close

[Movie Review] Star Wars: The Force Awakens

The Force Awakens

 

Director                : J. J. Abrams

Cast                       : Harrison Ford, Daisy Ridley, Adam Driver, John Boyega, Oscar Isaac

Durasi                   : 135 menit

Studio                   : Lucasfilm, Bad Robot Productions  (2015)

[yasr_overall_rating size=”small”]

the force awaken
the force awaken

Segala puji hanya bagi tuhan, Star Wars sudah kembali pada fitrahnya. Hal paling utama yang harus kita ingat dari The Force Awakens adalah suksesnya membayar dosa prequel trilogy yang mengecewakan. Juga yang terpenting, Bagian ketujuh dari Star Wars saga ini datang untuk menguak sisi gelap anda sebagai fanboys yang telah lama terpendam. Walau ternyata tak segampang itu untuk memberikan penilaian positif terhadap The Force Awakens.

Sudah jadi ketentuan alam kalau film ini tidak akan segera berhenti diperbincangkan seluruh umat dengan segala puji dan sembah. Anda yang tidak sepaham bisa jadi langsung dikucilkan dari masyarakat. Namun, seberapa hebat sebenarnya The Force Awakens?

Sekitar 30 tahun setelah kejadian di Return of the Jedi, kita masuk kepada masa yang tidak terlalu berbeda. Hancurnya Empire memberi ruang untuk fraksi baru bernama First Order. Sadis menjadi impresi pertama yang bisa diambil dari cara mereka beroperasi. Kesan elegan dan penuh komposisi sudah ditinggalkan bersama matinya Darth Vader dan Sith.

First Order kini berada di bawah komando Kylo Ren yang diperankan oleh Adam Driver dengan penuh amarah. Tidak sulit untuk menggambarkan karakternya. Dia adalah penggemar Darth Vader nomor satu di galaksi nun jauh di sana. Dari awal jelas terlihat kalau Kylo Ren belum cukup matang untuk menjadi antagonis utama. Kesan cengeng dan culun tak bisa dihindari setiap kali ia melepas helmnya. Usaha untuk mengimitasi karisma Darth Vader tidak pernah membuahkan hasil.

Tapi, ada potensi besar di dalam dirinya. Dengan bimbingan Andy Serkis sebagai Supreme Leader Snoke, tinggal menunggu waktu sampai Kylo Ren melampaui pencapaian Darth Vader. Kalau tidak bisa, lebih baik segera mati saja dia.

Pemain-pemain lama masih memiliki pengaruh signifikan di kubu Resistance. Walaupun banyak dari mereka sudah uzur dan harus beradaptasi dalam peran baru. Leia kini menjadi sosok pemimpin yang sudah letih berperang. Sementara bengalnya Han Solo masih bisa terlihat, bercampur dengan kebijakan yang datang bersama umurnya.

Nafas-nafas baru diwakili oleh Rey, Finn, dan Poe. Daisy Ridley, John Boyega, dan Oscar Isaac yang memainkan peran tersebut tampil menjanjikan dalam petualangan pertama mereka di semesta Star Wars. Sehingga mudah bagi penonton untuk segera memberi tempat pada karakter-karakter baru ini. Regenerasi berjalan mulus.

Oh, lalu dimana pula keberadaan Luke Skywalker sekarang? Tidak banyak yang tahu. Mendengar apa yang terjadi padanya, muncul sedikit harapan kalau pentolan Jedi satu ini menyerah dan bergabung pada Dark Side. Tentunya hal itu akan memperkuat ironi dan meneruskan tradisi keluarga Skywalker. Sayang, iman Luke masih terlanjur kuat. Dengan kata lain, Disney yang kini menguasai Lucasfilm memang lemah dan tidak bernyali! Tapi, Luke masih menjadi pendorong utama dalam keberlanjutan Star Wars, dan tradisi keluarga besar Skywalker masih dilestarikan.

Setengah bagian pertama The Force Awakens tidak akan berhenti membuat penggemarnya menyeringai. Dari belakang layar, J. J. Abrams sukses membawa The Force Awakens kepada tempat sepantasnya. Abrams setia pada formula asli George Lucas yang melebur mitos, fantasi dan nilai luhur dengan pembawaan ringan.

Tapi, kesetiaan itu pula yang tidak memberikan kesan pembaruan dalam The Force Awakens. Sekalinya Abrams mengambil langkah berani, langkah itu berujung sia-sia dan tidak sepadan dengan apa yang harus dikorbankan lantaran babak akhir yang lemah. Bagaimana bisa Rey tinggal menutup mata untuk menguasai ajaran Force dalam sekejap dan melibas Kylo Ren? Jujur, hal seperti ini meninggalkan rasa kecewa. Tapi, sekarang kita hanya bisa sabar dan tawakal. Semoga saja semua pengorbanan itu memberi makna yang lebih besar di dua film selanjutnya.

Di tangan J. J. Abrams, The Force Awakens menjadi mesin waktu sarat nostalgia. Dari tujuh film Star Wars, The Force Awakens bukan yang terbaik. Tapi film ini melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Lagi pula, Star Wars tidak perlu menjadi yang terbaik untuk tetap dicintai. Cukup tetap menjadi Star Wars, yang kalau dipikir, sedikit tidak adil.

Coba lihat lagi paragraf-paragraf di atas. Selalu tersirat pembelaan untuk tetap mencintai Star Wars. Bahkan ketika itu berarti harus tabah melihat salah satu karakter paling definitif dihabisi tanpa tujuan tersendiri. Terasa seperti sekedar plot device untuk memancing emosi. Tidak akan pernah ada kata maaf untuk keputusan itu!

Sejalan dengan semangat A New Hope, The Force Awakens (kembali) menuntun kita menuju semesta ekspansif nan fantastis dengan kemungkinan-kemungkinan yang megah. Perang abadi antara Jedi yang aneh dan Sith yang obsesif mungkin tak lagi menjadi penekanan. Tapi Oedipus complex dan keluarga disfungsional masih menjadi bagian tersendiri yang unik untuk dibedah di The Force Awakens. Abrams sudah sukses mengerjakan pekerjaan rumahnya. Kini tanggung jawab diemban Rian Johnson dalam menggarap Episode VIII. Tentu, masa depan selalu terlihat cerah untuk Star Wars.[WARN!NG/Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response