close

[Movie Review] Lovely Man

Lovely Man

Review overview

WARN!NG Level 8.5

Summary

8.5 Score

Director: Teddy Soeriaatmadja

Cast: Donny Damara, Raihaanun

Year: 2011

Jakarta, kota di mana segala riuh rendah kehidupan berkumpul jadi satu; uang, hasrat, nafsu, angkara, perpisahan, perjumpaan, keinginan, dan kasih sayang yang setiap saat, setiap waktu, terselip di antara tumpukan jerami masyarakat urban. Terkadang menonjol di atas gedung pencakar, terkadang tenggelam di bawah kolong jembatan. Banyak yang berkata, menghidupi Jakarta tak ubahnya menyerahkan diri pada dinamika zaman. Atau yang lebih ekstrim; menjual diri pada gelontoran modernitas. Siapa yang bertahan, itulah mereka yang menang. Siapa yang terkekang, itulah tanda kekalahan. Sudah berapa ratus juta orang tertarik hijrah ke Jakarta demi penghidupan yang layak?

Sudah berapa ratus juta manusia yang menganggap Jakarta adalah surga dunia? Bergelimang harta, tahta, dan juga wanita, itu yang memang dicari, diburu, serta diperebutkan membabi buta. Apakah memang Jakarta memang mampu memberikan kehidupan yang layak? Atau justru malah meninggalkan luka yang mendalam bagi kita, mereka, dari masa ke masa?

Pikiran tentang Jakarta membawa ingatan tentang Lovely Man; sebuah film besutan Teddy Soeriaatmadja yang dirilis tahun 2011 silam. Menonton Lovely Man, dapat menjadi ajang refleksi menyoal kehidupan, banalitas kota Jakarta. Semacam pengingat, pemantik, serta penanda bahwa Jakarta tak baik-baik saja. Berharap pada Jakarta? Tentu itu hak setiap manusia. Akan tetapi jangan meninggalkan fakta bahwa Jakarta memendam batu keras. Beberapa orang meyakini keras atau tidaknya tergantung persepsi, asumsi, dan tentunya opini bersangkutan. Tak ada yang menyalahkan pendapat tersebut. Bagaimanapun juga beragam bukti sudah terpampang jelas dan Lovely Man membuatnya lebih melankolia.

Donny Damara memainkan peran Syaiful; seorang waria yang berpacu pada gelapnya dunia malam. Rasa frustasi membuat pikirannya tertekan lantas mengambil jalan pintas yang menghasilkan, sekalipun jalan yang diambil adalah kerikil tajam cum radikal. Mungkin ia tak pernah membayangkan sebelumnya; mengakali kemaluannya terlebih juga kejantanannya untuk lembaran rupiah. Malam menjadi teman hangat baginya selain sebatang rokok kretek yang selalu ia hirup dalam-dalam kala menciumi ironisnya realita depan mata.

Saat kehidupannya berangsur normal dan tampaknya ia menerima pasrah kondisi kontradiktifnya, Cahaya yang diperankan oleh Raihanuun datang menemui. Impian Cahaya sederhana; menemukan sosok ayah yang terpisah selama belasan tahun, bercerita tentang kehamilan dalam perutnya, lalu sedikit bernostalgia di tengah situasi keluarganya yang retak tak tersisa. Namun, apa yang ia lihat justru menyakitkan. Fakta berbicara; ayahnya menjadi perempuan jadi-jadian dan melakoni pekerjaan tabu sepanjang waktu.

Tetapi ia tak bergeming. Mencoba menerima pahitnya kenyataan adalah solusi bijak daripada musti mengutuk, mencelanya habis-habisa, atau malah memutus ikatan yang terjalin sejak rahim. Ia sadar, kerinduan terhadap sosok ayahnya mengalahkan semuanya. Ia rela dan mungkin tak mengapa menonton sesuatu berjalan berkebalikan antara siang dan petang dari figur terkasihnya.

Lovely Man menggariskan benang merah yang jelas. Jakarta, memang demikian adanya. Jakarta dapat melahap yang lemah kapan saja, membuangnya ke mana saja, lalu menghilangkannya tanpa jejak yang ada. Uang mungkin adalah berhala yang diperebutkan, disembah, tak peduli keadaannya asal perut terisi kenyang, rumah terawat nyaman, dan masa bodoh dengan patung bernama rasa simpati. Tak peduli kata malu, tak risau kata tabu. Menerobos sekat-sekat norma yang tak semestinya ditebas begitu saja. Karena Jakarta memaksa kita sampai semuanya tak berbekas demi mendambakan kehidupan.

Apakah hal ini relevan dengan harga yang pantas diterima? Rasanya tak ingin menghakimi. Pantas atau tidaknya merupakan sikap yang berbeda dari konteks perbincangan. Entah bermanfaat atau merugikan, bukan koridor kita untuk menentukan. Syaiful dalam Lovely Man telah memberikan kita gambaran tentang apa yang dilakukannya sudah terbingkai dalam potret kehidupan. Meninggalkan entitas aslinya sebagai lelaki, seorang ayah, rutinitas normalnya, demi memuaskan para pelanggan.

Bagi orang awam tentu menjadi kecelakaan yang sebenarnya bisa dihindarkan. Tragedi yang seharusnya bisa dielakan dan dituntun ke jalan penyesuaian. Namun apakah jalan penyesuaian tersebut memang sesuai dengan kapasitasnya? Belum tentu. Alasan mencoba menerima Jakarta sebagai kota dengan beribu dinamikanya telah atau terkadang memaksa kita lahir dalam wujud yang baru. Wujud yang kadang tak sesuai dengan ekspektasi kita, wujud yang kadang menghilangkan kita dari tatanan semesta. Apa yang dilakukan dengan wujud baru tersebut menjadi sebuah diktum terkini. Jakarta adalah ovum yang kelak menjadi cikal bakal para diktum tersebut. Sudah menjadi ritus kebanyakan bahwa mau tidak mau Jakarta menyambut kelahiran kembali kita. Entah dalam keadaan yang baik ataupun tidak.

Namun, Lovely Man juga menggambarkan bahwa Jakarta adalah titik yang mempertemukan cinta di antara keduanya. Cinta dan juga kerinduan yang sekian lama terpendam, tak bertuan, terbatas, dan akhirnya muncul kembali di kota banal. Pertemuan antara Cahaya dan Syaiful bukan sebatas pertemuan biasa. Ia lebih dari itu. Di dalam pertemuan tersebut masih tersimpan sekam ketidakpercayaan, amarah, kekecewaan, yang pada akhirnya membuat semua luluh atas nama ikatan jiwa.

Jakarta nyatanya mampu menyediakan ruang-ruang tersebut sebagai bentuk kanal konsolidasi antara pihak-pihak yang dikecewakan kehidupan. Dari Lovely Man kita mengerti bahwa waktu pada akhirnya akan mengembalikan semua yang telah hilang dari kita. Dan Jakarta berdiri di belakangnya. Kiranya tak ingin mengutuki secara berlebihan bagaimana Jakarta telah mengambil banyak hal. Juga tak ingin memuji secara serampangan bahwa Jakarta telah memberikan ruang keindahan. Bagi kita, baik dan buruknya Jakarta adalah persoalan tentang memahami, memberi batas kompromi, dan merelakan hal yang tak terjadi lagi. Dan Lovely Man adalah album memorabilia yang mampu menyadarkannya tanpa menghancurkan sanubari. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response