close

[Movie Review] Suicide Squad

Suicide Squad

Suicide Squad

Director: David Ayer

Cast: Margot Robbie, Will Smith, Viola Davis, Jay Hernandez, Cara Delevingne

Durasi: 123 menit

Studio: Warner Bros. Pictures (2016)

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

 

Sebelum mulai membicarakan Suicide Squad, mari memutar waktu beberapa bulan ke belakang dan mengingat upaya nekat DC lainnya untuk bersaing dengan Marvel Cinematic Universe. Baru-baru ini saya menyadari kalau pertarungan terbesar Batman v Superman tidak melibatkan kedua tokoh titulernya, tapi antara kritik, fanboys, dan orang-orang awam yang sekedar mengharapkan hiburan layak. Cela dan makian saling berbalas dan teori konspirasi Marvel sempat meramaikan forum-forum film. Sampai akhirnya ancaman kematian dilayangkan para ultras DC kepada penulis yang memberikan ulasan buruk terhadap Batman v Superman.

Ben Affleck yang awalnya dikira sebagai kelalaian departemen casting justru menghidupkan karakter Batman dengan beringas, dan sah saja untuk dinobatkan sebagai versi terbaik. Di sisi lain, saya tak hentinya bersumpah serapah dan mengutuk siapapun yang mencetuskan nama Martha kepada tokoh ibu Bruce Wayne dan Clark Kent. Rilisan DVD Batman v Superman dengan ekstra durasi 30 menit dan terbebas dari kematian kreativitas bernama PG-13 sedikit merapihkan motif karakter dan mempermulus plot yang berantakan.

Akhirnya, murka dan pesimisme terhadap DC Extended Universe cuma bisa dipadamkan oleh keyakinan kalau Suicide Squad pasti akan lebih baik. Saya duduk di bioskop dengan antusiasme tinggi. Sekitar dua jam berlalu, impresi campur aduk seperti yang didapat setelah pertama kali menyaksikan Batman v Superman kembali hadir. Saya merasa tertipu oleh diri sendiri, dan DC. Sedihnya lagi, saya tidak bisa langsung menerima kenyataan dan menghabiskan waktu berjam-jam mengumpulkan sebanyak-banyaknya alasan untuk memuji Suicide Squad. Sebagian saya catat sambil mengantri tiket pertunjukan berikutnya.

Masalah pertama yang diderita Suicide Squad, dan kebanyakan film blockbuster belakangan ini, adalah trailer yang lebih mengumbar ketimbang kostum Enchantress. Bagi Anda, kaum puritan yang senantiasa menjaga pandangan dari trailer tunasusila, Suicide Squad mengisahkan sekelompok penjahat kelas berat yang tergabung dalam kesatuan Task Force X. Mereka dimanfaatkan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang terlalu kotor untuk disentuh langsung pemerintah.

Task Force X adalah buah ide dari Amanda Waller, seorang aparat pemerintahan bertangan dingin dan serba manipulatif. Bermacam bentuk pengungkilan disiapkan untuk memaksa orang-orang mengikuti kehendaknya. Ia menugaskan Rick Flag, seorang tentara teladan, dan menanamkan bom di leher begundal-begundal Task Force X agar mereka tetap jaga sikap dan tidak berlaku macam-macam.

Ragam keahlian khusus yang mereka kuasai meliputi jebolan pramuka ahli tali-temali sampai antropolog yang mendapatkan kemampuan sihir surealis setelah kerasukan arwah kuno. Ada pula Deadshot, fanatik senjata api paling berbahaya sedunia, dan El Diablo, Hispanik yang menganggap kemampuannya untuk menyemburkan api sebagai kutukan. Benar-benar tidak tahu terima kasih!

Atraksi utama datang dari dr. Harleen Quinzel, alias Harley Quinn, alias Daddy’s Little Monster, alias fantasi seksual yang terlalu menggiurkan sekaligus mengerikan untuk dibayangkan. Mantan psikiater Arkham Asylum ini menyerahkan seluruh kewarasan dan hidupnya setelah tergila-gila pada Joker. Di balik pesona boneka Barbie bejat yang selalu ditampilkan, Harley Quinn menyembunyikan kompleks “damsel in distress” tingkat lanjut.

