close

[Movie Review] Rams

rams
Rams
Rams

 

Cast: Sigurður Sigurjónsson, Theodór Júlíusson, Charlotte Bøving, Jon Benonysson

Director: Grímur Hákonarson

Production: Aeroplan Films – Film Farms

Running time: 92 minutes

Year: 2015

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Pesona Islandia memang tak henti-hentinya habis untuk dikupas tanpa sisa. Dataran luas dengan permadani hijau di pelupuk mata, sungai yang mengalir deras di atas permukaan jernih, bebunyian alam yang memercikan suara kalbu atau desiran udara segar yang senantiasa menghidupi kontemplasi ekosistem alam di dalamnya. Sebagai Negara yang terletak di ujung utara belahan bumi, Islandia seketika menjadi wilayah hipster masa kini. Ditambah pula kehadiran alunan post milik Sigur Ros yang melegenda maupun untaian fiksi dari Bjork, maka lengkap sudah alasan mengapa kita musti menyanyangi Islandia lebih dari yang semestinya. Singkat kata, Islandia selalu menawarkan cerita, kharisma dan juga mimpi untuk mereka yang masih teguh memegang janji; menghidupi fantasi, mengaburkan ironi.

Jika boleh jujur, pengalaman saya dalam menyaksikan film Islandia tak sebanyak intensitas mendengar Kveikur serta “Hyper-Ballad” yang kadang menempati urutan pertama ketika hujan turun begitu derasnya. Faktor kurangnya eksplorasi dan minimnya akses publikasi dirasa jadi pengganjal utama untuk menikmati sajian sinema dari Islandia. Saya berkeyakinan, film-film yang dibuat langsung oleh sineas lokal sana barang tentu memiliki kualitas bermutu. Tak hanya mengandalkan kanvas natural sebagai background pengindahan seperti halnya film Hollywood yang kian gemar menjajaki negeri asal Sigurdssson ini, akan tetapi juga menyiratkan pendalaman materi tentang makna filosofi. Dan ucapan itu terbukti benar adanya tatkala Rams muncul di depan diri seraya memecah keheranan; dibuai oleh alurnya yang memendam melankoli.

Rams merupakan film yang berkisah mengenai hubungan personal dua saudara, Gummi (Sigurður Sigurjónsson) dan Kiddi (Theodór Júlíusson). Keduanya sama-sama berprofesi sebagai peternak domba yang mengadu impresi dibalik hawa dinginnya Islandia. Rutinitas mereka dipastikan tak jauh-jauh dari kandang yang bersekat dengan semak kering untuk penghangat, sejak matahari terbit hingga berpendar tenggelam. Seiring berjalannya waktu kebiasaan mereka berubah menjadi ajang mengunggulkan potensi. Aroma kecemburuan memicu panasnya rivalitas yang cukup kentara apabila salah satu di antara mereka mengalami keberhasilan membuahi bibit unggul berupa domba berkekuatan besar. Hidup mereka tak ubahnya upaya pelarian dari masa lajang yang bertahan hingga usia kepala lima atau bahkan kesakitan panjang atas masa silam. Jangan lupakan fakta bahwa hampir 40 tahun lamanya mereka memutus tali komunikasi; menutup rapat mulut perbincangan tanpa sebab yang jelas. Silahkan Anda menerka-nerka sendiri apa pemantik keretakan keduanya yang dapat diterima pikir secara logis. Lalu pada suatu masa, musibah datang melanda kawasan peternakan. Sebut saja virus mematikan yang sulit diidentifikasi berkeliaran bebas sehingga menyebabkan raibnya satu per satu domba peliharaan. Tak ayal ancaman tersebut membuat mereka cemas bukan kepalang. Namun semua polemik itu bukan akhir segalanya sampai pada titik temu dimana keduanya sadar akan persepsi yang lebih esensial dibanding jaring permusuhan.

Gummi & Kiddi
Gummi & Kiddi

 

Baik Gummi ataupun Kiddi adalah jarak fatamorgana yang berkebalikan. Depresi mereka menjadi hal umum yang senantiasa melarung asa tertinggal. Bedanya, Gummi melampiaskan hasrat itu lewat ketergantungannya pada botol alkohol. Sedangkan Kiddi lebih sendu; tipikal yang senang menyendiri dengan segala wujud keterasingan seraya mencari kaidah perenungan. Grímur Hákonarson selaku sutradara memaparkan konflik yang terasa kuat unsur personalnya. Anda akan melihat tatapan Gummi yang seakan ingin meletupkan amarah namun tertahan di rongga tenggorokan, atau pandangan Kiddi yang menerawang jauh entah kemana menerobos bilik penyesuaian. Itulah yang ingin Grimur sampaikan: keterlibatan emosi di antara keduanya jatuh ke bawah endapan paling dalam tanpa harus menguras tenaga layaknya pertarungan nyata seonggok purwarupa. Semacam manifestasi kegetiran yang tergambar jelas dari berserakannya ruang konsolidasi hubungan dua garis darah.

Gestur tubuh lunglai, mimik wajah yang sulit ditebak dan intonasi ganjil keduanya membawa kita menyelami lautan kebingungan sembari bertanya keras apa yang sebenarnya sedang terjadi. Pergeseran konflik bukan lagi sekedar mencari celah untuk mengakali pajak atau menimbun sebanyak-banyaknya tumpukan finansial di hari tua. Akan tetapi lebih jauh dari itu: menggugurkan antusiasme tali persaudaraan yang direkat sedari rahim. Tak melulu menampilkan atmosfer suram, Rams juga meletakkan obrolan sarkas yang dibalut dalam lelucon Nordik; cenderung abstrak dan kasar namun layak untuk dilontarkan. Gummi dan Kiddi saling menertawakan semesta dengan dalilnya masing-masing. Menyebut anomali yang terbiaskan kebiasaan semu dari gejala dan fenomena sekitar.

Satu hal yang tak bisa dilupakan begitu saja yakni bagaimana Sturla Brandth Grøvlen membuat pengambilan adegan demi adegan nampak memukau. Absurditas film serta goresan panorama Islandia menjadi kombinasi sempurna. Kesan kesepian, lara yang membuncah sampai ketakutan pada nasib dapat diuraikan dengan eloknya. Terlebih saat Kiddi melamun di tengah hamparan ternaknya, dengan gemuruh awan muram yang menandakan hujan segera turun. Seketika itu, saya berpikir Kiddi sedang mengutuk kuasa.

Rams merupakan salinan naskah yang disusun sejak era lama. Pertentangan batin, upaya memaafkan dan wacana rekonsiliasi keduanya menjadi hal mendasar yang sesegera mungkin musti diapungkan. Tak perlu banyak kaitan silogisme yang menghalangi keinginan untuk meluangkan kompromi. Sudah hampir setengah abad mereka dikaburkan gengsi ataupun praduga kabur tentang arti dari ketulusan. Saatnya membuka kunci yang terkungkung rapat. Apabila anda terjebak dalam kerumitan seperti yang dialami Gummi dan Kiddi, maka film ini layak putar sebagai media perujukan diri. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.