close

[Movie Review] The Neon Demon

neon_demon_ver3
Neon Demon
Neon Demon

 

Director                : Nicolas Winding Refn

Cast                       : Elle Fanning, Jena Malone, Bella Heathcote, Abbey Lee, Keanu Reeves

Running time      : 117 menit

Year                       : 2016

Studio                   : Gaumont Film Company

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Kurang tepat untuk menyempitkan definisi profesi Nicolas Winding Refn sebagai sutradara. Mungkin hal yang sama bisa dikatakan kepada beberapa sineas Denmark lain. Coba lihat karya-karya Lars von Trier atau Thomas Vinterberg. Mereka adalah provokator, gemar menyudutkan penonton kemudian menghujaninya dengan substansi yang berpotensi menggoyahkan iman dan kewarasan.

Lalu ada pula seorang narsis bernama Nicolas Winding Refn, yang melihat dunia dan seisinya sebagai panggung pementasan khusus untuk dirinya. Saat The Neon Demon banyak mendapatkan publikasi buruk dan kurang diapresiasi di Cannes Film Festival, Refn dengan bangga mendeskripsikan dirinya sebagai Sex Pistols dalam dunia perfilman. Ia tidak peduli mau dibicarakan secara baik atau buruk, asalkan namanya menjadi buah bibir khalayak umum.

Jelas, respon negatif yang dituai The Neon Demon di Cannes tidak bisa dijadikan penilaian mutlak. Terutama jika mengingat judul legendaris seperti Taxi Driver, Inglorious Basterds, dan The Tree of Life juga pernah menjadi korban cemoohan masal di salah satu festival film paling bergengsi itu. Di sisi lain, memang mudah untuk menilai rendah film ini. Seperti dunia fashion yang menjadi latarnya, semuanya serba superfisial. The Neon Demon adalah film yang tepat untuk memantik debat kusir antara penganut teori film formalis dan strukturalis.

Tidak banyak yang bisa diilhami dari barisan plot dan dialog film ini. Ada Jesse, gadis lugu berumur 16 tahun, datang dari kota kecil dengan mimpi besar untuk menjadi model sukses di Los Angeles. Kecantikan natural anak kemarin sore ini melampaui segala parameter absurd yang diterapkan dalam dunia fashion.

Saat model lain harus menghinakan diri dan menjalani ratusan operasi plastik hingga menganggapnya seperti kebiasaan menyikat gigi, Jesse dengan mudah mencuri perhatian semua orang. “Layaknya matahari di tengah musim dingin,” kata seorang rekan. Dalam profesi yang terang-terangan menjadikan kecantikan sebagai komoditas, Jesse sadar akan apa yang ia miliki dan perlahan tenggelam dalam pujian dan kekaguman. Seiring dengan karirnya yang kian menanjak, semakin banyak pula orang yang menyimpan rasa dendam bercampur iri terhadap Jesse.

Neon Demon
Neon Demon

 

The Neon Demon bukanlah psychological thriller ala Black Swan yang sekedar dipindahkan ke ranah fashion. Jangan repot-repot mencari benang merah antara Jesse dan Nina Sayers. Veteran teater Mary Laws dan Polly Stenham yang turut memoles naskah The Neon Demon menekankan poin ini dengan narasi yang dijaga ringkas dan sederhana. Kedangkalan Los Angeles dengan segala obsesinya terhadap kecantikan sudah menjadi rahasia umum. Nicolas Winding Refn tahu benar tentang hal ini dan tidak mau menjadi seorang munafik dengan menjadikan filmnya sebagai komentar miring. Justru, The Neon Demon merupakan perayaan vulgar atas banalitas Los Angeles.

Jika ingin terlihat seperti manusia bermoral yang menjunjung tinggi nilai kesetaraan, Anda bisa saja mengutarakan kritik keras mengenai sisi misoginis Nicolas Winding Refn. Dalam film-film lainnya, wanita digambarkan sebagai pelacur, ibu durhaka, atau tukang selingkuh. Sekalinya Refn menempatkan kaum hawa sebagai karakter sentral, mereka dieksploitasi melalui cara yang terlewat bejat, dari implikasi kekerasan seksual di bawah umur hingga nekrofilia sesama jenis.

Kekerasan dan kecantikan selalu ditampilkan berdampingan dalam The Neon Demon. Dalam satu adegan, Jesse dipertemukan dengan Jack, seorang fotografer ternama yang lebih terlihat seperti anggota mafia Eropa Timur. Lantaran terpana saat pertama kali melihat Jesse, tanpa basa-basi ia meminta para kru lain untuk mengosongkan set pemotretan. Dengan pembawaan dingin, Jack memerintahkan Jesse, yang belum sepenuhnya legal, untuk melucuti seluruh busananya. Bagi yang belum sempat menonton, kelanjutan adegan ini akan saya kembalikan kepada imajinasi masing-masing. Tapi yang jelas, alih-alih merasa jijik atau tidak nyaman, salah satu adegan terbaik ini justru meninggalkan kesan memukau yang sulit terlupakan.

Natasha Braier selaku sinematografer perlu mendapatkan pengakuan tersendiri atas kontribusinya dalam The Neon Demon. Kemegahan Technicolor yang pernah ditampilkan Blood and Black Lace dan Suspiria dihidupkan kembali dan dibawa semakin liar dengan modal pekatnya darah dan gemerlap lampu yang berpotensi menyulut epilepsi.

Nama Argento, Kubrick, Zulawski, dan tentunya Jodorowski pasti akan tersebut ketika kita mulai merunut inspirasi Nicolas Winding Refn. Namun sejujurnya, The Neon Demon adalah spesies khusus.  Setiap shot dibingkai sedemikian rupa sehingga terlihat seperti lemabaran majalah Vogue, jika saja majalah Vogue diterbitkan dalam dunia digital TRON. Ketimbang melalui narasi yang kokoh, The Neon Demon lebih mengandalkan tema visual yang mencengangkan untuk lantang berbahasa. Sinematografi cermat Natasha Braier berpadu dengan sensualitas degup dan dengung musik elektronik garapan Cliff Martinez, membawa The Neon Demon semakin jauh dari kenyataan.

Elle Fanning yang berada di tengah pusaran dunia tak berakar ini dengan menghembuskan kehidupan ke dalam canggungnya karakter Jesse. Ingat bagaimana Clarice Starling dengan susah payah menyembunyikan aksen khas yang ia miliki di Silence of the Lambs? Entah sengaja atau tidak, Elle Fanning melakukan hal yang sama untuk memperdalam karakternya. Dalam kompleksnya spektrum emosi manusia, pandangan Elle Fanning menemukan keseimbangan antara lugu dan keji. Alhasil, transformasi karakter Jesse tidak pernah terasa ganjil.

Sebelum bisa mengapresiasi The Neon Demon secara penuh, terima saja fakta bahwa film ini memang tidak membawa agenda moral tertentu. Baru setelahnya Anda bisa terbuai dalam segala bentuk penghinaan dan pelecehan yang ada. Tom Ford boleh saja banting setir menjadi sutradara, tapi gemerlap dan gelapnya hiperealitas Nicolas Winding Refn tetap tidak memiliki perbandingan. The Neon Demon meninggalkan logika dan rasionalitas dalam bernarasi untuk memberikan pengalaman sinematik murni yang dijamin akan menyulut berbagai reaksi. [WARN!NG/Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.