri. Persoalan ini bisa membawa kita ke suatu pertanyaan etis: apakah berbohong dibenarkan kalau hasilnya baik bagi pihak yang terlibat?

Selain pada salah satu aspek masa lalu Richard tadi, kita juga bisa melihat lapisan agama pada cara film ini menggambarkan sosok semacam ustaz. Sementara lazimnya film-film lokal menggambarkan ustaz dengan jenggot, bekas hitam di jidat, Bahasa Arab, dan gamis, Panji (Verdi Solaiman), teman Richard sejak SMA yang kelihatannya didudukkan sebagai ustaz dalam film ini sama sekali tidak memiliki ciri tipikal semacam itu. Dari caranya memparafrasekan ayat Al-Quran tentang jodoh dan solat yang sama sekali tanpa Bahasa Arab dan gaya ceramah, ciri rasialnya yang Tionghoa (yang kadung jarang diasosiasikan dengan Islam), sampai dandanannya yang kasual. Penggambaran semacam ini seolah ingin memberikan rupa lain pada sosok ustaz dalam film Indonesia. Mungkin juga keputusan ini adalah tanggapan atas kecenderungan ustaz-ustaz zaman sekarang yang berusaha menggunakan jubah yang lebih kasual dan jauh dari citra kearab-araban.

Pertemuan Richard dan Arini tidak akan terjadi tanpa teknologi. Tapi bukan hanya kehidupan pribadi Richard yang dipengaruhi teknologi, melainkan kehidupan profesionalnya juga. Pada akhir film yang cukup ambigu itu Richard sudah melakukan perjalanan jauh yang tujuannya entah mencari Arini atau mencari jati diri itu selama tujuh bulan. Di sinilah peran teknologi dalam kehidupan profesional ditonjolkan. Bisnis percetakannya tetap jalan dan Richard masih dapat memantaunya lewat panggilan video dengan para pegawainya. Dengan teknologi orang masih dapat melakukan perjalanan spiritual jangka panjang sambil tetap memantau bisnisnya. Kalau dulu perjalanan terasa amat romantis dengan jauhnya si pengembara dengan rumahnya, teknologi memecahkan romantisme itu. Mungkin romantisme itu masih bertahan kalau si pengembara itu tidak menggunakan teknologi komunikasi itu.

Itu tadi kita baru membahas empat lapisan dalam film ini. Belum kalau kita membahas lapisan prostitusi, perusahaan abal-abal, dan lapisan lain yang mungkin hanya kamu yang lihat. Ada banyak yang bisa kita obrolkan dari Love For Sale. Bahkan mungkin kalau kita bawa topik film ini ke tongkrongan, kita akan menghabiskan bergelas-gelas kopi. Saking banyaknya lapisan dalam Love For Sale saya merasa seperti sedang mengupas bawang ketika menontonnya.

 

 

Sutradara: Andibachtiar Yusuf

Pemeran: Gading Martin, Della Dartyan

Rumah Produksi: Visinema Pictures

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response