close

[Movie Review] Rememory

Rememory (2017)

Review overview

WARN!NG Level 7.5

Summary

7.5 Score

 

Seperti yang ditulis oleh J.D. Salinger di akhir buku fenomenalnya; The Catcher in the Rye, “Jangan pernah bercerita apa-apa pada orang lain. Begitu kalian bercerita, kalian akan mulai merindukan orang lain”. Apa yang ditulis oleh Salinger itu bisa kita jadikan sebagai pisau bedah pada film arahan Mark Palansky ini. Ingatan, kenangan, serta peristiwa baik-buruk pada masa lampau dapat membuat manusia tenggelam di dalamnya. Kita cenderung memikirkan kenangan sebagai fakta tersimpan dengan aman di otak. Padahal sebenarnya, semua yang terjadi pada diri kita sejak kejadian yang terekam oleh mata telah mengalami sedikit demi sedikit perubahan karena terdistorsi dengan ingatan lainya.

Masalahnya, kita tidak tidak punya cara atau medium untuk mengingatnya kembali selain bergantung pada otak sendiri. Sebab itu, mesin Rememory diciptakan. Sebuah mesin yang bisa menggali segala peristiwa yang kita alami, merekam ulang pada sebuah disket, dan kita bisa menyaksikan tiap peristiwa dan kenangan yang telah kita rekam ulang seperti menonton potongan-potongan video dokumenter.

Kemampuan untuk menghapus kenangan sekaligus mengunjunginya kembali merupakan benang merah film ini sekaligus fitur utama dari mesin bernama Rememory yang diciptakan oleh seorang ilmuwan bernama Gordon Dunn. Selain itu mesin Rememory juga menyediakan suatu proses penyaring (filter) yang dapat menjernihkan kenangan tersebut dari distorsi yang terjadi karena bertumpuknya kenangan yang terekam dalam otak. Filter yang disediakan oleh mesin ini bisa merubah dan melupakan, melebih-lebihkan, menggabungkan, serta membentuk kenangan yang jernih sampai ke hal-hal yang sangat detail.

Beberapa situs pengulas film berkaliber internasional menyebut film ini hanya akan “menyia-nyiakan dua jam waktu senggangmu”. Pelbagai situs tersebut bahkan sepakat para aktor yang terlibat dalam film ini sungguh disayangkan mengingat nama besar dan reputasi para aktor tersebut harus dipertaruhkan dalam garapan “naskah dangkal” seperti Rememory.

Untuk hal ini saya punya penilaian lain. Toh nama besar dan reputasi seorang aktor justru dipertaruhkan tatkala terlalu memilih-milih film yang akan diperankannya. Semisal Peter Dinklage yang selalu rendah hati untuk menerima tantangan berbagai sutsadara, termasuk Mark Palansky pada film ini. Dinklage sendiri saya nilai sebaga aktor yang komplit. Perannya sebagai protagonis maupun antagonis selalu dia jalani dengan baik sekaligus memukau. Lihat saja aksinya saat menjadi pemeran dalam X-Men maupun Game of Thrones. Dinklage mampu membuat saya berdecak kagum lewat totalitas perannya. Pun sama halnya yang dia lakukan dalam Rememory.

Dinklage dalam film produksi Kanada ini memerankan sosok Sam Bloom; pria yang dihantui kematian kakaknya dan ketidakmampuan Sam untuk mengingat atau memahami kata-kata terakhir sang kakak disaat akhir hidupnya. Mesin perekam kenangan yang diciptakan dan dikembangkan oleh Gordon Dunn (Martin Donovan) bisa membantu Sam untuk mengingat peristiwa tragis tersebut. Dinklage pada film kali ini disokong oleh pemeran bertalenta seperti Julia Ormond, Henry Ian Cusick, Evelyne Brochu, dan Anton Yelchin.

Kembali pada anggapan “naskah dangkal” yang disematkan oleh beberapa situs pengulas film. Di mana menurut mereka, pendekatan yang digunakan oleh sang sutradara dalam merangkai benang merah film ini tidak berkesan. Anggapan seperti ini bisa terbantahkan saat kita mulai mengikuti alur yang disajikan Rememory.

Ada sebuah kejutan yang bagi saya sendiri tidak mudah berasumsi untuk menebak hingga penghujung film. Kecakapan artistik untuk menampilkan potongan-potongan adegan selayaknya sebuah puzzle adalah kehebatan seni sinematografi. Semisal kenyataan bahwa Sam Bloom merupakan tokoh penyebab kematian putri dari Gordon Dunn. Kematian sang putrinya lah menjadi pemicu Gordon untuk menciptakan mesin perekam kenangan agar bisa kembali merasakan kehangatan kasih sayang dan keindahan dunia saat putrinya masih berada dalam kehidupannya.

Dingklage sendiri lewat perannya sebagai Sam Bloom patut mendapat pujian. Pada satu sisi, Sam yang ditinggal sang kakak secara mendadak karena kecelakaan mobil juga harus memikul dosanya menjadi penyebab kematian putri semata wayang Gordon. Menjadi protagonis merangkap antagonis dalam sebuah film? Dingklage punya kapasitas untuk memerankan tokoh demikian. Ibarat sebuah perjudian, sang sutradara sudah memenangkan pertaruhan sejak awal memilih Dingklage untuk memerankan tokoh utamanya.

Rememory menyuguhkan bermacam konflik. Ragam konflik itu di antaranya seperti upaya Sam untuk mengingat kata-kata terkahir sang kakak yang tewas dihadapannya, lahirnya sebuah teknologi revolusioner dengan kutub postif-negatifnya, serta pengungkapan kasus kematian sang pencipta mesin Rememory di tengah upayanya untuk terus mengembangkan teknologi perekam ingatan serta meminimalisasi gangguan yang bisa menyerang psikis pasien setelah menggunakan mesin tersebut.

Pada era teknologi super canggih kini memacu para ilmuwan untuk terus menciptakan dan mengembangkan sebuah alat yang hampir tidak bisa diterima oleh akal sehat. Bagaimana jadinya, apa pun peristiwa yang kita lihat — menggunakan mata dan terekam oleh otak– dari waktu ke waktu; kenangan buruk maupun bahagia bisa dikonversikan menjadi suatu tayangan visual yang bisa direkam dan disaksikan berulang-ulang semau kita. Ini bisa dilakukan menggunakan sebuah alat. Cara kerjanya? cukup dengan menggunakan perangkat serupa headphones yang tersambung dengan sebuah medium yang berbentuk seperti alat pemutar CD. Semua memori yang ingin kita lihat kembali dapat direkam dan simpan dalam unit-unit disket.

Semoga alat seperti dapat tereliasasi pada kehidupan nyata, mengingat sudah banyak judul film fantasi yang menjadi pemicu beberapa ilmuwan untuk mengkaryakan beberapa benda fiksi yang kerap muncul pada adegan-adegan film. [Kontributor/Indra Kurniawan]

Director: Mark Palansky

Cast: Peter Dinklage, Martin Donovan, Julia Ormond, Henry Ian Cusick, Evelyn Brochu, Anton Yelchin

Production: Great Point Media, First Point Entertainment, Scythia Films

Year: 2017

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response