Dalam sekilas adegan, tergambar Harley Quinn bersandar di tembok dikelilingi beberapa sipir penjara. Ia meringkuk dan memeluk dirinya sendiri, menutupi tubuhnya yang basah kuyup. Mengambil referensi dari banyaknya film artistik yang sering saya cermati, kemungkinan terbesar Harley Quinn baru saja atau akan segera mengalami sebuah bentuk pelecehan kejam.

Namun, Harley Quinn justru menyeringai lebar, seakan menegaskan jika konsep Kekerasan Dalam Rumah Tahanan atau pelecehan secara umum tidak ada dalam benaknya. Maka dari itu, ia imun dari segala bentuk objektifikasi yang banyak dikeluhkan sebagian orang setelah menyaksikan Suicide Squad. Argumen mengenai objektifikasi berlebihan karakter Harley Quinn baiknya disampaikan dengan menjilat jeruji penjara bertegangan tinggi.

Margot Robbie berhak mendapatkan sorotan utama lewat perannya sebagai Harley Quinn. Ia tampil mentereng sekaligus menyeleweng sebagai versi lebih girang dari Gogo Yubari, ditafsirkan ulang lewat majalah stensilan tahun 80-an. Setara dengan Batman dalam Batman v Superman, Harley Quinn adalah satu-satunya karakter yang pantas dilempari karangan bunga di akhir pertunjukan.

Oh, lalu bagaimana kabarnya Joker yang kini diperankan si aktor metodis Jared Leto? Sebaiknya jangan menetapkan ekspektasi yang terlalu tinggi. Tidak ada masalah tentang interpretasi “gangsta” yang digunakan Jared Leto sebagai pondasi karakternya. Sayangnya, waktu yang diberikan kepada si badut kriminil hanya bisa dialokasikan untuk mengelus wajah-wajah tertentu. David Ayer tidak memberi signifikansi naratif kepada Joker, kecuali dalam flashback dan subplot yang benar-benar terlepas dari arus narasi utamanya. Harus diakui dengan berat hati, Joker hanyalah ornamen cantik dalam mosaik abstrak Suicide Squad.

Beberapa karakter diperkenalkan secara ringkas namun tetap menyenangkan di awal film, lengkap dengan raungan variatif musik-musik kontemporer yang mengiringi. Saat ada backstory penting yang harus diinformasikan, David Ayer gampang saja menarik penonton menelusuri geliat riak-riak memori. Teknik yang digunakan berkali-kali tanpa perhatian khusus sampai terasa membosankan.

Dimaksudkan sebagai penawar kisah-kisah heroik penuh inspirasi, Suicide Squad justru memperlunak setiap karakter potensial hingga akhirnya berubah menjadi kisah heroik penuh inspirasi itu sendiri. Tempo narasi terus dijaga mengalir kencang, durasi dua jam selesai begitu saja. Biasanya, ini berarti naskah ditulis dengan proporsional dan tidak bertele-tele. Beda kasus dengan Suicide Squad, yang teringat hanyalah potongan-potongan gambar, karakter ini sedang berada di sana melakukan apa, dan seterusnya. Tapi mengapa? Tidak ada struktur naratif yang cukup kuat mengikat. Sulit dipercaya kalau naskah Suicide Squad datang dari penulis End of Watch dan Fury.

Setelah beberapa kali menonton Suicide Squad dan Batman v Superman, mulai terlihat penyakit utama DC Extended Universe. Terkadang muncul sederetan scene yang terlihat sudah mapan, namun Anda akan bingung merangkai kronologinya. Kemudian scene itu selesai dengan begitu saja, tanpa meninggalkan konsekuensi jelas. Saya curiga kalau nantinya akan ada lagi Suicide Squad versi R-rated, dengan tambahan durasi sekian waktu untuk menambal lubang-lubang krusial pada plot. Jika benar, akankah ini selamanya menjadi kebijakan produksi DC? Film diproduksi dengan janji kebebasan kreativitas, hanya untuk dikebiri sebelum rilis teatrikal dan menyisakan serangkaian gambar-gambar berlubang. [WARN!NG/Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.