close

[Movie Review] Loving Vincent

Review overview

WARN!NG Level 9.5

Summary

9.5 Score

 

Sutradara: Dorota Kobiela, Hugh Welchman

Pemain/Pengisi Suara: Douglas Booth, Eleanor Tomlison, Chris O’Dowd, Saoirse Ronan, Aidan Turner

Produksi: Good Deed Entertainment

Tahun Rilis: 2017

 

Setelah ramai jadi buah bibir di jagat maya, akhirnya film animasi panjang pertama yang disusun dari lukisan tangan ini hadir di layar lebar Indonesia. Tak kurang dari 100 seniman lukis berkontribusi dalam pembuatan film “Loving Vincent”. Judul diambil dari salam penutup Vincent van Gogh tiap ia berbalas surat dengan adik lelakinya, Theo van Gogh. Theo adalah satu dari sedikit manusia yang benar-benar berinteraksi dengan Vincent.

Sebagai pribadi yang tertutup dan pendiam, Vincent ialah teka-teki bagi sekitarnya, baik selama hidup maupun matinya. Selain lukisan yang kini nilainya menyentuh langit, tidak banyak yang tahu pribadi Vincent van Gogh. Boro-boro kita yang hidup belasan dekade setelahnya. Orang-orang di sekelilingnya saat itu bahkan memiliki kesan beragam atas Vincent. Stigma sebagai lulusan rumah sakit jiwa tentu bukan bekal yang baik untuk membaur di masyarakat. Meski demikian, ia adalah sosok yang dicintai oleh beberapa. Maka, kalimat loving Vincent, selain bisa dipahami sebagai: “dari Vincent yang mencintaimu”, dapat juga diterjemahkan sebagai: “mengasihi Vincent”.

Selama 95 menit sinema, melalui 65.000 frame lukisan, sosok Vincent dihidupkan kembali. Ia boleh jadi seorang protagonis dalam sebuah film biografi, namun karakternya tak terasa egois. Sudut pandang cerita justru diambil dari orang-orang yang pernah bersinggungan dengannya. Sebuah teknik tepat guna dalam membangkitkan simpati dan menyibak mitos-mitos yang menyelubungi si tukang lukis yang fenomenal.

Cerita film ini sebenarnya sangat sederhana. Berlatar tahun 1891, sekitar satu tahun setelah Vincent van Gogh (Robert Gulaczyk) menembak dirinya sendiri di perut sebelah kiri. Joseph Roulind (Chris O’Dowd), seorang tukang pos memberi amanah pada anaknya, Armand Roulind (Douglas Booth), untuk menelusuri jejak keberadaan Theo van Gogh dan menyampaikan surat terakhir Vincent padanya. Alamat yang ditulis Vincent sudah tidak tertuju pada rumah yang dimaksud. Lagi pula, belum sempat sampai ke tangan si penerima, si pengirim surat sudah keburu mangkat.

oleh Władysław Pitala

Armand acuh tak acuh pada Vincent, pasalnya ia menganggap pelukis itu cuma orang gila yang tak segan mengiris kupingnya sendiri dan menghadiahkannya langsung pada pelacur di rumah bordil. Sudah gila dan berkalang tanah, masih menyusahkan pula, pikirnya. Bila aku menulis surat untukmu dan aku mati, kamu tentu ingin membacanya, bukan? Begitu ayahnya membujuk. Setengah hati, Armand akhirnya berangkat juga ke Paris.

Petualangan mencari alamat sedikit demi sedikit memperjelas pandangan Armand atas sosok Vincent van Gogh. Meski satu kampung halaman dengannya, Armand tidak begitu ambil pusing pada keberadaan Vincent. Perjalanan ini membawanya kembali berkenalan dengan Vincent. Lewat cerita-cerita orang, lewat cara yang tak biasa. Pertemuan dengan suplier cat Pere Tanguy menggiringnya ke bagian lain Kota Paris. Auvers-sur-Oise adalah lokasi terakhir Vincent hidup, di mana sebelumnya ia dirawat jalan oleh dokter Gauchet.

