close

[Movie Review] Sausage Party

Sausage_Party

Sutradara: Conrad Vernon, Greg Tiernan

Pemain: Seth Rogen, Evan Goldberg, Ariel Shaffir, Kyle Hunter

Durasi: 89 Menit

Studio: Sony Pictures Entertainment, Annapurna Pictures, Point Grey Pictures (2016)

 

2016 menjadi tahunnya film-film animasi bagus bermunculan. Sebut saja: Zootopia, The Secret Life of Pets, Finding Dory, Moana, Sing, dsb. Dari kehadiran beberapa film animasi ini, Sausage Party muncul di sela-selanya. Film garapan Conrad Vernon dan Greg Tiernan dengan aktor Seth Rogen – yang terkenal dengan roleplay dark humour – sebagai pengisi suara aktor utama, Frank, juga sebagai produser, merupakan pengecualian sendiri. Dalam artian bahwa film berdurasi 89 menit ini lebih dari bagaimana kawan-kawan film se-genre-nya secara konvensial menampilkan moral value di dalamnya. Ia adalah antitesis dari film animasi yang memberi hikmah dari tiap aral perjalanan hidup atau yang biasa mengatakan bahwa di akhir cerita, hidup akan selalu lebih baik. Sausage Party menampilkan apa yang tidak ada di pikiran khalayak luas, gabungan dari pemikiran: eksistensialis, nihilis, hingga absurdis ada di dalamnya.

Singkat cerita, dalam sebuah supermarket yang menjual berbagai macam kebutuhan pangan di mana semua komoditas di dalamnya mampu berbicara antar satu sama lain. Frank, sang aktor utama dalam rupa sosis (iya, sosis), mengalami proses pencarian jati dirinya dari berbagai macam hal-hal absurd yang dilakoninya, pengalaman yang juga terlalu absurd untuk dialami oleh sebagian penonton dari film ini. Di dunia nyatanya, film ini menjelma sebagai clickbait, menipu orang ketika mereka membawa anak mereka ke bioskop dengan perkiraan awal bahwa film ini memang ditujukan untuk semua kalangan, hingga akhirnya banyak dari mereka yang memutuskan untuk keluar dari bioskop.

A hero will rise’, ucap poster dengan ilustrasi dari Frank si sosis yang kepalanya sedikit mendongak ke atas dari arah kiri penglihatan kita. Bagi orang yang besar dengan video porno seperti penulis, hal ini bukan lagi menjadi tanya tanpa jawab. Bahwa film ini, memang, kental akan bumbu seksualitas di dalamnya. Metafora dari alat vital pria oleh Frank, dan jika Anda telah menonton di 10 menit pertama jalannya film, Anda akan menemukan sosok Brenda (Kristen Wiig) dalam rupa roti lapis tanpa isi sebagai lawan seks heteroseksual Frank – dengan metafora sama sebagai alat vital namun hanya berbeda kelamin saja.

Film ini dibuka oleh nyanyian-nyanyian pujian berupa choir dari tiap lini bagian semua pangan yang ada dalam Shopwell’s – nama dari supermarket dalam film. Kepercayaan yang terus diajarkan secara turun menurun bak ajaran-ajaran agama manusia lalu dilantunkan secara merdu. Kredo akan adanya the great beyond berupa surga – sebagai kehidupan setelah mati – di balik pintu besar Shopwell’s menghantarkan para pangan ini untuk berlomba-lomba terlebih dahulu ‘jihad’ dalam rupa cara dibeli oleh manusia, segera keluar dari supermarket, dan sebisa mungkin tidak menjadi basi sebelum akhirnya dilemparkan ke tumpukan besar sampah oleh pekerja Shopwell’s. Konflik pun terjadi, kesadaran atas sesuatu yang ‘salah’ atas kepercayaan ini perlahan menyebar. Pihak yang pertama menyiarkan pun dianggap mayoritas sebagai orang gila, amoral, dsb. Menjadi pertanyaan besar di kepala Frank hingga rasa penasarannya mengantarkannya menuju konklusi bahwa: manusia bukanlah Tuhan yang selama ini mereka puja begitu baik, tidak ada kata surga dalam kosa kata realitas yang terjadi, dan tujuan dari makhluk-makhluk pangan ini sebenarnya tidak memiliki tujuan dan alasan di baliknya. Penemuan atas hal tadi dalam plot film juga dihiasi oleh konflik isu dan kepentingan real-time yang terjadi pada dinamika kehidupan manusia dewasa ini.

Isu pertentangan muslim dan yahudi lewat Kareem Abdul Lavash (David Krumholtz) – sebuah roti pipih khas timur tengah – sebagai representasi muslim dan Sammy Bagel Jr. (Edward Norton) – sebuah roti padat berbentuk lingkaran – sebagai representasi yahudi. Termarginalnya pihak yang dilihat memiliki disabilitas lewat Barry (Michael Cera) – sebuah sosis dengan sindrom dwarfism. Hingga batasan-batasan teritori kekuasaan lewat pembedaan kawasan dari kategorisasi jenis pangan yang hidup dalam rak-rak di supermarket.   

Supermarket menjadi institusi di mana penghuninya dengan wujud komoditas pangan ada, disimpan, dan hidup dalam sebuah tatanan sistem kepercayaan tertentu. Secara sadar maupun tidak terpatri untuk melakoni hidup sesuai dengan apa yang diajarkan dan diperintahkan, tanpa boleh bertanya lebih lanjut tentang argumentasi di balik alasan adanya mereka di supemarket tersebut.

Sausage Party merupakan komedi satir, dark, dan insightful tercerdas yang pernah ada sebagai film animasi. Akan menyenangkan membaca film ini ketika paling tidak, ketika kita, sebagai penonton, sebelumnya telah mengalami sosok-sosok seperti Sartre, Camus, Nietzcehe, dan sosok pemikir eksistensialis/nihilis/asburdis lain. Bahwa intisari pemikiran sebab dan tujuan dari hidup, yang begitu pointless mampu dirangkum dan dianimasikan dengan lugas dan genius lewat analogi dari tiap potongan sequence dan sisipan majas dari beberapa di tiap dialognya. [WARN!NG/Dwiki Aprinaldi]   

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response