close

[Movie Review] Tana Mama

14210597871080708600
Tana Mama
Tana Mama

Director: Asrida Elisabeth

Seorang wanita berkulit gelap merunduk di tengah ladang. Kakinya yang tidak beralas melesak ke tanah hitam yang gembur. Dengan tangan telanjang, ia menggali. Sejurus kemudian, sepotong ubi ia cabut dari tanah. Garis mukanya yang keras menyimpan naluri keibuan tinggi. Anaknya perlu makan, dan ubi itu ia ambil di kebun adik iparnya. Ia adalah Halosina, yang beberapa waktu kemudian dianggap mencuri dan harus menghadapi ancaman hukum, sampai harus mengungsi ke desa tetangga.

Lalu kiranya penghakiman macam apa yang pantas diberikan kepada Mama Halosina? Bagi kalian yang menjunjung laku disiplin hukum bisa jadi tindakan tersebut salah. Sedang pembenaran pasti muncul dari kalian yang punya sisi humanis lebih banyak. Tapi tujuan film ini memang bukan untuk mencari penghakiman benar-salah atas tindakan itu. Hidup tidak pernah begitu hitam-putih, ada seribu atau mungkin sejuta gradasi abu-abu di antaranya. Tanah Mama justru menjadi menarik jika kita mengulik ruang abu-abu di antara penghakiman itu.

Dokumenter berdurasi 62 menit ini adalah debut sutradara muda Asrida Elisabeth yang dirilis 8 Januari 2015 lalu. Berlatar di Papua, Tanah Mama merekam perjuangan seorang ibu beranak empat bernama Halosina saat terkena masalah karena dianggap mencuri ubi di ladang adik iparnya. Ini tidak akan dilakukannya jika ia punya ladang sendiri. Di Wamena, biasanya suami bertugas membukakan lahan yang kemudian akan ditanami oleh sang istri. Tapi tidak, Hosea –suaminya— menelantarkannya setelah menikah lagi. Hosea pun tidak melakukan pembelaan apapun mengenai kasus istrinya. Akibatnya, Halosina sampai memilih pindah ke desa sebelah, Anjelma, karena di Huguma dia dianggap pencuri.

Meskipun begitu, film ini tidak memperlihatkan Mama Halosina sebagai protagonis yang patut dikasihani, tapi justru ketangguhannya patut dipuji. Walaupun bisa dibilang terjebak dalam sistem patriarki yang dalam kasus ini merugikan, Halosina menunjukkan ketangguhannya sebagai perempuan mandiri.

Banyak wacana tentang feminisme yang hadir untuk merespon film ini. Selain fakta bahwa seluruh kru yang dibawa sang produser Nia Dinata adalah perempuan, jalan cerita Tanah Mama memang sangat perempuan-sentris. Di banyak tempat, mungkin feminisme kerap berkoar tentang representasi perempuan merdeka, pemberdayaan dan juga hak-hak kesetaraan lain. Wacana ini memunculkan imaji bahwa perempuan yang utuh adalah mereka yang berpendidikan, memperoleh pekerjaan, hidup layak, bebas berpendapat, dan segala hal lain. Sedang di Papua sana, setidaknya bagi Mama Halosina yang mungkin tidak bersekolah, hanya makan ubi, tinggal di Honai kecil, dan dipoligami, yang ia butuhkan untuk jadi perempuan utuh adalah Tanah. Tanah tempat ia bisa berladang dan memberi makan anak-anaknya, tempat ia bisa melakukan panen masal dan menjadi bagian dari desanya. Tempat ia berusaha menjadikan utuh perannya sebagai perempuan Wamena.

Namun sayang sekali, narasi yang dihadirkan film ini kelewat sederhana dan kabur secara kontekstual. Seolah semesta Halosina hanya terkungkung pada geografis Anjelma-Huguma-Wamena, tanpa diperlihatkan relasinya dengan dunia luar yang bisa memberikan bingkai dan keterhubungan. Tidak ada ‘negara’ yang hadir dalam film ini ataupun dalam hidup Halosina. Indonesia yang mengaku-akui Papua sebagai bagian darinya tidak tampak ujung hidungnya. Hanya ada gereja dan transaksi rupiah di pasar Wamena yang bisa dijadikan bingkai sosial-ekonomi. Satu-satunya jarak geografis yang tampak nyata juga adalah perjalanan jalan kaki Halosina selama lima jam dari Anjelma ke Wamena. Seolah cerita Tanah Mama ini terjadi bukan di tempat yang sama dimana empat kepala anak SMA dilubangi dengan pistol oleh oknum berseragam, ratusan warga dibunuh oleh militer, dan gunung emasnya dikeruk habis-habisan.

Semesta film ini begitu terisolasi. Padahal cerita tentang Halosina bisa dilihat sebagai narasi paling sederhana, bagian dari rentetan ketidakberesan sistem yang lebih besar, yang bergerak nun jauh dari hanoi Halosina yang nyaman. Bagaimana bisa sepotong ubi membawa Halosina ke negosiasi alot dengan kepala suku dan denda 500 ribu? Kenapa Hosea lebih memilih memburu pekerjaan di wilayah urban ketimbang membukakan istrinya lahan?

Seandainya diberi kerangka yang lebih lengkap, penonton akan bisa menelusuri kasus ini dalam konteks masalah sebuah negara, misalnya. Sayang sekali rantai sumber masalah seolah berhenti di kelalaian Hosea karena tidak berlaku adil kepada kedua istrinya. Padahal menurut saya realitanya tidak sesederhana itu.

Namun walaupun begitu, Tanah Mama yang direkam tanpa satupun adegan wawancara menghadap kamera memang membuat film ini terasa mengalir. Dan dalam kepala saya, bertambah satu lagi daftar imaji perempuan tangguh setelah Nyai Ontosoroh dan barisan ibu-ibu di Rembang: Mama Halosina. Mereka yang sama-sama berjuang demi tanah, demi pijakan hidup mereka. [Titah Asmaning]

*artikel ini pernah dimuat di WARN!NG Magz edisi#6

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response