close

[Movie Review] Spectre

Dia-de-los-Muertos

Director                : Sam Mendes

Cast                       : Daniel Craig, Christoph Waltz, Lea Seydoux, Ben Wishaw, Ralph Fiennes

Studio                   : Eon Productions

Durasi                   : 148 menit.

spectre
spectre

Mungkin, memang benar kalau sinema pada dasarnya adalah sebuah bentuk eskapisme. Ada 24 alasan untuk membenarkan pernyataan tersebut, dan semuanya berfokus pada satu figur. Bond, James Bond. Selama 53 tahun, agen MI6 satu itu telah mengajari kita untuk berkehendak lewat layar perak. Membawa kita ke sebuah kehidupan dimana bekerja berarti minum Martini, mengendarai mobil eksotis, dan bergaul (dan menggauli) wanita-wanita cantik. Semua itu bisa Anda lakukan ketika menyandang status 007, sebelum membunuh seseorang atas nama raja atau ratu Anda. Entah lewat Sean Connery, Pierce Brosnan, atau George Lazenby, petualangan glamor James Bond akan selalu menjadi salah satu alasan untuk menonton film. Karena gairah manusia yang tidak terbatas tidak bisa dipuaskan lewat hidup yang membosankan.

Lalu sembilan tahun silam kita diperkenalkan dengan Daniel Craig. Reinkarnasi terbaru James Bond kini memiliki sisi kelam dan rapuh yang belum pernah kita lihat di 20 film yang mendahuluinya (On Her Majesty’s Secret Service bisa menjadi pengecualian). Dalam Casino Royale, Daniel Craig menjauhkan citra flamboyan yang melekat pada 007. Kini kita melihat seorang agen rahasia yang tidak berpikir dua kali untuk memanfaatkan “License to Kill” yang ia punya.

Secara keseluruhan, Daniel Craig membawa enigma James Bond ke dalam ranah manusiawi. Quantum of Solace memang kurang memuaskan. Dalam petualangannya yang kedua sebagai James Bond, muncul pertanyaan dan keraguan besar dalam benak penonton. Pertanyaan yang dijawab dengan memuaskan lewat Skyfall. Ya, kita masih membutuhkan James Bond.

Sampailah kita pada Spectre. Film Bond ke-24 ini mengikuti kisah James Bond melacak keberadaan organisasi teroris, SPECTRE. Dalam perjalanannya mengelilingi Meksiko, Itali, Austria, hingga Maroko, Bond berhadapan dengan kenangan masa lalunya yang buram dalam sosok Franz Oberhauser (Christoph Waltz). Di samping alur utamanya, Spectre juga menyajikan subplot yang berfokus di London. Dimana M (Ralph Fiennes) mengahadapi pergulatan politik untuk mempertahankan eksistensi MI6 dan program khusus 00. Tujuannya dihalangi oleh Max Denbigh (Andrew Scott). Kelakuannya yang menyebalkan memberikan singkatan tersendiri dari nama sandinya, C.

Sebelum lebih dalam membedah Spectre, ada beberapa poin yang seharusnya ditetapkan dari awal. Spectre, secara retrospektif, bukanlah film yang buruk. Tapi setelah sukses besar yang direngkuh Skyfall, Spectre mengemban ekspektasi yang luar biasa besar. Mudah untuk mengatakan kalau ekspektasi itu tidak terpenuhi. Tetapi, jujur, tidak adil rasanya jika Anda kecewa terhadap Spectre karena terus membandingkannya dengan Skyfall. Bukan karena Skyfall secara mutlak lebih baik, hanya saja kedua film ini memiliki posisi berbeda dalam kelanjutan legenda James Bond. Utamanya di era Daniel Craig.

Mulai dari ­pre-title scene di Meksiko, Anda disajikan pemandangan eksotis di perayaan Dia de los Muertos lewat long shot garapan sinematografer Hoyte von Hoytema. Ditambah teks yang mendahuluinya, tensi dan penantian akan sesuatu yang menegangkan telah dibangun dari awal. Ada pula pertunjukan aksi helikopter yang mencengangkan dalam scene tersebut.

Semua itu sudah cukup untuk menunjukkan kualitas film yang kembali digarap oleh Sam Mendes ini, bahkan sebelum masuk ke title sequence nyentrik ala James Bond. Inilah yang menarik ketika membicarakan film James Bond. Semua aspek dalam filmnya, baik itu title sequence, Bond girl, hingga lokasi syuting, merupakan fragmen yang krusial dan mempengaruhi kesan terhadap film keseluruhan.

