close

[Movie Review] Room

Room

Director                : Lenny Abrahamson

Cast                       : Brie Larson, Jacob Tremblay, Sean Bridges, Joan Allen

Durasi                   : 118 menit

Studio                   : TG4 Films (2015)

[yasr_overall_rating size=”small”]

room
room

Room berawal di sepetak ruangan yang tidak begitu luas, terlebih lagi layak untuk ditinggali seorang ibu muda dan anaknya. Jack seumur hidup tinggal di ruangan itu dan tidak tahu banyak tentang dunia luar. Setiap pagi ia menyapa perabotan yang ada di sekitar ruangan itu layaknya seorang teman dekat. Ada yang janggal pada dirinya. Tapi wajar jika mengingat kondisinya tumbuh.

Masih untung Jack hidup relatif sehat dan waras berkat Ma, ibunya. Sumber daya alakadarnya ia gunakan demi Jack seorang. Terkadang sampai dia lupa pada dirinya sendiri. Hubungan antara Jack dan Ma terus menghabisi perasaan kita sepanjang durasi Room, yang bermula sebagai film sederhana, namun perlahan menjadi pengalaman sinematik yang sulit dibandingkan.

Perlahan batas ruangan yang mereka tinggali runtuh. Sesekali tiap malam seorang figur bernama Old Nick datang menghampiri ruangan mereka membawa kebutuhan sehari-hari. Ma tak lain adalah korban penculikan Old Nick tujuh tahun sebelum premis Room. Selama disekap dalam ruangan itu, Old Nick senantiasa menyiksa dan memperkosa Ma. Jack adalah buah nafsu Old Nick. Pengalaman Jack dari dalam lemari dengan kuat menggambarkan kejinya Old Nick. Meski remeh, deritan kasur yang ia dengar meninggalkan perasaan pahit lekat.

Jack kini berusia lima tahun dan Ma tidak bisa terus menjauhkan anaknya dari fakta. Di sisi lain, Old Nick semakin mengabaikan nasib mereka berdua. Hal ini memaksa Ma meretas rencana untuk kabur dari sana. Dari rencana ini pula muncul pertanyaan atas seberapa besar kasih sayang Ma terhadap Jack. Seberapa besar seorang ibu rela berkorban demi anaknya? Atau, sesuai konteks Room, seberapa besar seorang ibu rela mengorbankan anaknya? Pendek cerita, Jack dan Ma berhasil lepas dari kurungan Old Nick. Meski begitu, Room tidak selesai dengan perjuangan mereka berdua untuk terus hidup hingga akhirnya bebas.

Justru, mulai dari sini Ma menghadapi cobaan terbesarnya untuk kembali hidup normal. Ma yang dalam kurungan Nick begitu tabah kini terlihat rapuh. Seakan teror yang ia alami selama tujuh tahun belakangan sudah menjadi satu-satunya kenyataan yang ia terima. Ma bernama asli Joy Newsome. Namun, gadis manis yang dikenal dengan nama itu kini dilumpuhkan ilusinya sendiri. Lima tahun terakhir, Jack menjadi alasan tunggal baginya untuk terus bertahan hidup. Justru sekarang Jack tanpa takut menghadapi dunianya yang tak lagi terbatasi tembok-tembok dingin.

Room hampir berakhir miris kalau bukan karena eratnya hubungan Ma dan Jack. Brie Larson dengan penuh dedikasi menghidupkan karakternya, baik sebagai Ma yang tahan banting atau Joy Newsome yang traumatis. Lugunya Jacob Tremblay juga senantiasa mempermulus perjalanan penonton melewati kejamnya plot garapan Emma Donoghue.

Emma Donoghue tak lain merupakan penulis novel yang menjadi basis film ini. Tak heran kalau begitu mudah baginya untuk menegaskan idenya dalam adaptasi layar lebar. Inspirasinya sendiri datang dari kelamnya kasus Fritzl di Austria.

Pada akhirnya, Room mengemban pesan yang lebih dari sekedar kisah pengasingan atau tekad yang kuat untuk terbebas darinya. Mungkin lebih menekankan romantisme kasih sayang seorang ibu yang tak terkira sepanjang masa. Mungkin. Namun, Room membuka lapisan baru yang lebih dalam tentang keinginan paling primitif seorang manusia.

Memang, jika muncul pertanyaan seperti itu, Room tidak memberi jawaban yang memuaskan. Tapi caranya mendedah permasalahan tersebut menjadi pengalaman tersendiri yang sulit untuk ditakar. Mengedepankan kejujuran dan perasaan. Tanpa melupakan kompleksitas ego manusia yang membuat mereka menjadi, ya, manusia.[WARN!NG/Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response