close

[Movie Review] Sing Street

Sing Street

Review overview

WARN!NG Level 9

Summary

9 Score

 

Director: John Carney

Cast: Ferdia Walsh-Peelo, Lucy Boynton, Maria Doyle Kennedy, Aidan Gillen, Jack Reynor, Kelly Thornton

Year: 2016

Production: Likely Story, Merced Media, PalmStar Entertainment

Saya berani bertaruh delapan dari sepuluh orang yang membaca tulisan ini pasti pernah mencoba membuat band di masa remajanya. Berbagai dorongan timbul sejalan dengan ribuan ide yang tertanam di kepala. Ada yang sekedar berbagi kesenangan, mengikuti gelombang fenomena atau mungkin justru mengambil sikap serius untuk keberlanjutan karir di masa mendatang. Sudah, tak perlu malu mengakui. Soal hasilnya seperti apa, biarkan menjadi misteri yang tak terpecahkan. Toh, bukan sesuatu yang haram tatkala momentum puber diisi dengan kegiatan bermain musik, mencari nama panggung, sampai tampil di pensi lokal demi menancapkan taji walaupun berbayar nasi kotak seadanya.

Tak dapat dipungkiri membentuk band merupakan wujud ekspresi yang mengesankan di eranya. Selain bergabung bersama klub pemandu sorak dan atlit bola basket tingkat kedua, dikenal sebagai pemain band memberikan kemewahan tersendiri. Ibarat rock star, semua mata tertuju pada setiap tingkah laku diri di samping memudahkan akses menggaet teman perempuan maupun dielu-elukan setengah mati saat menyalakan solo “Sweet Child O’ Mine”. Percayalah, tak peduli seberapa bagus band yang sudah dibentuk terpenting adalah soal memanfaatkan kesempatan dengan kegembiraan musikal. Kecuali jika kalian termasuk golongan rohis garis keras yang menganggap musik sama dengan persembahan bagi setan, saya tak dapat berkata apa-apa.

Sama halnya dengan apa yang dialami Conor (Ferdia Walsh-Peelo) dalam film bertajuk Sing Street. Sebelum La La Land membanjiri daratan popularitas, Sing Street muncul terlebih dahulu membawa tema yang identik. Bedanya, Conor bukan Sebastian dan tak ada akhir perjumpaan tragis yang menarik banyak simpati orang-orang. Dipandu John Carney di belakang layar yang pernah membesut Once (2006) serta Begin Again (2013), Sing Street mencoba mengulik lebih dalam tentang jati diri remaja tanggung dibalik turbulensi kancah musik Dublin medio 1980. Dengan Conor berdiri di titik episentrumnya, Carney seolah ingin memperlihatkan masa muda kita dengan sudut pandang yang jauh dari kata membosankan.

Conor merupakan putra nomor dua dari pasangan kelas menengah, Robert (Aidan Gillen) dan Penny (Maria Doyle Kennedy). Di suatu pagi yang cukup cerah, ia mendapati kabar orang tuanya memutuskan berpisah. Tak berhenti sampai di situ, impian akademiknya untuk menempuh sekolah bergengsi turut berpindah haluan ke institusi agama yang menurut Conor derajatnya lebih rendah satu baris. Dirinya tak mampu bertindak apa-apa selain ungkapan penolakan yang bakal terbantahkan. Dengan berat hati, Conor mulai menjalani dunianya yang baru di mana lingkungan hangat dalam tanda kutip menjadi kawan sejatinya selama beberapa tahun mendatang.

Namanya murid baru, masuk pertama kali pasti mudah dikenali oleh yang lain. Menjadi target cemoohan barang kali tak bisa dihindari keberadaannya. Memakai atribut yang terlampau formal, memasang muka polos, sampai setelan sepatu yang mencolok merupakan daftar kesalahan Conor kala mendatangi gerbang Synge Street CBS. Ketika semuanya berjalan tidak terkendali termasuk insiden dengan begundal CBS, Barry (Ian Kelly) maupun konfrontasinya bersama kepala sekolah Brother Bexter (Don Wycherley), Conor masih menjumpai berkah; berkenalan dengan Darren (Ben Carolan) serta menemui Raphina (Lucy Boynton).

Perjumpaan Conor dengan Darren maupun Raphina menyeret arus bersambungan; Conor jatuh hati pada Raphina, mengajaknya menjadi bintang video klip dadakan, dan Darren berupaya mengakomodasi kegilaan hati Conor lewat kepintaran intuisinya. Solusi satu-satunya ialah membentuk band. Tak ada band, tak ada video klip; tak ada pula kelanjutan asa cinta Conor kepada Raphina. Keduanya langsung bergerak. Alhasil terkumpulah mereka yang terdiri dari Eamon (Mark McKenna) si multi-talenta, Ngig (Percy Chamburuka), Larry (Conor Hamilton), serta Garry (Karl Rice). Sekelompok amatiran yang menuangkan kesenangan melalui ekspedisi nada dan irama.

