close

[Movie Review] The Assassin

TheAssassin

Director           : Hou Hsiao-Hsien

Cast                  : Shu Qi, Chang Chen, Zhou Yun, Satoshi Tsumabuki

Durasi              : 105 menit

Studio              : Central Motion Pictures

[yasr_overall_rating size=”small”]

The Assassin
The Assassin

Dibanding tradisi lakon kepahlawanan ala Eropa, atau gunslinger yang erat dengan genre Western, Wuxia mengandung nilai-nilai yang tedas tentang individualisme. Bisa dilihat pergumulan batin dalam diri para jagoan ketika mereka melibas ratusan musuh dengan. Wuxia bukan sekedar terbang mondar-mandir beradu jurus, atau kekerasan superfisial. Ribuan tahun tradisi Wuxia mengakar di Cina, semangat ini tidak pernah luntur dari setiap kisahnya. Baik disampaikan dalam bentuk literatur, teater, ataupun film.

Hou Hsiao-Hsien tentunya sudah paham dengan esensi genre ini ketika menggarap The Assassin. Bisa dimengerti kalau sebagian orang langsung membangun ekspektasi akan sebuah tontonan penuh aksi dengan mendengar judulnya saja. Tapi, jauh dari itu, elemen kekerasan hampir nihil sepanjang durasi The Assassin.

Tenang, Nie Yinniang, si jagoan utama dalam The Assassin, tetap dapat kesempatan berunjuk taji. Entah apa aliran bela diri yang ia kuasai, yang jelas caranya bergerak tak kalah anggun dengan lulusan Akademi Balet Vaganova. Di saat yang sama, Nie Yinniang begitu efisien sebagai seorang pembunuh. Bahkan target pertamanya di awal film kurang tanggap untuk menyadari datangnya kematian di tangan Nie Yinniang.

Kemudian pergumulan batin itu muncul ketika Nie Yinniang enggan membunuh target selanjutnya lantaran sang target sedang bersama anaknya. Dilema moral yang dialam Nie Yinniang memaksa Jiaxin, gurunya, memberi “pelajaran” keras. Nie Yinniang dikirim ke distrik Weibo untuk membunuh Tian Ji’an, yang ternyata masih punya hubungan keluarga.

Secara perlahan, dan terkadang melantur bosan, latar belakang Nie Yinniang terkuak. Secara tidak langsung juga plot berjalan mulus lewat monolog sekian menit dari seorang karakter. Untuk sebuah film yang begitu terus terang melancarkan narasinya, The Assassin terkadang bisa begitu membingungkan. Tapi bukan berarti kisahnya kurang menarik atau kekurangan konteks. Seperti jagoan Wuxia yang harus meniti ribuan anak tangga sambil memanggul air ketika berlatih, butuh kesabaran dan determinasi tahan banting untuk menuntaskan The Assassin.

Sebagai pengganti aksi bela diri yang terkadang melawan hukum alam, sinematografer Mark Li Ping Bing menyusun shot demi shot yang menakjubkan. Setiap shot terasa seperti lukisan klasik Cina yang dikurasi rapih di museum. Shu Qi yang memerankan Nie Yinniang juga begitu apik untuk dijadikan pusat kecantikan The Assassin. Bukan berlebihan, tapi memang tidak ada satu pun shot yang terlihat sedikit di bawah kata indah dalam The Assassin.

Sekali lagi Hou Hsiao-Hsien memberikan tontonan kelas dunia dengan The Assassin. Jangan segera menyerah kalau anda mulai menguap ketika menontonnya pertama kali, atau kedua. Memang, film ini bukanlah sekedar sensasi ringan dan menghibur. The Assassin adalah kitab terbaru genre Wuxia. Sebaiknya persiapkan diri dan kosongkan segala harapan dari judul film dan posternya yang sangar. The Assassin berhasil menyuling esensi Wuxia dan mengemasnya dengan indah. Ah, kata indah saja rasanya kurang untuk merangkum film ini secara keseluruhan. [WARN!NG/Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response