close

[Movie Review] Spotlight

spotlight
spotlight
spotlight

Director                : Tom McCarthy

Cast                       : Mark Ruffalo, Michael Keaton, Rachel McAdams, Brian d’Arcy, John Slattery

Durasi                   : 128 menit

Studio                   : Anonymous Content (2015)

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Seperti Robby Robinson, yang diperankan oleh Michael Keaton dalam film ini, ada sedikit penyesalan setelah melewatkan kesempatan untuk mengulas film ini lebih awal. Tapi sudahlah, beruntungnya tingkat pencabulan anak di bawah umur tidak bertambah karena kelalaian ini. Sekarang Saya hanya bisa mengulas film ini seadanya, berharap lima tanda seru yang diberikan dapat melunasi hutang apresiasi terhadap Spotlight.

Kronologi Spotlight dimulai dengan datangnya pimpinan redaksi baru di The Boston Globe, Marty Baron (Liev Schreiber). Di saat yang sama, tim Spotlight yang dikepalai Robby Robinson sedang mencari berita yang pantas untuk mereka investigasi. Marty meminta tim Spotlight menindaklanjuti kolom yang diisi oleh seorang pengacara bernama Mitchell Garabedian (Stanley Tucci).

Dalam kolom tersebut ia menunding uskup agung Boston sengaja mengabaikan salah satu pendetanya yang melakukan tindakan pelecehan seksual. Awalnya, ide itu dipandang tidak pantas, mengingat latar belakang kota Boston yang erat dengan gereja Katolik. Bagaimanapun, tim Spotlight yang terdiri dari Michael Rezendes (Mark Ruffalo), Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams), dan Matt Caroll (Brian d’Arcy) memulai laporan investigasinya.

Mulai dari sini, kita diberi kesempatan untuk mengintip kesibukan dapur redaksi dalam menjalankan tugasnya. Jujur, itu merupakan hal yang membosankan. Bukan bagaimana, mengejar komentar dari pengacara dan menggali arsip kliping (ya, ini tahun 2001) sulit diklasifikasikan sebagai deskripsi pekerjaan impian. Memang itulah pekerjaan seorang jurnalis, setidaknya bagi jurnalis yang hebat. Tidak menarik dan mudah disepelekan, segaris dengan nasibnya. Tapi dari sini muncul berita dengan bekas yang dalam bagi pembacanya. Spotlight tidak lain merupakan bukti nyata.

Tom McCarthy sukses menonjolkan kesan membosankan tersebut. Dengan begitu, ia mengulur penonton untuk menyingkap keseluruhan plot yang digarap dengan apik. Ia meninggalkan penonton dengan keresahan tanpa banyak mendramatisir kejadian nyatanya. Hal ini juga memberikan kesan otentik yang kuat dalam Spotlight.

Duduk masalah dalam Spotlight bukanlah hal kecil, terutama di Boston. Mark Ruffalo harus diberikan kredit besar untuk aktingnya sebagai Michael Rezendes. Dengan penuh fokus ia perlahan menuntun langkah-langkah kecil penonton untuk memahami gambaran besar dari kasus ini. Meski awalnya terlihat asing, karisma Rezendes baru terlihat ketika ia sudah dihadapkan dengan berita yang ia kejar. Determinasi tersebut sempat menimbulkan prasangka atas kesehatan mental karakternya yang melipir ke ranah autis. Namun, rupanya ia hanyalah seorang ahli dalam bidangnya, dengan motivasi psikis yang kuat.

Sisi yang lebih lembut ditunjukkan oleh Rachel McAdams sebagai Sacha Pfeiffer. Terlihat kontras dalam metodenya jika dibandingkan dengan Rezendes. Sacha Pfeiffer selalu mendekatkan diri kepada setiap narasumbernya, membangun zona nyaman sembari memancing komentar. Dari karakter dia pula penonton bisa membangun simpati terhadap cerita ini, terutama dari sudut pandang para korban. Brian d’Arcy yang tidak beraksi sebanyak Ruffalo dan McAdams pun turut membantu penonton menyadari seberapa besar pengaruh berita ini terhadap warga Boston. Begitu pula dengan Michael Keaton dan John Slattery yang tak pernah lepas dari tekanan sepanjang film.

Melihat kembali ulasan film ini justru terasa seperti surat cinta kepada tim Spotlight aslinya. Namun, mereka memang pantas mendapatkannya. Sebuah kasus yang bermula dari tiga pendeta cabul berakhir menjadi pandemi global yang sengaja ditutupi oleh pihak gereja. Spotlight dengan hati-hati mengupas kasus tersebut secara otentik. Kesetiaan mereka terhadap fakta meruntuhkan sumber keimanan Boston, dan secara umum Amerika Serikat ketika mereka sedang benar-benar membutuhkannya pasca tragedi 9/11. Meninggalkan kekosongan yang hanya bisa diisi oleh kenyataan pahit. Sebagaimana sebuah produk jurnalistik berkelas, sekali menonton Spotlight akan selamanya merubah cara pandang terhadap satu permasalahan secara radikal.

[WARN!NG/Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response