close

[Movie Review] Mad Max: Fury Road

the-man-behind-the-awesome-flamethrower-guitar-player-in-mad-max-fury-road-is-a-popular-australian-musician.jpg

MAD MAX : FURY ROAD

Director          : George Millerthe-man-behind-the-awesome-flamethrower-guitar-player-in-mad-max-fury-road-is-a-popular-australian-musician.jpg

“Menyaksikan film Mad Max : Fury Road, rasanya seperti sedang menyaksikan konser musik death metal“, ujar kritikus film Mark Kermode. Ya, ungkapan tersebut memang tepat untuk menggambarkan film ini. Sejak menit awal, para penonton akan disuguhi dengan berbagai lontaran api dan ledakan yang disajikan dalam panasnya padang gurun yang gersang. Namun tidak hanya itu, pemilihan kostum berbagai karakternya serta modifikasi kendaraan yang aktraktif juga ikut menambah nuansa cadas dari film ini.

George Miller sang sutradara berusaha untuk menyuguhkan film action yang benar-benar action dengan efek komputer minimalis. Dengan begitu, sebagian besar pengambilan gambar pun dilakukan secara fisik oleh stuntman. Meskipun banyak adegan berbahaya yang dilakukan, namun beruntung Miller tidak mendapati laporan kecelakaan yang serius. Dalam proses produksinya sendiri,  film yang berlokasi di Afrika dan Australia ini diperkirakan menghabiskan dana sekitar 150 juta dolar AS.

Konon dikisahkan bumi telah tercemar dan berubah menjadi padang gurun yang gersang, segala hal termasuk nilai sosial dan moral telah jauh berubah, dan manusia terbagi dalam kelompok-kelompok kecil untuk dapat bertahan hidup, salah satunya dibawah kendali seorang Warlord yakni Immortan Joe. Pada adegan awal, Max Rockatansky, seseorang yang memilih untuk hidup independen secara tidak sengaja masuk ke dalam daerah yang menjadi kekuasaan Immortan Joe. Ia ditangkap oleh Warboys (sebutan untuk pasukan Immortan Joe) dan dijadikan kantung darah. Pada suatu ketika Max bergabung dengan Furiosa, seorang komandan perang perempuan bawahan Immortan Joe yang berusaha kabur bersama dengan para istri serta membawa beberapa komoditas milik Joe. Sadar beberapa hal penting miliknya dibawa kabur, Immortan Joe memerintahkan Warboys untuk mengejar dan adegan-adegan seru pun segera dimulai.

Dari keseluruhan film, terdapat sesuatu yang menarik, yakni peran para perempuan dalam film ini. Pertama adalah komandan dari para Warboy (yang keseluruhannya adalah laki-laki) yakni Furiosa, adalah seorang perempuan. Yang kedua adalah tulisan yang ditinggalkan oleh para breeder (para istri dari Immoertan Joe) di sebuah ruangan tempat mereka dikurung yang berbunyi antara lain “our babies will not be warlord” dan ”who killed the world”. Dan  yang ketiga adalah kegagalan Max untuk menembak musuh dari jarak jauh, yang kemudian digantikan oleh Furiosa yang sukses melakukan tembakan tersebut dalam satu kali kesempatan. Dari beberapa hal tersebut, tampak sebuah penekanan terhadap peran kaum hawa. Mereka tidak hanya ditampilkan sebagai pendamping tokoh utama yang pada akhirnya harus jatuh cinta pada sang tokoh utama, namun lebih kepada sosok-sosok perempuan yang dapat memimpin, mau dan berani memperjuangkan hidupnya, sekali pun harus angkat senjata melawan sang penguasa dan seluruh pasukannya.

Dari sisi sosial, Miller berhasil memberikan sebuah gambaran struktur sosial yang cukup baik. Ketika nilai sosial serta moral sudah berubah dan hukum alam kembali mengambil alih dunia membuat suasana kehidupan menjadi begitu keras dan menyakitkan. Siapa yang kuat, dialah yang bertahan, dan selalu ada cara yang dilakukan untuk mendapatkan loyalitas, seperti yang dilakukan Immortan Joe yang memberikan doktrin bagi para Warboybahwa kematian adalah pintu gerbang menuju kehidupan abadi di Valhala-yang membuat para Warboy dengan setia dan senang hati berjuang untuk Immortan Joe, bahkan hingga ajal menjemput.

Pada akhirnya, kisah kehidupan masa datang tersebut dengan berbagai detailnya, mampu dikemas dengan baik oleh Miller sehingga menjadi pendamping yang serasi bagi adegan-adegan menantang yang ada dalam film ini. Lupakan tokoh utama serba bisa dan tak terkalahkan selayaknya pahlawan super, kali ini anda berjumpa dengan Max yang akan membawa pada berbagai adegan action yang nyata. Louder than loudest!!!

Naskah resensi oleh kontributor [Aryo Lukisworo]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response