close

[Movie Review] Tangerine

Tangerine

Sutradara        : Sean Baker

Cast                  : Kitana Kiki Rodriguez, Mya Taylor, Karren Karaguilian, James Ransone

Durasi              : 88 menit

Studio              : Magnolia Pictures (2013)

Tangerine

Kebanalan yang ditawarkan modernitas dibalikkan secara cerdik oleh adanya film ini. Digarap dengan iPhone 5s sebagai piranti ambil gambar, serta iringan musik digital dari seniman soundcloud, tidak menjadikan film ini serba praktis dan melompong. Skripnya juga sangat sederhana, tidak ada dialog eksistensialis memusingkan, komedinya pun begitu jalanan dengan jejalan sumpah serapah. Justu itu yang bikin Tangerine sangat mudah dinikmati dan ditertawai, tidak pernah terbayangkan kalau cerita perjalanan setengah hari seorang transgender kulit hitam yang geram mencari selingkuhan pacarnya bisa jadi semagnetis ini.

Adalah Sin-Dee Rela, transgender kemayu yang baru saja keluar dari penjara, menyusuri jalanan Los Angeles ditemani Alexandra, sahabatnya. Pemilihan aktor transgender yang memang langsung diambil dari jalanan daerah tersebut merupakan nilai plus, mereka jelas menjalankan perannya tanpa tedeng aling-aling. Melalui film ini kita tidak digiring untuk bersimpati pada perjuangan penegasan identitas kaum trans seperti apa yang berusaha diwacanakan oleh The Danish Girl, melainkan diajak menertawai situasi terpinggirkan mereka yang agaknya sudah jadi barang lumrah.

Prostitusi jalanan hingga transaksi obat-obatan terlarang adalah dunia yang dikonstruksikan buat mereka di tengah nihilnya pilihan. Bukan rahasia kalau akses terhadap pekerjaan kerah putih dan posisi tertentu masih dianggap terlalu suci untuk dijamah oleh kaum trans selaku manusia kelas tiga—setelah perempuan dengan vagina di urutan dua. Situasi rentan inilah yang coba dibuat parodinya oleh sutradara Sean Baker.

Ia paham betul dengan keterbatasan ruang gerak orang-orang seperi Sin-Dee dan Alexandra, maka kemudian ia ciptakan sendiri semesta ceria penuh tawa dan haru bahagia. Dibuatnya konflik yang sepele: pelanggan yang tak mau bayar servis libido, supir taksi salah pilih pramuria yang dikira masih berpenis, dan berbagai selorohan lainnya. Tawa memang efektif buat melenakan pikir. Tapi tidak bagi Sean, dengan lelucon satirnya, sutradara spesialis film independen ini tidak luput mengeksekusi misi. Ia mengekspos kaum trans dengan segala polah jenakanya, berupaya untuk mendekatkan mereka pada penonton yang kiranya masih saja memandang dengan berjarak.

Latar area Hollywood yang terik jadi tamparan tersendiri bagi yang menggangap jika American dream ialah milik semua orang. Di balik kemasan menjanjikan nyatanya ekspektasi muluk-muluk mandi dolar bersepuh warna kehijauan itu menyimpan realitas yang tak sepadan. Banyaknya seliweran tokoh beridentitas imigran dengan pekerjaan manual bisa dianggap bukti atau bahkan sentilan kalau negara sedigdaya Amerika Serikat sendi-sendi ekonominya masih ditopang oleh buruh migran yang kemampuan ngomong Inggrisnya bahkan belum kelewat lancar. “Los Angeles is a beautifully wrapped lie”, begitu katanya.

Kalau Jared Letto atau Donny Damara pernah diapresiasi atas keluwesannya memerankan kaum trans, Sean Baker punya alasan tersendiri buat tidak pakai jasa aktor laki tulen. Sikap inilah yang berhasil mengukuhkan Tangerine sebagai sinema penting bagi kalangan transgender. Sean berpendapat bahwa tidak ada salahnya untuk mengkasting langsung para waria, mengingat mereka juga kesulitan menghidupi diri. Dua pemeran utama, Mya Taylor dan Kiki Kitana Rodriguez, sendiri mulanya adalah seorang pekerja seks. Meski terasa nyata, hebatnya Tangerine mampu memanifestasikan keseharian pekerja seks transgender di distrik merah Los Angeles dengan suasana menyenangkan, didukung filter kejingga-jinggaan yang efeknya mampu menghaluskan kerasnya hidup di jalanan. Praktek kekerasan, makian, cekcok, umumnya adalah unsur peningkat tensi dalam sebuah cerita, tapi beda dengan apa yang terjadi pada Tangerine. Ketiganya adalah bahan bakar gelak tawa.

Selain kisah persahabatan dua pekerja seks transgender tadi, ada paralel cerita lain yang berpusat pada seorang supir taksi asal Armenia. Di bawah kungkungan adat dan utamanya ibu mertua yang konservatif, Razmik (Karren Karagulian) punya pendapat sendiri soal Los Angeles. Di sanalah surga baginya, kala ia bisa jujur dengan seksualitasnya tanpa dibebani moral sebagai seorang abnormal kafir. Serupa dengan para kisah tokoh-tokohnya, Tangerine adalah gebrakan baru untuk meredefinisi kata ‘wajar’ yang seringnya kerap mengabur di spektrum yang terlampau luas. Mereka, penjajah jalanan yang disebut Travis Bickle sebagai “whores, skunk-pussies, buggers, queens, fairies, dopers, junkies”, adalah sampah bagi kebanyakan, namun kacamata lain selalu tersedia untuk digunakan, Tangerine bisa jadi salah satunya. [WARN!NG/Adya Nisita]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response