Selaku sutradara, John Carney menyoroti posisi Conor untuk merefleksikan apa yang sedang bergulat di benaknya. Membentuk band selain ditujukan meraih perhatian seorang perempuan, juga digunakan menjadi senjata pelarian atas kondisi keluarga yang tak pernah baik-baik saja. Hasilnya bisa dikata bermanfaat dibanding bercumbu dengan obat-obatan laiknya Ridho Rhoma. Toh, apabila memang bermusik merupakan kesempatan emas untuk bersinar, tak ada salahnya bukan? Ditambah, Carney menggambarkan bagaimana menciptakan musik yang bagus, menajamkan selera yang baik, ataupun mengurutkan prioritas agar kelanjutan band bertahan lama lewat sosok saudara tertuanya, Brendan (Jack Reynor) yang fanatik akan piringan hitam dan gebrakan rock and roll.

Di lain sisi, pengambilan latar cerita dengan kancah musik era 1980an memberi nilai plus tersendiri pada Sing Street. Dengan perhitungan tepat, Carney meneteskan senyawa gelombang new-wave, dance-rock, hingga synth-pop tanpa terasa berlebihan. Di kala demam Duran-Duran sedang mewabah ke penjuru negeri, Carney menangkapnya untuk inspirasi kolektif Conor. Tak ada rock and roll. Tapi bukankah hal tersebut justru menggiurkan ketika suatu film merepresentasikan genre musik yang tak melulu itu-itu saja? Ada penawaran menarik dari Sing Street yang dapat dilihat dari transformasi band Conor. Berdandan dengan corak glamor dan busana sophisticated, menari bak Spandau Ballet, lantas beralih haluan membawa orisinalitas karya ibarat revolusi Simon Le Bon akibat kesadaran mereka bahwa panduan menjadi rock star tak pernah berarti tanpa kemampuan menulis komposisi yang mumpuni.

Sekedar bercerita, Sing Street sempat memicu sedikit riak perdebatan ketika diskusi penentuan daftar film terbaik 2016 versi WARN!NG diadakan. Adya Nisita, editor film dari WARN!NG kala itu mempertanyakan alasan mengapa memasukan Sing Street di jajaran sepuluh besar. Sebagai pihak yang merasa bertanggung jawab, dibantu Soni Triantoro di barisan pendukung belakang, saya jawab seadanya. Mungkin secara kualitas, Sing Street tak ubahnya film musikal remaja lain yang sudah diproduksi di waktu lampau. Tetapi ada satu faktor di mana Sing Street berbeda dengan yang lainnya; emosional. Menyaksikan Sing Street merupakan petualangan mendedah nostalgia masa remaja; pelarian dari masalah keluarga, mencari jati diri, ataupun prosesi jatuh cinta kepada gadis idaman. Hal-hal sederhana yang terjadi secara umum di masa remaja namun meninggalkan bekas tak terhapuskan dari lapisan memori. Entah memang sengaja dibuat untuk menebalkan sisi sentimentil atau tidak, Sing Street faktanya merekatkan lapisan tersebut dengan dekat.

Itu pula yang mendasari mengapa sepanjang film berlangsung adegan demi adengan terasa tak membosankan. Terdapat permadani realita yang terdengar ironis, penuh bualan, di samping juga meraba perasaan. Carney sekali lagi berhasil menjahit kepingan yang nampak sensitif dengan bumbu roman tak kelewat banyak. Satu demi satu pecahan tersusun secara runtut bersama pengkondisian yang tak naif. Dengan pemilihan soundtrack yang menyenangkan, keutuhan cerita dipastikan tak terpecah. Mengawal intensitas dengan “Rio” milik Duran-Duran atau “I Fought the Law” dari The Clash, dirajam melankolia lewat “A Beautiful Sea” ciptaan Conor maupun “Paperlate” Genesis, sampai menemukan titik balik bersama “Inbetween Days” dari The Cure serta “Gold” kepunyaan Spandau Ballet.

Rasanya tak berlebihan apabila menyebut Sing Street menyediakan area, wahana, dan taman bermain di mana kita dapat menjelajah relung masa remaja yang labil sekaligus menggembirakan. Mengidolai sosok perempuan, mengejarnya mati-matian, meyakini bahwa kita bukan musisi handal dan menyelami lautan piringan hitam maupun mixtape hasil imajinasi pribadi. Setiap lagu mencerminkan karakteristiknya masing-masing lalu memberi inspirasi besar sebelum menuangkannya ke dalam bentuk lagu. Bernyanyi di kereta, mencoba nada-nada minor dengan terpaan lembutnya angin pantai, atau memacu pedal sampai batas kecepatan tak terkira. Tak ada yang lebih indah melihat hari-hari dipenuhi gejolak rutinitas sedemikian rupa. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response