Rasa penasaran, belas kasihan, dibumbui dengan kecurigaan membuat Armand tinggal lebih lama di Auvers. Ia menggali perihal kematian Vincent dalam-dalam, mengorek informasi dari penjaga rumah dokter Gauchet yang galak, Louise Chevalier (Helen McCrory); putri semata wayang dokter Gauchet, Marguerite Gachet (Saoirse Ronan); dokter Gachet (Jerome Flynn) sendiri; anak pemilik penginapan, Adeline Ravoux (Eleanor Tomlison); polisi setempat; dan tukang perahu tak bernama (Aidan Turner). Masing-masing orang punya pendapat berbeda soal pribadi dan musabab kematian Vincent. Armand juga menjumpai dokter Mazery yang eksentrik. Dokter Mazery yakin jika Vincent bukan bunuh diri namun ditembak dari sudut bawah. Dokter berambut putih itu dengan antusias mengilustrasikan reka ulang kejadian. Keterangan tersebut menggiring asumsi Armand bahwa perisak bernama Rene Secretan adalah pihak yang patut dipersalahkan.

oleh Vitaly Muryn

Rasa penasaran Armand kemudian disentak oleh pertanyaan Marguerite Gachet, gadis jelita yang selalu membawakan bunga ke makam Vincent. “Kau penasaran betul dengan kematian Vincent, tapi apakah kau sama pedulinya dengan kehidupannya?” Benar, kita seringkali mencari tahu dengan menanggalkan simpati, mengeruk informasi untuk memuaskan ego sendiri, menikmati tragedi demi kepuasan pribadi, tapi apakah kita benar-benar peduli? Hardikan Marguerite bukan eksklusif ditujukan untuk Armand, kontekstual, itu adalah tamparan bagi manusia moderen mana saja.

Maka, ketika lapisan-lapisan teka-teki mulai terkelupas dan mendekati inti kebenaran, Armand kian khawatir dan menolak percaya jika kematian Vincent memang diupayakan sendiri. Vincent tidak bahagia, kita pun sesekali merasakannya; Vincent merasa tak berdaya, siapa sih yang tidak?; Vincent ragu karir melukis bakal ada duitnya, lha bukannya sudah jadi rahasia umum jika seniman bukan kerjaan menjanjikan? Sialnya, perihal depresi bukan hal yang bisa dirasionalisasi. “Life can bring down the strong,” ujar Joseph di akhir film. Bukan tugas kita menghakimi dan menyesali.

Betul, kematian adalah hal gampang bagi yang mati, adalah penderitaan bagi yang ditinggalkan. Tapi Vincent sendiri dalam surat terakhirnya berkata enteng, “maybe we can take death to go to a star and to die peacefully of old age would be to go there on foot.” Kematian hanya perkara pindah tempat, dan Vincent memilih untuk berpindah dengan cara yang lebih cepat, bukan jalan kaki, namun sedikit berlari. Rasanya tidak penting sesegera apa dirimu meninggalkan dunia, tapi dengan cara apa dirimu dikenang setelahnya.

oleh Carmen Belean

“Loving Vincent” berhasil menyajikan kisah yang lugas tanpa pretensi. Tanpa dramatisasi penuh motivasi, film ini adalah persembahan yang pantas bagi mendiang Vincent van Gogh. Berangkat dari seseorang yang dipandang sebelah mata baik oleh orang tua maupun lingkungan, Vincent berhasil berjaya lewat 800-an lukisan di akhir hayatnya. Di adegan penghujung, disertakan deskripsi soal tokoh-tokoh nyata yang diangkat dalam kisah “Loving Vincent”. Begitu menyesakkan hati ketika mengetahui bahwa Vincent melukis hampir semua orang yang pernah ia jumpai, namun bagaimanapun ia tetap disiksa kesendirian. Penggambaran tokoh dalam film ini secara langsung diilhami oleh lukisan-lukisan terkenal Vincent van Gogh, seperti The Yellow House, Portrait of Pere Tanguy, At Eternity’s Gate, La Mousme, Portrait of Adeline Ravoux, Marguerite Gachet at the Piano, tentunya The Starry Night, dan lain sebagainya.

Segala daya upaya semua pihak di balik layar “Loving Vincent” terbayar sudah. Transisi adegan-adegan yang digambar tangan sama mulusnya seperti kerja kamera digital. Musik latar dengan proporsional mengiringi segala emosi yang tersaji pada layar. Dialog disusun dengan efektif, menggiring emosi tanpa sengaja menjebak penonton dalam kubangan air mata. Sekali lagi, “Loving Vincent” adalah persembahan yang pantas, sebuah tribute untuk merayakan kehidupan Vincent van Gogh, alih-alih menangisi kepergiannya. [WARN!NG/Adya Nisita]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response