close

[Movie Review] Manchester by the Sea

Manchester by the Sea

Review overview

WARN!NG Level 8.3

Summary

8.3 Score

 

Director: Kenneth Lonergan

Cast: Casey Affleck, Michelle Williams, Kyle Chandler, Lucas Hedges

Production: Amazon Studios, K Period Media, Pearl Streets Films

Year: 2016

Dalam kehidupan yang terus bergerak maju, melintasi waktu, kita pasti pernah berkubang di fase gelapnya titik rendah. Tahapan di mana yang ada hanyalah keputusasaan serta hilangnya gairah melanjutkan; seakan depresi jadi karib setia seorang diri. Ekspektasi yang tak meluncur sesuai arah jarum jam, keluar dari lintasan keinginan, serta mimpi semalam yang tak lekas jadi kenyataan. Seketika semua tinggal menyisakan raut wajah tanpa rona yang merekah; berlumur kemurungan, bermuram kepiluan.

Mencari pelampiasan mungkin dapat jadi jalan pintas yang segera diambil. Melamun setiap pukul duabelas petang di pojok bar, menenggak segelas scotch yang asam, dan menyaksikan bualan kepalsuan para pria demi menggaet wanita yang baru dikenalnya beberapa menit lalu. Entah bosan atau tidak tahan, sentuhan refleks memaksa langkah kaki beranjak dari tempat duduk lantas menggeber sebongkah Cadillac yang tak lagi perkasa; sebelum terlelap di bawah harap pengulangan sedemikian rupa.

Lee Chandler (Casey Affleck) kiranya tak menyangka jika dunianya bakal berubah begitu drastis. Dari sosok kepala keluarga dengan istri yang menyayanginya, buah hati yang kelewat menggemaskan, kemapanan bisnis turun temurun yang sulit dipatahkan dominasinya, serta teman-teman satu lingkungan yang hangat dengan gebyar tawa botol bir maupun permainan ping-pong bawah tanah, menjadi pecundang yang mencoba menghindari pekatnya awan masa lalu.

Ia kehilangan anak-anaknya karena ketidaksengajaan konyol; lupa mematikan pemanas ruangan yang memicu musnahnya seisi rumah. Beruntung, Randi (Michelle Williams) bisa terselamatkan. Tetapi nasib perkawinannya tak serta merta berujung sama. Perceraian menghampiri dan dirinya dipojokan dengan kesalahan tunggal pada tragedi naas tersebut. Alhasil, kebahagiaannya perlahan demi perlahan gugur berjatuhan. Termasuk vonis kematian kepada saudara lelaki sekaligus panutan terdekatnya, Joe, yang memaksanya menanggung beban bertumpuk-tumpuk.

Hari terus berlalu. Lee berusaha keras meluruskan fokusnya. Ia beralih profesi sebagai pekerja reparasi murung yang diandalkan banyak orang. Sejenak ia mulai menata kembali konstruksi batinnya hingga akhirnya kabar buruk terdengar telinganya; Joe (Kyle Chandler) menutup usia. Hal itu sebetulnya sudah diprediksi oleh Casey. Ia tak terlalu terkejut menerima kepergian sang abang. Justru penunjukannya selaku wali asuh bagi Patrick (Lucas Hedges)—putra semata wayang Joe—yang menyengat motorik penolakan. Kala penyembuhan traumatis terdahulu belum tertutup secara rapat, foto mantan yang kian bersinar gejala kesakitan malah lahir tanpa diperkirakan.

Manchester by the Sea merupakan narasi panjang baik secara durasi maupun penuturan tiap konflik yang menyentil relung personal. Gejolak psikis dileburkan pelbagai konflik sederhana yang bermakna dalam. Kenneth Lonergan menyediakan jalur masalah dengan acak meski di bagian awal terlihat laiknya kabut yang mengaburkan pandangan. Walaupun menempatkan figur Lee pada prioritas utama, sesungguhnya ia merapikan benang kusut berwujud ikatan sedarah menjadi fondasi pertama.

Apabila Anda bukan penikmat film drama yang datar, sarat percakapan bias, dan minim turbulensi naskah yang biasanya naik-turun, saya sarankan tak usah membuang tenaga berdalih memuaskan sikap penasaran demi menonton karya Lonergan ini. Manchester by the Sea dialamatkan kepada mereka yang dilumat habis-habisan oleh realita lantas memerlukan kertas rekonsiliasi untuk menggoreskan tinta sentuhan kasih sayang, pengakuan, juga dorongan mencari definisi ketenangan. Apa yang diperlukan, digali, atau dihindari faktanya mengandung bulir ketakutan menghadapi momentum di depan.

Lambatnya alur bukan kerugian yang musti disesalkan. Dengan pembawaan hati-hati, Lonergan mengupayakan penonton mencerna satu per satu detil yang menimpa dimensi Lee. Hancurnya wibawa, pudarnya pesona, sampai babak pamungkas yang mengharukan merepresentasikan dinamika Manchester by the Sea cukup menggores luka penyesalan. Dihantam segala penjuru, dikekang tembok keniscayaan.

Gambaran tentang Lee berhasil diejawantahkan ke delam bentuk yang dilematis. Ia ditinggalkan, diragukan, dikucilkan oleh perspektif kegagalan yang cilakanya mempengaruhi pemantik simpati. Ketika motivasinya bergelimang kemuskilan, ia mendapati sepucuk tanggung jawab untuk merawat kenangan institusinya walaupun mewajibkannya berkorban melenyapkan kepingan tragedi.

Apresiasi seyogyanya ditujukan pada Lonergan dan transkrip penulisan naskah yang sukses menawarkan formula bernas dalam meramu drama agar tak nampak melampaui batas kewajaran. Ia mengangkat persoalan mendasar yang kadang terlewat sekenanya di benak batin. Rumusan yang sering diluapkan amarah membutakan logika serta sendi-sendi emosional dibungkus sentimentil; mengingatkan bagaimana kebangkitan selalu hadir selepas gelapnya akal sehat yang menaungi.

Di lain sisi, kekokohan Manchester by the Sea mustahil tercipta tanpa kontribusi Casey Affleck yang memukau. Kesenyapan adegan yang sering dimunculkannya menegaskan performa brilian semenjak Gone Baby Gone (2007). Sorot matanya yang dingin, kosong, umpatan kejengahannya yang memendam kesengsaraan, sampai gestur kepedihan yang ia tangkis berkali-kali menaikan taraf kehebatan Manchester by the Sea ke tahap khidmat. Lihat tatkala ia beradu argumen dengan keponakannya dalam memutuskan tanda kedewasaan di tengah masa puber yang tak jelas; satir, membingungkan, serta menjiwai gerak-geriknya.

Tanpa Casey Affleck, bisa jadi Manchester by the Sea tak diterima sepenuhnya oleh para pemirsa. Casey memang meneteskan karakter anik sepanjang dua jam film berlangsung. Tak dipungkiri Casey adalah penguat, perekat, serta penahan batu opini penyangkalan yang hendak meluncur dari mulut sekelompok pihak. Kendati demikian, Lonergan tetap mengukuhkan simbol resistensi; melahirkan kompleksitas mikro yang saling menghubungkan, mengaitkan, memisahkan, kemudian menyusunnya sehingga mahkota beridentitas itu tak terhempas ombak keretakan. Pastinya, The More Talented Affleck bukan sebatas mitos belaka. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response