Sepanjang durasi 148 menit, perlahan tensi yang telah apik dibangun di awal perlahan menghilang. Memang, masih ada beberapa adegan menarik, namun terasa impulsif dan tidak membangun momentum secara berkesinambungan. Narasi yang disusun sepanjang film pada akhirnya runtuh oleh kerumitan dan intrik yang dibangunnya sendiri.

Daniel Craig kini membawa James Bond dengan cara yang berbeda dari ketiga film sebelumnya. Kebrutalan aksinya sembilan tahun lalu mulai memudar. Bersamaan dengan itu, dingin dan tajamnya Bond era Daniel Craig mulai tergerus usia, tergantikan dengan pesona flamboyan dan keluwesan ala Sean Connery. Entah mengapa, itu justru menjadi hal yang bagus. Karakter James Bond berkembang dan kini memiliki penguasaan dan pemahaman diri yang lebih dalam.

Selain Daniel Craig sebagai pusat gravitasi ceritanya, Spectre juga didukung oleh banyak aktor kelas atas. Lea Seydoux mengambil peran dambaan sebagai Dr. Madeleine Swann, salah satu Bond Girl dalam Spectre. Status yang sama disandang dengan anggun, meski singkat, oleh Monica Bellucci sebagai Lucia Sciarra. Kedua karakter memiliki kompleksitas yang sama. Lea Seydoux memberikan daya tarik yang kuat. Lewat Madeleine Swann, James Bond menemukan padanan yang tepat, seperti Vodka Martini favoritnya. Paduan yang tepat antara nikmatnya manis dan getir, dan tentunya memabukkan.

Sayangnya, tokoh Lucia Sciarra terlalu direduksi sehingga terlihat sebagai sebatas objek pemuasan. Kemampuan Monica Bellucci tidak sepenuhnya dieksploitasi karena sempitnya ruang yang disediakan oleh naskahnya. Monica Bellucci bukan satu-satunya korban dari naskah yang kurang memuaskan dalam Spectre. Aktor sekaliber Christoph Waltz juga mengalami hal yang sama dalam memerankan antagonis utama, Franz Oberhauser.

Sebagai “Penggubah semua penderitaan James Bond,” kita mendapatkan impresi yang keji terhadap Franz Oberhauser dan SPECTRE yang ia kepalai. Kesan tersebut semakin terasa ketika mereka berhadapan langsung. Saat itu, ia menjelaskan rencana besarnya, layaknya musuh-musuh klasik James Bond. Jika Anda pikir Le Chiffre sudah cukup sadis dengan “menggaruk kelamin” Bond di Casino Royale, tunggu sampai Anda lihat cara Franz Oberhauser menyiksa James Bond. Metodenya mengantar kita pada dimensi baru dari sadisme.

Kehadiran persona Christoph Waltz yang unik dengan cermat menghidupkan karakter itu. Merinding langsung menjalar setiap kali melihatnya tampil. Namun, pada akhirnya kesan itu terlupakan lantaran masalah sama, naskah yang terlalu mengulur-ulur. Meski begitu, karakter lain seperti M dan Q (Ben Wishaw) justru berhasil mencuri perhatian dan membuat kita sejenak melupakan betapa karakter lainnya begitu mudah dilupakan.

Sementara itu, tetap sulit untuk memberikan putusan yang terasa adil untuk Spectre. Daniel Craig tetap menjadi James Bond terbaik. Selain itu, Spectre didukung sederet aktor mumpuni dan gaya penggarapan yang sarat akan nostalgia. Sayang beribu sayang, cacat pada penaskahannya hampir terasa fatal. Jika James Bond adalah seorang musisi yang telah berkarir selama lima dekade, maka Spectre adalah album Greatest Hits darinya. Tidak ada yang salah dari setiap nomor di dalamnya. Namun, sebagaimana album Greatest Hits lainnya, itu sekedar kumpulan romantisme kejayaan yang telah pudar termakan waktu. Sekarang, saatnya merekam materi baru yang lebih segar. Kalau memang Daniel Craig sudah jemu memerankan agen 007, panggil Idris Elba! [WARN!NG/Kevin Muhammad]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.